Home »
Bahasa Rasa
» Bahasa Rasa (Part 1)
Bahasa Rasa (Part 1)
Posted by Unknown
Posted on 07.52
with No comments
Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay
*****
Akankah semua yang terkira sempurna ? Menjadi suatu hal yang berbanding terbalik ? Menjadikan hal tersebut sebuah persaingan ! Persaingan dingin...
********
Kedua lelaki itu sedang asyik menghabiskan waktu luangnya dengan bermain bola bundar berwarna orance itu. Begitu lincah gerakan setiap gerakan yang mereka atur sedemikian rupa agar terlihat lebih santai karena mereka bermain bukan dengan emosi tetapi suatu kehangatan tali persahabatan. Canda tawa dan seringaian yang dilemparkan keduanya sangat begitu renyah didengar, taman ini taman kompleks yang selalu menjadi saksi persahabatan mereka sejak dulu disinilah mereka selalu bersama.
Melakukan hal yang sama sangat begitu menyenangkan apalagi mereka salingmemotivasi satu sama lain, lebih seperti sahabat mengarah kesebuah persaudaraan yang selalu hangat.
"Udah dulu Vin, sumpah gue capek." Lelaki bertubuh tegap kurus dan berkulit kuning langsat itu menghentikan permainannya dan meminggir ke pinggir lapangan diikuti oleh lelaki yang sama usianya dengannya lebih berisi dan memiliki kulit putih Asia. Mereka lalu meneguk air mineral yang telah mereka siapkan sebelum ke taman kompleks ini.
"Gue rasa lulus nanti bakal lanjut ke Spore." -Alvin- perawakan asia itu langsung menoleh kearah sahabatnya -Rio-. Lalu mengangguk tanpa menjawab apapun dari kalimat Rio karena ia rasa Rio tidak mengisyaratkan pertanyaan disana.
"Seenggaknya saat gue nggak ada untuk beberapa saat, loe lebih terbuka Vin." Rio kembali meneguk air minumnya, Alvin tersenyum getir. "Gue nggak bisa janji, dengan kesendirian mungkin lebih baik buat gue." Ia menatap kearah seberang lapangan, diseberang sana sengaja dibuat seperti taman bunga kecil walaupun tidak luas tapi mampu menjadi daya tarik sendiri untuk menikmati taman kompleks ini, banyak berbagai macam warna bunga disana.
Rio menghela nafas berat, ini Alvin keras kepala dan terlalu menutup diri dengan lingkungan sifatnya yang terlalu cuek dan dingin menjadikannya seperti ini. "Mungkin loe bisa kalau ingin belajar mencintai dan dicintai seseorang."
Alvin yang saat itu sedang meneguk air minumnya langsung menyemburkan, menganggap kalimat Rio tadi seperti racun bagi minumannya. "Kalimat loe nggak ada yang bagusan dikit ?." Menatap sinis kearah Rio, sedang Rio tertawa geli melihat kelakuan konyol Alvin.
"Balik yuk, gue disuruh ke sekolah agak sorean. Mumpung masih siang gue mau istirahat sebentar." Rio mulai beranjak, Alvin mengkerutkan keningnya. "Kenapa loe ? Natap gue segitu nafsunya ." Lemparan bola basket menuju kearah Rio namun dengan sigap lelaki itu menangkapnya
"Mau ngapain disekolah ? Setahu gue nggak ada ekskul."
"Emang nggak ada." Rio kembali melempar kearah Alvin, dan Alvin mulai bangun dari duduknya menuju tengah lapangan kembali.
"Ketua Tim Chilideers ngajak rapat sama ketua tim basket." Rio pun mengenakan ranselnya, "yah ! Loe tahu sendirilah si Zahra orangnya gimana."
"Perlu gitu loe takut sama dia ?." Pertanyaan Alvin membuat Rio memutar kedua bola matanya. "Yang ada gue banci takut sama mak lampir kayak dia, gue cuma mau ngikutin arah tantangannya aja."
"Seenggaknya gue pasti'in dia nggak usah repot-repot harapin apa yang seharusnya nggak dia harapin." Rio sudah sampai kearah Alvin, lalu menepuk bahu sahabatnya itu pelan.
"Loe nggak usah khawatir, gimana pun taktiknya dia buat dapetin gue, langkahin dulu mayat loe baru bisa dapatin gue." Rio langsung ngebirit lari karena Alvin yang sudah ancang-ancang melempar bola basket kearah Rio, tapi ternyata meleset Rio sudah hilang dibalik tembok jalan kompleks. Dan bolanya ? Astaga kemana bola bundar orance miliknya itu ?
Alvin merutuki Rio yang sangat menyebalkan, jadilah dia mencari-cari bola basket miliknya disekitar taman itu. Mencari-cari disemak-semak bahkan diarea taman bunga mini disana,
"hay ganteng, loe lagi nyari bola ini ya ?." Alvin terlonjak kaget lalu menoleh kearah belakang, mendapati bolanya berada ditangan mungil seorang Gadis manis, matanya yang bulat menyimpan kemarahan disana membuat Alvin bergidik ngeri tapi ia langsung memasang ekspresi datar dan dingin.
"Gue rasa loe bisa kembali'in bola gue sekarang." Mata gadis itu langsung melotot saat mendengar kalimat dari Alvin barusan, Alvin tersenyum geli melihat ekspresi gadis itu yang sangat tidak diduga-duga oleh Alvin, biasanya siapa pun akan takut jika Alvin sudah menyemburkan kata-kata dingin seperti tadi tapi Gadis ini malah menantangnya. "Apa loe bilang tadi ?." Ucap Gadis itu tajam
"Loe budek ? Kalimat gue sakral untuk diulang." Balas Alvin sengit, yah ! Alvin duga gadis ini memang menantangnya.
"Loe nggak lihat hah ? Dijidat gue ada apa ? BENJOL woyyy BENJOL, dan sekarang loe bilang minta nih bola kembali ? Sengak amat loe jadi cowok." Alvin menatapnya datar ia bertambah geli saat mendapati Bejolan dikepala Gadis itu, ada rasa kasihan dan ingin meminta maaf namun Alvin terlalu banyak makan gengsi.'siapa suruh tuh bola nempel dijidat loe.' Seringai Alvin didalam hati
"Cuma benjol kan ? Nggak ada yang parah seperti kepala loe harus dijahit atau diganti sama kepala sapi ? So, sini'in bola gue." Rahang Gadis itu mengetat kemarahan dan kebencian benar-benar seperti bumerang, "loe mau bola loe ya ganteng ?." Seketika ekspresi gadis itu melembut begitu manis dan Alvin terhipnotis, senyumnya yang manis ia lemparkan kearah Alvin.
"Ini bola loe ganteng," Gadis itu menyodorkan bola kepadanya, "eitsss tunggu dulu ganteng, gue punya hadiah terbaik buat loe karena loe udah ngasih hadiah ke gue seperti ini." Gadis itu tersenyum penuh arti kepada Alvin lalu jemarinya menunjuk kearah benjol dijidatnya. Alvin hanya memperhatikan tingkah polos Gadis itu yang sedang meraba-raba tas selempangnya.
*Cusssss*
Bola bundar berwarna Orance ditangan mungil gadis itu seketika kempis perlahan, membuat Alvin melotot dan syok melihat bolanya hampir mati kehilangan oksigen secara perlahan. Tidak ! Dia tidak boleh mati secepat itu." Batin Alvin. Alvin menatap Gadis itu dengan sangat marah, dibalasnya tatapan Alvin dengan tersenyum senang serta senyuman yang begitu manis.
"Gue rasa bola loe udah mati nih." Gadis itu mendekatkan telinganya pada bola yang ia pegang. Seperti dokter yang memeriksa pasiennya, gadis itu nampak berpikir . "Iyah, dia sudah banyak kehilangan darah ? Eh maksud gue kehilangan banyak oksigen, gue letakin disini aja kali ya." Gadis itu dengan wajah tanpa berdosanya meletakkan bola orance itu dilapangan dekat ia berdiri. "Gue rasa dikubur lebih bagus loh ganteng." Ia menatap mata tajam sipit Alvin, lalu menyeringai penuh kemenangan.
"Tapi sebelumnya." Gadis itu langsung menginjak tanpa ampun bola orance yang tergeletak tak berdaya dilapangan, Alvin masih kuat menahan emosinya kepalan tangannya begitu kuat untuk menahan emosi yang mungkin siap meledak. Gadis itu menatapnya lagi, kali ini tatapannya bukan manis dan lembut melainkan tatapan kemarahan juga kebencian terhadap Alvin, tidak perduli dengan Alvin yang siap menerkamnya hidup-hidup.
"Loe ganteng-ganteng tapi nggak punya pendirian tanggung jawab ya ? Loe lempar tuh bola asal, dengan seenaknya minta tuh bola kembali tapi loe tahu loe makan korban atas bola itu. Sebelum loe ngelakuin hal yang sama gue duluan yang nyadarin loe gimana rasanya nggak dihargain." Alvin tertegun, Gadis itu melangkah pelan kearahnya. Alvin baru menyadari Gadis ini berbeda sangat berbeda dengan rambut yang dikuncir asal potongan celanan jeans robek-robek T-shirt merah yang ia kenakan sangat mendominasi bahwa Gadis ini memang bukan Gadis yang sering Ditemuinya. Alvin meneguk liurnya susah, gadis itu menatapnya sinis.
"Punya modal tampang doang loe, sayangnya hati loe nggak bermodal." Gadis itu pun membalikkan tubuh mungilnya untuk pergi, tapi tunggu ! Tangannya ditahan dan refleks ia pun menoleh. "Maaf."
"Maaf." Alvin tertunduk tak berani melihat mata yang saat itu mungkin mencemoohnya. "Apa loe bilang tadi ?." Gadis itu tampak tak puas, karena Alvin mengatakannya hanya seperti gumaman yang nyaris tak terdengar, tapi Gadis itu tahu.
"Gue minta maaf." Ada ketulusan disana, ia mengangkat alisnya sebelah nampak berpikir lalu mengangguk pelan. "Baguslah loe sadar, gue maafin loe kok." Balas Gadis itu seolah-olah nada bicaranya bahwa kejadian tadi tak pernah terjadi, Alvin menatapnya dan tersentum. "Thanks, gue Alvin." Alvin menjulurkan tangannya dan disambut Gadis itu, "Gue Alyssa Saufika Umari cukup panggil Ify." -Ify- Gadis itu tersenyum ramah membuat Alvin kembali tertegun." Hey ! Ada apa ini ? Kenapa gue bisa terbuka gini sama cewek yang jelas-jelas baru gue kenal beberapa menit ini." Batin Alvin
*********
Entahlah...
Terkadang yang terjadi selalu menjadi sebuah masalah, masalah yang terkadang datang diwaktu yang tidak tepat, begitu pun keadaannya. Tuhan pastikan dititik yang tersembunyi tak ada yang tahu, itulah keberuntungan !!
Rio melangkah santai menuju Aula, yang ia pastikan tidak ada orang disana. Saat ia melangkahkan kaki memasuki area lorong koridor menuju Aula saja tak ada orang satu pun. Taktik untuk rapat ? Rio mencemooh alasan klasik itu, jika memang ingin rapat seluruh anggota juga tampak hadir bukan hanya ketua yang datang.
"Dia bego' atau kehabisan akal ?" Gumam Rio, lalu menghela nafasnya. Ia mulai memasuki Aula dilihatnya kosong, tak ada orang disana. Rio pun menuju kursi depan Aula agak disudut. Menunggu sebentar ? Mungkin orang itu masih dijalan.
"Rio." Sebuah panggilan lembut berada diambang pintu Aula, Rio menoleh dengan refleks. Keningnya berkerut, yang berada diambang pintu itu pun langsung menghampirinya.
"Zahra kecelakaan." Rio terkejut bukan main, ada rasa curiga apakah ini kebetulan musibah ? Atau rencana Zahra saja ?. "Gue serius, dia kecelakaan saat akan kesini." Rio meyakini bahwa salah satu anggota tim Zahra ini memang benar serius terlihat sekali wajah paniknya.
"Yaudah gue kesana, makasih Infonya." Rio pun tersenyum ramah sebelum meninggalkan perempuan itu. "Ya ampun Rio, pantes aja si Zahra sampai sekarang ngejar loe. Loe baik, pinter, ramah, udah gitu ganteng lagi kurang apa coba loe." Perempuan itu bernama iley salah satu anggota tim Zahra yang terkenal dengan sikap polos dan kejujurannya maka dari itu Rio meyakini bahwa iley tidak berbohong.
Rio menggas mobilnya menuju rumah sakit tempat Zahra dirawat, dia tidak menduga kalau Zahra malahan kecelakaan. Pikiran Rio berputar, pasti gadis itu akan memanfaatkan keadaannya sekarang agar lebih dekat dengannya. Rio memijat pelan jidatnya namun entah kenapa ada seseorang yang tiba-tiba lewat membuat Rio me-Rem secepat mungkin, Rio mendengar jelas bahwa orang itu berteriak histeris. Rio meneguk liurnya masih syok lalu keluar mobil dengan cepat menghampiri orang itu. Ternyata seorang perempuan, "loe nggak pa-pa ?." Tak ada jawaban dari Gadis itu nampaknya ia syok dan masih betah terduduk diaspal, tatapan matanya kosong. Sedetik kemudian Rio menggendongnya ke mobil lalu memasukkannya dengan lembut, setelah itu Rio kembali ke kursi pengemudi disebelahnya.
Ia melirik sebentar kearah perempuan yang kini disampingnya, tak ada repon sama sekali tatapannya kosong ke depan. "Loe nggak apa-apa ?." Tanya Rio lembut mencoba menggenggam jemari perempuan itu tetap tak ada respon. "Gue minta ma'af," perempuan itu akhirnya menoleh dan tepat menatap manik mata Rio, keduanya hanyut dengan saling pandang lama mereka bertahan posisi seperti itu dan akhirnya....
"KYAAAAAAAAAAAAAAA."
Label:
Bahasa Rasa

0 komentar:
Posting Komentar