Home » » Bahasa Rasa (Part 5)

Bahasa Rasa (Part 5)


Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay

Alvin melangkah pelan menuju lokernya, namun kegiatannya terhenti saat mendengar suara kunci loker yang terbuka. Ia memundurkan tubuhnya untuk melihat siapa ? dan ternyata Ifylah disana, Alvin yakin itu adalah Ify walaupun wajahnya tertutup oleh pintu mini lokernya. Alvin tertegun, semula ingin menyapa namun ia urungkan mengingat kejadian beberapa waktu lalu, tanpa Alvin sadari Ify telah mengatupkan kembali pintu loker dan mendapati Alvin yang melamun menatap hampa lokernya.

Ify tersenyum. “masih pagi, nggak boleh ngelamun.” Suskes membuat Alvin terlonjak kaget ia menoleh kearah sumber suara, Ify ? menyapanya ?.” Ia terus menatap punggung mungil Ify yang telah hilang dibalik ujung koridor.

                “Gue nggak ngerti sama tuh cewek.”

                “iya kali ini dia mau nyapa, nanti ? paling juga nggak bakalan.” Alvin mendesah. “dari kemarin  Rio nggak ada cerita sama gue kalau pergi sama Ify. Mungkin ada hubungannya dengan perubahan sikap Ify tadi.” Alvin langsung menguci lokernya lalu melangkah cepat menuju kelas.

Saat telah sampai dikelas, Alvin benar-benar terkejut saat melihat Rio yang tengah tertawa bersama Ify dibangku milik Ify. Berdua ?. ada rasa aneh yang menjalar didiri Alvin, tapi ia tidak peduli langsung saja ia menuju mejanya tanpa menghiraukan Rio dan Ify yang tengah asyik bercanda. Alvin terus memperhatikan mereka, sampai akhirnya Ify keluar kelas entah akan kemana sedangkan Rio kembali ke mejanya yaitu disebelah Alvin.

                “kenapa loe liatin gue segitunya ?” tanya Rio, Alvin mengangkat bahunya. “kenapa bisa jadi akrab gitu sama dia ?” balik Alvin yang bertanya, Rio terkekeh. “ceritanya panjang.”

                “justru itu yang harus loe jelaskan.” Rio mengehla nafasnya kemudia mulai bercerita saat-saat kemarin tentang dia memaksa ikut Ify hingga mereka sampai disebuah Panti Asuhan dan beberapa anak panti yang begitu menggemaskan sampai akhirnya seorang anak perempuan kecil bernama Aurel memaksanya untuk nembak Ify walaupun hanya permainan tapi dianggap serius oleh anak-anak panti. “….gue juga nggak tega bohong, lebih nggak tega lagi kalau nggak nurutin. Tuh anak-anak terlalu polos dan Ify mau-mau aja.” Ucap Rio sambil membayangkan kejadian kemarin apalagi adegannya yang memeluk Ify, sungguh itu benar-benar luar dari konteks pikirannya. “oh gitu.” Balas Alvin seadanya Rio menautkan keningnya.

                “jangan terlalu dekat Yo, takutnya Zahra bakal celakain Ify.” Pesan Alvin. “gue tahu kok, tapi gue nggak akan ngejauhin Ify sampai kapan pun.” Rio kembali teringat pesan ibu panti kemarin, dan dia yakin ada sebuah hal yang membuat Ify kadang-kadang berubah seketika. Dan dia tidak mau itu terjadi lagi, “loe masih mau jauhin Ify?.”

                “gue rasa itu lebih baik, gue juga nggak peduli.”

                “Ify cewek pertama yang nyadarin loe kan ?” Rio tersenyum jahil. “kita bisa bersaing secara sehat kok.” Sambungnya kemudian dan mendapat pelototan dari Rio, Rio hanya menanggapi dengan tertawa geli. “Ify kok lama ya ?” tanya Rio kemudian

                “mana gue tahu bukannya tadi sama loe.” Ucap Alvin cuek. “dia emang sama gue, tapi dia permisi ke Toilet.”

Alvin langsung membelalakkan matanya. “Pelajaran pertama nggak ada guru, piket Cuma ngasih tugas. Sekarang kita susul Ify ada firasat buruk menurut gue.” Rio terpengah. “nggak ada kalimat untuk bertanya Yo, secepatnya kesana sebelum terlambat.” Rio dan Alvin langsung bergegas menuju Toilet tempat diaman Ify sedari tadi belum kembali juga.


*********

Ify membuka matanya perlahan, yang ia lihat hanya gelap. Ia ingin meronta-ronta tapi na’as yang ada mulunya dilakban, Ia terus meronta-ronta dan mencoba menggerakkan tubuhnya sekuat yang ia mampu tapi nihil tidak membuahkan hsil sama sekali. Tangis mulai pecah, ada apa dengannya ? kenapa semuanya menjadi seperti ini ? bukankah saat itu dia berada ditoilet yang begitu terang dan ingin mencucui tangannya diwastafel toilet sekolah tapi setelah itu semuanya gelap ! dan ia berada ditempat ini ? ya Than tempat apa in ? tidak ada cahaya sama sekali begitu pengap dan miskin oksigen. “sampai akhirnya sebuah cahaya muncul dan Ify yakini itu adalah pintu ! tampak silau orang yang membuka pintu itupun melangkah pelan kearahnya.

                “jadi ini anak baru itu ?.” Ify mengkerutkan dahinya, didapatinya seorang siswi yang mengenakan seragam yang sama dengannya tapi ia baru pertama kali melihat siswi ini dan beberapa siswi lainnnya mereka semua ada 3 orang. Ify menatap keji kerarah siswi yang berhadapan langsung dengannya. “siapa nama loe ?.” tanya siswi itu penuh amarah. “oh iya gue lupa mulut loe gue bekep.” Secepat kilat siswi itu langsung membuka dengan kasar Lakban yang sangat lengket menutupi mulut Ify sehingga Ify pun meringis kesakitan.

                “upps. Sorry sayang. Gue kasar ya ?” ucap Zahra lembut namun cahaya matanya mengisyaratkan kebencian. “CEWEK GILA LOE.” Semprot Ify Zahra tersenyum licik.

                “mungkin saatnya loe yang jadi korban gue, tapi harus lebih kejam dari yang sebelumnya.” Ify menatap bingung.

                “lebih kejam bagaimana Ra ?,” salah satu teman Zahra dibelakang menyahut. “loe diem, nggak usah banyak omong.” Balas Zahra marah

                “gue lihat Rio dekat banget ya sama loe ?.” Zahra merogoh sesuatu di saku Roknya dan sebuah pisau lipat telah berada ditangannya. kedua teman zahra tertegun begitupun dengan Ify, Ia mulai berkeringat takut-takut perempuan dihadapannya ini nekat melakukan sesuatu padanya. “Zahra, jangan main-main sama benda itu. Loe nggak akan bunuh dia kan ?” temannya lagi-lagi bersuara. “gue nggak akan bunuh dia kok, Cuma bermain-main sampai darah yang ditubuhnya ini habis dan dia akan mati secara perlahan.” Zahra lalu tertawa mendekatkan pisau lipat itu tepat dipipi Ify. Diam-diam kedua teman zahra itu pun peri dengan mengendap-endap mereka pun berhasil pergi.

                “loe nggak tahu kan ? loe nggak tahu kan kalau Rio itu Pacar gue, pacar yang bakal jadi tunangan gue beberapa bulan lagi saat kelulusan.”

                “apa hubungannya sama gue, Hah ?.” balas Ify sengit.

                “apa hubungannya kata loe ? Haha, loe cantik-cantik bego’ ya.” Zahra terus menelusuri wajah Ify dengan pisau lipat ditangannya hingga berhenti dileher Ify, Ify tertegun. “loe datang ke sekolah ini, dan gue nggak tahu kenapa Rio bisa dekat banget sama loe beda saat dengan gue.”

                “karena loe terlalu jahat untuk dikatakan manusia.”

                “TUTUP MULUT LOE.” Balik Ify tersenyum santai dan menatap Zahra sinis. “gue yakin, salah satu murid yang kemaren mencoba buat gue babak belur pasti atas suruhan loe.”

                “Dengan senang hati gue bilang IYA ! karena loe udah rebut Rio secara perlahan dari gue.”

                “segitu obsesinya, loe pengen Rio. Gue jadi miris.” Ucap Ify mencemooh. “ LOE. LOE HARUS MATI.” Zahra pun berancang-ancang melayangkan pisau lipatnya ke leher Ify, Ify tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk lepas. Ia hanya bisa berdo’a jika ini hari terakhirnya dia hanya ingin meminta satu hal, satu hal yang selama ini menjadi sebuah mimpinya seorang Sahabat ! seorang Sahabat yang selalu ada untuknya tanpa ada maksud lain didalamnya menumbuhkan kembali kepercaayaannya setelah dulu dikhianati oleh seorang sahabat. Hingga Ify merasakan tak ada benda tajam sedikit pun mengenai dirinya, Ify mencoba membuka matanya didapatinya tubuh kokoh yang melindunginya.

                “ALVINN.” Teriak Ify histeris, dan Zahra ? dia tiba-tiba saja beringsut ke pojok ruangan sambil mengacak-acak rambutnya histeris tangannya penuh darah. Zahra menagis lalu tertawa secara bergantian dipojokan ruang itu. Darah ? Ify tiba-tiba lemas, diliriknya lagi Alvin yang telah terbaring dan mengeluarkan banyak darah diperutnya. Tangis Ify pun langsung pecah, “Alvin, Alvin bangun Vin.”

Ify terus mencoba mengerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari ikatan yang begitu kuat ditangannya, “Alvin loe denger gue kan Vin, Alvin bangun !.” Ify menjerit, tidak kuasa melihat Alvin yang begitu banyak mengeluarkan darah. “Alvin, lihat gue. Alvin ini gue Ify Vin. Alvin Maafin gue.” Tangis Ify benar-benar menjadi-jadi, dengan perlahan mata Alvin terbuka dan menatap ify yang kini begitu kacau dengan tangis yang pecah.

Alvin tersenyum. “iya, gue lihat loe kok Fy.” Ucap Alvin berusaha berbicara, ify tidak bisa berbuat apa-apa yang bisa ia lakukan hanya menangis. “Alvin Alvin, jangan bicara dulu. Loe pasti akan selamat, orang-orang pasti akan kesini dan selamatin loe. Vin terus lihat gue.” Alvin mengangguk walaupun matanya sudah mulai ingin mngatup secara perlahan.

                “Alvin terus lihat gue !!.” Ify menjerit sekali lagi, “gue nggak bisa Fy.”

Ify menggeleng histeris. “Nggak Alvin loe bisa, terus lihat gue sampai ada yang nolong kita.” Ada beberapa orang langsung masuk keruangan itu,  Rio ? dan bebrapa polisi juga kesehatan. Seketika Ify juga tidak bisa lagi menahan lemas dari dirinya karena darah. Ify begitu takut dengan darah, sempat ia mendengar sesuatu. “Loe yang pertama Fy.” Semuanya pun gelap tanpa cahaya.


*********
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger