Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
********************
Ify memperhatikan dirinya dikaca, pantulan dirinya berada disana sedang menggenggam gaun pengantin putih yang sangat mewah. Sekali lagi ia pastikan bahwa sosok dikaca adalah dirinya, Ify memejamkan mata berharap semua hanya mimpi. Tak nyata ! Namun saat ia kembali membuka mata, yang berada dikaca tetaplah dirinya. Tetaplah sosok Ify, sosok yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
Entah kenapa butiran bening yang kerap menjadi sahabat sejatinya itu kini kembali turun, turun begitu deras. Menangis dalam diam, menangis dengan sebab yang susah, menangis dengan masalah yang begitu sukar untuk dijalani. Ingin sekali ia berteriak sekarang juga, melampiaskan seluruh lelah hatinya yang bertahun-tahun ia pendam, Ingin mengakhiri semuanya dengan cara yang instan! Tetapi semuanya buyar, saat ia mengingat sosok bocah kecil yang selama 5 tahun lebih ini mendampinginya, baik suka maupun duka.
Ify terduduk lemas dilantai, beserta ruangan dan isinya ini. Ruangan yang kini menjadi miliknya kembali setelah sekian tahun ia tinggal pergi. Rumah mewah ini, rumah mewah yang ia tinggalkan dulu dan kini ? Menjadi miliknya kembali. Semua mimpi? Tidak ! Tidak ada satupun mimpi yang ada saat ini, jika hal ini yang mimpi ? Dia tidak ingin bangun selamanya.
@flashbackOn
Ify sedang mengajari Sadit hal-hal dasar bahasa Inggris, dari kosakata ringan sampai perkenalan nama. Sadit begitu antusias belajar karena ia sebentar lagi akan menjadi murid SD yang pasti lebih berat dari murid TK. Ify tidak membebankan begitu banyak pelajaran pada Sadit, tapi karena bocah itu yang selalu ingin tahu dan ingin tahu membuat Ify kewalahan sendiri mengajarinya Sadit pun merespon dengan aktif.
Saat asyik dengan dunia mereka sendiri, ketukan pintu membuat kegiatan keduanya pun terhenti sejenak. Ify menyuruh Sadit tetap belajar, biar ia yang membuka pintu. Ify sudah tahu kalau bukan Alvin pasti Rio !
"Iya seben..tar."
"Ify !!." Sebuah pelukan begitu saja menghambur kearah Ify disambut dengan pelukan lain. Ify diam dan menegang seketika, dadanya sulit bernafas hingga tak beraturan. Pelupuk matanya mulai mengembung, kini turunlah air bening dimatanya. Tangan yang tadi seperti tidak bertenaga lantas memeluk erat kedua orang yang kini tengahmemeluknya. Air mata yang terus turun mewakili seluruh perasaannya yang kini campur aduk.
"Maafkan papa dan mama Fy."Ucap lelaki paruh baya yang kini tengah memeluk Ify. Ify tak bisa menjawab, sulit sekali baginya untuk berucap walaupun sepatah kata sekalipun. Dengan tangis yang terus pecah dan bertambah deras, Ify rasa kedua orang yang memeluknya ini mengerti.
"Bundaaa !!." Sebuah panggilan keras membuat ketiga orang ini melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata masing-masing. "Sadit." Balas Ify, Sadit pun berlari kearah Ify dan memeluk pinggang sang bunda karena tinggi bocah itu hanya sekitar pinggang sang bunda.
"Siapa mereka bun ? Kenapa bunda meangis ?." Ucap Sadit menatap kearah Ify lalu menatap kearah dua orang asing baginya.
"Ify, dia..?." Tanya wanita paruh baya, Ify menatapnya lalu mengangguk. "Kita bicara didalam saja Pa, Ma.". Mereka pun masuk kedalam.
"Diminum dulu Pa, Ma." Ucap Ify yang telah kembali daridapur untuk membuat minum. Kedua orang itu yang tadi sibuk memperhatikan Sadit yang menulis didekat mereka langsung menoleh kearah Ify.
"Papa dan Mama tidak marah lagi dengan ku?." Tanya Ify to the point. Mama Ify pun menggeleng tegas mendekat kearah Ify lalu memeluknya lagi tangis pun pecah kembali. "Maafkan mama nak, maafkan mama. Seharusnya dulu, mama menahan mu agar tidak pergi. Mama menyesal." Ucap sang Mama membuat Ify mengusap lembut punggung sang mama yang kini tengah rapuh.
"Mama tak pernah salah, aku lah yang memang salah ma. Karena dari awal semua yang terjadi adalah salahku jadi aku berhak mendapatkan semua hukuman itu." Ify memejamkan matanya, tiba-tiba Papa Ify mengacak rambutnya. "Papa begitu marah dengan mu dulu, Papa kecewa dengan mu, Papa benar-benar merasa gagal telah mendidik mu padahal kau anak tunggal Papa. Tapi apa kau tahu ? Apa kau tahu saat itu Papa benar-benar emosi sehingga akal Papa begitu kabut dan tak memikirkan hal-hal lain lagi. Sebagai permintaan maaf Papa, kau harus kembali tinggal dirumah." Ify melepaskan pelukannya lalu menatap sang Papa berganti menatap ke arah Sadit yang tengah asyik menulis dan tak memperdulikan ketiga orang disekitarnya.
"Aku perlu waktu Pa, dan juga ? Apa papa tidak malu kini aku mempunyai seorang anak yang tak mempunyai ayah..." Suara Ify pelan agar tidak tertangkap oleh Sadit.
Papa Ify tersenyun lalu menghampiri Sadit. "Hay jagoan kecil. Apa kau tak ingin memberi salam kepada kakek mu ini ?." Tanya Papa Ify kepada Sadit, Sadit pun mengalihkan pandangannya kepada sosok tua yang ada disampingnya yang tengah tersenyum begitu ramah.
"Kakek ? ." Ucap Sadit lalu menatap kearah Ify meminta penjelasan, dan diangguki oleh Ify seraya tersenyum. "Dia kakek mu nak, Papanya bunda dialah kakek mu yang selalu kau tanyakan." Ucap Ify lembut, Sadit menatap sang kakek Intens. Bagai kilat bocah kecil itu kini loncat dan menghambur pelukan kepada sang kakek. Karena sang kakek yang tidak siap siaga akhirnya terguling keduanya dilantai dan menjadi bahan tawa diantara mereka.
"Dan ini nenek mu, ayo sini." Panggil Ify, Sadit pun menuju kearah sang nenek yang kini membuka lebar kedua tangannya dan siap untuk memeluk bocah menggemaskan itu."Kenapa kakek dan nenek baru kesini sekarang ? Padahal Sadit ingin sekali melihat kakek dan nenek sejak dulu." Tutur Sadit membuat kedua orang itu gelagapan, Ify tersenyum geli. "Kakek dan nenek mu sangat sibuk, dan baru ini bisa menemui mu." Ucap Ify seraya mengacak rambut jagoannya.
"Kau pintar sekali, nenek menjadi gemas melihat mu." Sang nenek pun mencubit pipi Sadit lalu menciumnya dengan penuh sayang, kini keduanya begitu menyesali perbuatan bodoh mereka beberapa waktu silam. Dan mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi! Tidak akan.
"Kalian mengetahui alamat rumah ku dari siapa ?." Tanya Ify
"Dari Alvin, dia kerumah dan memberitahu semua juga pernikahan kalian." Balas sang Mama dengan Sadit yang kini tengah dipangkuannya yang tertidur
"Maaf ma, bukan maksud ku tidak ingin memberitahu kalian soal pernikahan ku. Aku terlalu takut untuk pulang dan memberitahu kalian." Papa Ify pun menggenggam erat tangan Ify dengan penuh sayang. "Kami mengerti nak, besok kau langsung kerumah. Biar orang suruhan Papa yang membereskan semua barang-barang mu, kau mengerti ?." Ucap Sang Papa, Ify tertegun.
"Fy, mama mohon kau kembali kerumah ya nak." Mohon sang Mama membuat Ify tak tega dan akhirnya menganggu pasrah.
@flashbackOff
Ify bersandar ditepat tidurnya, menangis ? Seharusnya ia senang saat ini bahkan sangat senang karena telah kembali pada orang tuanya, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjil, separuh kebahagiaan lagi yang selama ini ia inginkan belum tercapai. Hati ! Perasaan !
"RIOO!AKU SANGAT MENCINTAI MU BUKAN ALVIN !!." Teriak Ify,ia berani berteriak karena saat ini dirumah tak ada siapa-siapa Sadit dan kedua orang tuanya telah pergi untuk mengajak Sadit jalan-jalan beberapa jam yang lalu. Ify bernafas dengan tidak teratur. Tangisnya masih belum reda bahkan masih setia menemaninya.
Ify pun secepat mungkin tersadar karena ketukan kecil dipintu kamarnya, Ify berdiri dan memastikan dirinya dikaca tidak terlihat seperti orang menangis, ia letakkan gaun pengantinnya ditempat tidur, jantungnya berdetak tak karuan takut-takut saat ia berteriak tadi ada yang mendengarnya. "Semoga tak ada yang mendengar.". Dengan gugup Ify membuka pintu kamarnya, "aku lupa mengunci pintu ini tadi?." Ify membantin. Dilihatnya Sadit yang kini berdiri disana, syukurlah kalau bocah itu yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
"Bun ? Kenapa lama membuka pintunya ?." Rengut Sadit sambil berkacak pinggang, Ify berjongkok menyamakan tingginya dengan Sadit lalu tersenyum. "Kau sudah pulang ? Dimana kakek dan nenek mu ?." Tanya Ify. "Iya baru saja datang, kakek dan nenek ada dibawah." Jawab Sadit, Ify mengangguk lalu beranjak dan menggenggam jemari Sadit untuk masuk ke dalam kamar.
"Tadi Ayah ke kamar bunda ya ? Tapi kok buru-buru pergi ? Saat Sadit tanya Ayah mau kemana, Ayah hanya tersenyum setelah itu berlari cepat keluar rumah." Ucap Sadit saat Ify akan menidurkannya, Ify langsung tersentak kaget lalu menelan liurnya nafasnya tercekat. "Jangan-jangan Alvin..?."
"Sadit bobok ya, bunda ke bawah sebentar." Perintah Ify, lalu langsung ke lantai bawah. "Ma Pa, benarkah tadi ada Alvin ?." Tanya Ify saat melihat kedua orang tuanya yang kini menonton TV, mereka mengangguk. "Kenapa kau bisa tidak tahu ? Jelas-jelas dia dari kamar mu ?." Ify mengumpat dalam hatinya, tanpa mendengar pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tuannya lagi ia bergegas menuju luar rumah dan menyalakan mobilnya yang dulu ia tinggalkan menuju suatu tempat. Rumah Alvin !
************
"RIOO ! AKU SANGAT MENCINTAIMU BUKAN ALVIN !!."
Suara itu masih terngiang-ngiang begitu jelas di telinganya ditambah lagi yang ia lihat tadi, sosok yang begitu sangat ia cintai begitu tertekan, begitu terpuruk, begitu rapuh dan semua yg ia jalani bersamanya saat ini hanya sebuah paksaan kah ? Sebuah kasihan kah ? Kepalanya begitu menumpuk beberapa pertanyaan dan sekarang ia tak perlu jawaban dari mulut sosok itu lagi, sebab yang ia katakan hanya sebuah kepura-puraan tak ada ketulusan semua sudah jelas dengan kalimat beberapa menit yang ia dapatkan tadi.
"Kau bodoh Alvin," Ucapnyatersenyum miris, air matanya berusaha ia tahan, berusaha tetap kuat. Meski sakit yang ia rasakan ini sulit untuk sekedar dilupakan sejenak, malahan membuncah begitu dahsyat bagai menghantam keras diulu hatinya.
"Apa lagi yang kau harapkan sekarang ? Pernikahan itu ? Dia hanya terpaksa Vin ! Dia tidak mencintaimu seperti apa yang kau harapkan selama ini !." Alvin pun langsung melayangkan kepalan tangannya tepat kearah Kaca besar miliknya *PRAANGGG*
"Arghhhhh !." Tangisnya pun pecah, ia tak kuat benar-benar tak kuat, cukup sudah pengorbanannya selama ini, cukup sudah kepura-puraan yang ia terima saat ini. Ini sudah lebih dari cukup ! Darah terus mengalir hebat pada punggung tangannya akibat menghantam keras ke Kaca kamarnya.
"Dia tidak mencintaimu Alvin, dia hanya mencintai Rio ! Kau hanya sekedar sekedar sahabat dan tak akan pernah lebih !." Ucap Alvin disela tangisnya.
@flashbackOn
Sudah setengah jam lelaki ini menunggu seseorang, seseorang beberapa jam yang lalu ingin mengajaknya bertemu dan akan memberinya sebuah surprize. Dengan hati yang berbunga-bunga lelaki ini pun menyetujuinya, apapun yang diperintahkan orang itu pasti akan diturutinya. Karena dia adalah sang Gadis pujaan.
Ia memandang sekitar taman, belum ada tanda-tanda gadis yang ia tunggu akan datang. Ia pun merebahkan tubuhnya dikursi panjang yang kini ia duduki lalu memejamkan mata.
"Alvin." Panggil seseorang ia mengenali suara itu, secepat kilat ia pun bbangkit dan mendapati gadis yang ia tunggu sejak tadi. "Surprize." Ucap Gadis itu lagi dan membuat Alvin mengkerutkan dahinya menatap seorang lelaki yang tak asing baginya dan kini tengah menggenggam jemari gadis sang pujaan. Lelaki yang akhir-akhir ini selalu menjadi topik utama yang terus timbul disetiap pembicaraan Gadis pujannya sekaligus sahabat sejak lahirnya ini. Karena mengerti dengan gelagat Alvin yang bingung Gadis itu pun meraih tangan Alvin lalu meraih tangan Lelaki disampingnya.
"Kenalkan ini Alvin Yo, dan ini Rio Vin pacar ku." Ucap Gadis itu seraya tersenyum manis begitupun Lelaki yang disampingnya yang tak kalah manis senyumnya. Alvin diam membeku, tak bisa berkata apa-apa, ia mencoba mengontrol emosinya agar tidak merusak suasana.
"Oh, jadi ini surprizenya ? kenapa kau tidak bilang kalau sudah pacar, dengan begitu aku tidak capek-capek lagi menjaga mu terus." Ucap Alvin sebiasa mungkin seraya tersenyum yang terlihat sekali seperti memaksa. "Gadis ku ini bilang, dia ingin mengejek mu karena terus-terusan menjomblo." Ucap Rio santai dengan nada bercanda, membuat Gadisnya itu menyikut perutnya pelan. Alvin berusaha tersenyum lagi "dia belum tahu saja kalau aku sudah punya gebetan." Membuat Ify tersenyum antusias, "Alvin ! Kenapa kau tidak bercerita kepada ku, kau jahat !." Rajuk Ify bercanda lalu Alvin mengacak rambutnya. "Kapan-kapan aku bercerita, Kalau begitu aku minta pajak dari kalian." Ucap Alvin terkekeh, dan langsung diangguki keduanya.
"aku dan Rio memang berniat akan memberimu pajak, mangkanya aku bilang surprize." Ucap Ify, mereka bertiga pun menuju restoran. Saat telah sampai di restoran mereka bertiga pun memesan makanan
"Aku permisi ke toilet sebentar ya." Ucap Ify lalu melesat menuju Toilet meninggalkan Alvin dan Rio yang kini hanya berdiam. "Kau serius dengan Ify ?." Suara Alvin dengan nada mengintrogasi membuat Rio mengkerutkan keningnya. "Iya aku sangat serius Vin, memang kenapa ?." Tanya Rio ramah.
"Kau pasti sudah banyak mengetahui tentang aku dan Ify, kami bersahabat sejak kecil. Kau tidak terganggu dengan keberadaan ku." Tanya Alvin, Rio menggeleng tegas. "Tidak akan Vin, karena aku tahu diri. Kau dan Ify mengetahui sifat dan kebiasaan luar dalam, lagipula selama itu masih punya batasan. Aku tidak akan terganggu." Balas Rio lagi dengan tenang.
Alvin tersenyum sinis. "Kau juga baru tahu kan ? Kalau Ify baru kali ini berpacaran ?." Rio mengangguk
"Aku hanya memberi satu kesempatan untuk mu. Jika aku melihat Ify tersakiti oleh mu. Aku tidak segan-segan menjauhkan Ify dari mu."
"Aku akan membuktikannya, karena aku sangat mencintai dia." Ucap Rio tegas. "Aku harap begitu."
@flashbackOff
Alvin meremas rambutnya, ia kembali mengingat Sadit bocah yang telah ia anggap benar-benar sebagai anaknya sendiri. Rasa bersalah telah menghantuinya ia sudah membuat anak itu jauh dengan ayah kandungnya sendiri.
"Selain bodoh kau jahat Alvin, kau jahat ! Kau benar-benar jahat, kau tak pantas untuk mengganti posisi Rio dikehidupan mereka."
Berulang kali kau menyakiti...
Berulang kali kau khiati...
Sakit ini.. Kucoba pahami...
Ku punya hati bukan tuk disakiti...
"Alvin." Panggil seseorang diambang pintu, Alvin mengadahkan kepalanya dan mendapatkan sosok yang ia tidak inginkan kehadirannya untuk saat ini. Sosok yang hanya akan membuatnya terluka.
Ku akui sungguh beratnya....
Meninggalkan mu yang dulu pernah ada...
Namun harus aku lakukan...
karena ku tahu ini yang terbaik...
"Kau lebih baik pulang Ify, aku tidak ingin diganggu untuk saat ini." Suara Alvin begitu dingin, membuat Ify takut tapi ia memberanikan diri untuk melangkah kearah Alvin.
"Aku bilang berhenti Ify ! Apa kau tak mendengar ?!." Teriak Alvin
Ku harus...
Pergi meninggalkan kamu..
Yang telah hancurkan aku..
Sakitnya.. Sakitnya .. Oh sakitnya ...
"Alvin, aku.. Aku ingin menjelaskan..,"
"Ck. Apa kau bilang ? Menjelaskan ? Tidak ada yang perlu kau jelaskan Ify semuanya telah jelas. Kau tidak mencintai ku, kau hanya berpura-pura selama ini. Aku benar bukan ? Hahaha." Ify memejamkan matanya ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh pria ini, pria yang selalu ada untuknya. Dan sekrang pria ini begitu rapu sama sepertinya.
Ku akui sungguh beratnya...
Meninggalkan mu yang dulu pernah ada...
Namun harus aku lakukan...
karena ku tahu ini yang terbaik...
"Aku ingin belajar Vin, aku ingin belajar mencintai mu. Ku mohon bantu aku." Ucap Ify menunduk, Alvin menoleh kearah Ify yang kini berdiri disampingnya
"Bantu aku untuk menghilangkan bayangan Rio, aku ingin memulainya bersama mu." Dengan sekuat tenaga Ify berucap, ia mulai terisak
Ku harus...
Pergi meninggalkan kamu..
Yang telah hancurkan aku..
Sakitnya.. Sakitnya .. Oh sakitnya ..
Alvin tersenyum miris masih lengkap dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya, ia berusaha menahan walaupun sempat menetes sejak tadi. "Tidak Fy, sebelumnya kau pernah mengucapkan hal yang sama. Dan sekarang hasilnya tetap nihil cuma ada Rio dihati mu, aku tidak ingin menikah dengan orang yang mencintai ku karena terpaksa." Alvin memandang lurus kearah kaca yang berserakan dilantai
"Aku akan membatalkan semuanya besok, jika kau mau buang saja gaun itu." Lanjut Alvin, membuat Ify terpengah menatap Alvin sayu tak percaya kalau semuanya terjadi seperti ini karena kesalahan bodohnya
Cintaku...
Lebih besar dari cintanya..
Meskinya kau sadari itu..
Bukan dia.. Bukan dia.. Tapi aku..
Ify pun langsung memeluk Alvin dari arah samping, menagis sejadi-jadinya didada bidang lelaki yang sangat mencintanyainya. "Ku mohon Alvin, ku mohon beri aku kesemptan untuk memperbaiki lagi Jangan batalkan pernihan ini."
Alvin pun yang sempat ingin melepaskan pelukan Ify tak bisa ia lepaskan, ia luluh dan kembali percaya bahkan sekarang membalas pelukan itu
"Kau tidak akan berbohong lagi ?." Tanya Alvin ragu, Ify mengangguk mantap disela tangisnya.
"Ku mohon bantu aku Alvin, aku yakin kau bisa."Alvin pun dengan lembut mengecup kening Ify dan kembali merengkuhnya. "Aku tidak tahu, apakah pilihan ini yang terbaik untukku." Batin Ify
********
Rio menatap nanar kearah luar ruangannya yang hanya berlapis kaca bening, ia menatap kearah jalan raya yang begitu padat disana. Sesekali ia mendesah panjang, pekerjaanya telah berjalan lancar, walaupun sempat tadinya membuat ia tak kosen jika mengingat pernikan orang yang ia cintai, bukan dengannya melainkan orang lain.
"Tuhan pun tak mengizinkan kita bersatu." Decaknya miris
"Jika ini yang terbaik untuk ku dan kau, aku rela melepas mu. Aku akan lebih sedikit menerima jika kau menikah dengan Alvin."
"Tuhan menghukum ku, dengan semua tingkah ku dulu pada mu."
"Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa melihat mu bersanding dengan siapa pun, maaf jika aku tak datang Fy. Kau pantas bahagia."
"Semoga kalian bahagia." Ucap Rio tersenyum perih, menatap langit yang kini berwarna hitam tanpa bintang dan bulan disana. Perhatian Rio pun tersita saat melihat layar handphonenya menyala.

0 komentar:
Posting Komentar