Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay
******
Sempat berpikir..
Ketika yang nyata malahan menjadi belaka atau sebaliknya...
Saat itu juga yang ada dibenak hanya untuk menjaga yang nyata tetap ada bukan sebaliknya ..
********
"Ini minum buat loe." Minuman kaleng dingin langsung saja Rio sodorkan kearah perempuan yang tengah duduk disampingnya, ia pun mengambil dan tersenyum bertanda terima kasih.
"Gue minta maaf sekali lagi." Ucap Rio sambil menoleh kearah perempuan disampingnya ini. "Nyantai aja kali, toh gue nafas gini." Rio terkekeh
"Loe lagi jenguk siapa sih ? Cewek loe ?." Perempuan itu bertanya, Rio menggeleng pelan. "Bukan, temen sekolah dia kecelakaan tadi. Tapi udah nggak pa-pa cuma lecet aja." Perempuan itu hanya menganggu-anggukan kepalanya. "Oiya kenalin gue Rio."
"Ify." Balas perempuan itu, Rio tersenyum. "Loe sekolah dimana ?."
"Asal sekolah gue sih di bandung, gue pindah kesini dan kemungkinan besar Sekolah dikota ini juga tentunya." Ify nyengir
"Dimana ?."
"SMA Negeri Kumala." Rio yang saat itu meminum-minumannya langsung tersedak, "aduh Rio, hati-hati kenapa ."
"Itu sekolah gue Fy, kelas berapa ?."
"Hah ? Yang bener loe ?.". Rio mengangguk antusias, tak terasa keduanya sangat begitu akrab seperti kawan lama yang baru berjumpa, topik demi topik mereka kembangkan menjadi sebuah cerita yang tiada hentinya untuk diceritakan diantara masing-masing. Tak berhenti disampai situ mereka pun mencari tempat lain untuk melanjutkan cerita mereka mencari tempat lain yang lebih santai. Tanpa mereka berdua sadari sejak tadi pasang mata terus memperhatikan keduanya yang telah menghilang diujung koridor Rumah Sakit sambil sesekali tawa dan canda berhambur menyelimuti suasana keduanya.
"Dan sekarang sepertinya loe punya wabah penyakit baru Ra." Suara teman disampingnya mengejutkannya, ia pun menoleh lalu tersenyum sinis. "Dia hanya bakteri kecil bagi gue, yuk cabut." Perintah perempuanyang saat itu kondisinya dibaluti oleh perban ditangan dan dikepala, ternyata perempuan itu Zahra dia hanya mengalami luka ringan tidak seprah untuk menginap diRumah Sakit. Seperti dugaan Rio, Zahra memanfaatkan itu semua seolah-olah seperti kecelakaan yang sangat membahayakan.
*******
Selipan bisik angin menghembus dengan nikmat mengitari hati yang kini penuh rasa nyaman...
Memberi kesan yang tak terduga untuk sekedar dirasa tapi dinikmati...
Ify. Ia duduk dengan santai dibalkon kamarnya, menikmati angin malam dan seluruh apa yang bisa ia lihat sekarang. Langit gelap biru malam, bintang, bulan dan kerlap kerlip lampu. Ify menghela nafasnya berat lalu tersenyum. "Dua kejadian aneh." Ia pun memegang jidatnya
"Alvin dan yang tadi Rio." Ify tersenyum mengingat kedua sosok pemuda itu, seperti perbedaan Api dan Air, Ify lalu menggeleng geli. Matanya lalu sendu, ia memejamkan mata mencoba terlihat lebih baik lagi. Yah ! Ia harus melakukan itu, HARUS !
Sepertinya angin malam tidak seperti yang ia harapkan, angin ini terlalu dingin untuk dinikmati seperti menampar tubuhnya yang mungil. Ia pun beranjak untuk masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang berdiri dihadapannya.
"Loe mulai lagi ?." Tanya orang itu, seorang lelaki dewasa. Ify memalingkan wajahnya dan tidak perduli. "Gue harap nggak ada lagi teknik percobaan di sekolah baru loe ini. Kalau sampai loe mulai lagi ? Gue kirim lagi loe ke Eropa biar nggak akan bebas lagi."
"Loe tuh kenapa sih, selalu aja ngurusin urusan gue !." Bantah Ify sengit menatap mata tajam lelaki dewasa didepannya ini, "karena loe adik gue, dan loe ?selalu berbuat hal-hal yang tidak gue suka."
"Mau gue adik loe kek, kandung, sepupu, tiri."
*Plakkk*
Sebuah tamparan dengan mulus mendarat kearah Pipi Ify yang lembut, seketika darah segar mengucur dengan manis di bibir mungilnya yang tipis. Lelaki dewasa didepannya tertegun, Ify terisak lalu menatap tajam kearah sang Kakak yang Tua 5 tahun darinya.
"Gue nggak nyangka ya, gue nggak nyangka kakak gue yang selalu bilang sayang sama gue malahan nampar gue karena hanya gue yang selalu bandel menurut dia ?" Tangis Ify pecah saat itu juga. "Seumur-umur loe nggak pernah kasar sama gue sampai seperti ini ?"
"Atau mungkin, benar gue disalah satu kalimat tadi ? Terkecuali kandung." Ify menangis sejadi-jadinya. "Loe sama aja kak, LOE SAMA AJA." Ify pun berlari menjauh, sedangkan lelaki dewasa ini diam mematung, mengontrol nafasnya, emosi juga pikiran-pikirannya yang entah mengapa bisa lepas kendali seperti ini.
"Ya Tuhan Gabriel !." Ia mengacak rambutnya frustasi, ia terduduk dan menunduk menyesali semua perlakuannya yang benar-benar kelewatan tadi. "Apa sebenarnya yang diotak gue ? Arrggggghhh !." Ia pun sadar jika Ify telah begini pasti akan keluar Rumah, Gabriel pun bergegas menuju mobilnya dan mencari Ify sebelum adiknya itu berbuat yang tidak-tidak. Tapi tunggu ?saat Gabriel menuruni tangga rumahnya ia melihat Ify yang kini malahan tertwa dengan cerianya di depan Tv, membuat Gabriel menghela nafas bersyukur. Lalu Ify menoleh kearah tangga dan tersenyum kearah Gabriel ia melambaikan tangannya memberi isyarat untuk mendekatinya. "Sini Kak, nonton bareng gue. Filmnya asyik,"
"Sampai kapan loe gini Fy." Tak terasa air matanya pun jatuh tetes demi tetes.
*************
Ketika hamparan pasir berteduh diam sebagai penghias pantai, mengabdikan diri kepada luasnya lautan walaupun kerap kali terjajah oleh kasarnya ombak. Pernah kau berpikir ?mengabdikan diri kepada sesuatu yang kian kali menyakiti mu ? Dan kau mengetahui itu tapi terus setia mengabdi kepadanya ....
Rio dan Alvin berjalan berdampingan melewati koridor sekolah mereka untuk menuju kelas mereka yang memang satu kelas, keduanya tampak mengobrol namun perhatian mereka tersita saat melihat kerumunan para siswa dan siswi dekat Mading sekolah. Secepat kilat keduanya pun berlari kesana, mereka kira ada sesuatu yang heboh dimading ? Ternyata keributan oleh kedua orang siswi.
"Gue ingetin ya sama loe ! Jangan pernah coba-coba nyegat gue apalagi berani nyentuh gue sekasar tadi. Karena gue nggak segan-segan buat bibir loe lebih jontor." Nada kemarahan itu benar-benar sungguh dan tidak main-main, yah ! Siswi yang babak belur itu adalah salah satu Geng Zahra, dengan terbirit-birit ia pun menjauh.
"Ify." Panggil Rio dan Alvin, Ify menatap kedua orang itu lalu mengkerutkan keningnya. Rio dan Alvin malahan saling pandang bingung. Rio memberi isyarat apakah Alvin mengenal Ify juga. ? Begitupun sebaliknya.
"Lain kali jangan sok kenal sama gue." Ify menatap sinis keduanya dan berlalu. Mereka berdua syok setengah mati. Bagaimana tidak baru kemarin mereka kenal dengan perempuan itu dan begitu akrab tapi mengapa tiba-tiba dia bilang "jangan sok kenal ?."
"Vin ? Loe kenal Ify ?." Tanya Rio, Alvin mengangguk tegas. "Di taman kompleks setelah loe pulang, saat gue pengen ngelempar bola kearah loe bola gue malah kena dia." Alvin menjawab dengan begitu luwes tidak seperti biasanya yang selalu irit omong, entah kenapa Aura Ify membuat Alvin berbeda. "Kalau gue hampir nabrak dia dijalan." Mereka berdua lalu berpandangan dengan serius.

0 komentar:
Posting Komentar