Home » » TEMU (EPILOG)

TEMU (EPILOG)


Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -


********************
"RIOO!AKU SANGAT MENCINTAI MU BUKAN ALVIN !!."


"Apa lagi yang kau harapkan sekarang ? Pernikahan itu ? Dia hanya terpaksa Vin ! Dia tidak mencintaimu seperti apa yang kau harapkan selama ini !."


"Bantu aku untuk menghilangkan bayangan Rio, aku ingin memulainya bersama mu."


"Aku tak tahu apakah ini pilihan yang terbaik untuk semua pihak."


"Aku sedikit lebih tenang jika pilihan mu adalah Alvin, semoga kalian bahagia."



**********************


Lelaki bertubuh tegap dan maskulin itu kini duduk dengan santai memanjakan indera penghilat yang terbantu oleh kacamata bingkainya mengitari keseluruh sudut taman luas di Villa miliknya ini dengan senyum puas, Villa ini baru saja ia bangun 1 tahun lalu mencari tempat yang strategis sangat susah baginya namun berkat bantuan pasang sayapnya ide itu akhirnya tertuju disini, tempat ini begitu strategis tidak terlalu jauh dari jalan besar yang menghubungkan ke kota, pedesaan dan kebun teh juga dekat di Villa itu, fajar yang selalu terbit dengan indahnya dipagi hari terlihat jelas disini, beberapa tanaman hias menghiasi diteras dan beberapa ditaman yang dilengkapi ayunan goyang, sebuah Paviliun kecil taman bertengger diatas kolam ikan dan batu-batu besar yang diukir sedemikian rupa menjadi jembatan kecil menuju Paviliun tersebut. Sangat begitu indah dan asri ! Belum lagi jika memasuki area Villa ini akan disambut oleh tanaman buah Apel tumbuh rendah yang berjejer rapi sampai mengarah ke teras Villa dengan berpasang, benar-benar sebuah Villa yang lebih dari cukup untuk dikatakan sederhana apalagi desain Villa yang berdiri kokoh dan begitu luas ini sengaja membentuk cangkang kura-kura yang raksasa begitu unik bukan ? Liburan akan tepat jika berada disini menghirup udara segar tanpa polusi sedikit pun.


Lelaki itu masih tersenyum melihat keindahan Villanya ini, Villa yang sebagian besar ia buat dengan ide sang PASANG SAYAPNYA.

"Ayah ? Kau baik-baik saja ?." Ia menoleh dan tersenyum melihat lelaki remaja berumur sekitar 15 tahun, tampan sekali anak ini ! Apalagi mata tajam namun menyimpan keteduhan itu yang saat ini menatapnya bingung, sambil mengkerutkan keningnya.


"Ayah baik-baik saja Sadit, memang ada apa ?." Lelaki remaja bernama Sadit itu pun mengangkat bahunya lalu duduk disamping Pria dewasa yang ia panggil ayah itu. "Tidak, sejak beberapa menit lalu aku perhatikan ayah tersenyum tidak jelas." Membuat sang Ayah meninju pelan bahu Sadit


"Kau ingin bilang Ayah tidak waras begitu ?." Tanyanya membuat Sadit terkekeh geli, "Tidak ayah Tidak," sangkal Sadit


"Oiya, Bunda mu dan Pelangi dimana ?." Sadit menoleh kedalam Villa. "Paling si Cerewet itu sedang menyekap bunda." Ucap Sadit jengkel, Membuat sang Ayah tertawa pelan


"Kau kira adik mu seorang penjahat yang tega menyekap bundanya sendiri." Sang Ayah pun melepas kacamata bingkainya ke meja teras sambil terkekeh melihat raut wajah Sadit yang cemberut mungkin merasa sang bunda tidak begitu memperhatikannya lagi apalagi sekarang dia sudah dibangku menengah Atas.

"Bagaimana lagi ayah, dia itu adik yang sangat cerewet....,"


"Seperti bunda mu bukan." Potong sang ayah lebih mengarah ke pernyataan, mereka berdua tertawa bersama.



**********************


Seorang perempuan kecil sedang asyik memoles-moles wajahnya dengan peralatan make-up yang begitu lengkap. Ia tersenyum puas melihat dirinya dikaca besar rias tersebut, tapi tunggu sepertinya dia melewatkan sesuatu. Beberapa detik ia menjetikkan jarinya pelan lalu mengambil lipstik dan mencoret-coretnya dibibir tipis miliknya terus menebal-nebalkan hingga berwarna merah menyala.


Wanita dewasa yang memperhatikan perempuan kecil yang kini dengan antusiasnya memoles wajahnya itu tertawa geli namun tanpa suara agar tidak mengganggu kegiatan perempuan kecilnya itu.


"Ayoo bun kita keluar, pasti ayah dan abang akan mengatakan aku sangat cantik juga manis, benarkan bun ?." Perempuan kecilnya itu berceletoh dengan sangat ria sekali hingga membuat Wanita ini tidak tega menegur penampilan Pelangi yang sangat mencolok sekali. Pelangi pun menggenggam jemari sang Bunda lalu keluar dari kamar.


"Iyah sayang, mereka akan mengatakan kau sangat manis...,"


"Dan cantik seperti bunda." Lanjut pelangi dengan ceria, Ify tersenyum hangat.


Pelangi langsung menghambur pelukan kearah sang Ayah yang saat itu sedang tertawa bersama Sadit, refleks mereka menghentikan kegiatan mereka. Pelangi menatap sang Ayah dan abangnya secara bergantian. "Kalian mengapa menatap ku seperti itu ?." Tanya Pelangi polos, Ify yang duduk disamping Sadit hanya menahan geli tak ada jawaban dari kedua lelaki itu, masih memandang syok kearah pelangi yang polos. Ify menyenggol Sadit yang akan tertawa. "Jangan tertawa, dia akan menangis nanti." Dibalas dengan anggukan malas dari Sadit, dan menahan tawanya.


"Aku cantik dan manis kan Yah ? Seperti bunda ?." Sang Ayah mengkerutkan keningnya lalu menatap kearah Ify,samar-samar Ify mengangguk. Dia kembali menatap Pelangi. "Kau manis dan begitu cantik." Sang ayah terkekeh geli melihat mata bulat yang kini memandangnya dengan semangat serta senyuman mengembang.


"Dan kau...," Sang Ayah meraih sapu tangan dibalik saku celana lalu menghapus dandanan Pelangi yang begitu mencolok, bisa dikatakan seperti badut batin Sadit.


"Akan lebih manis dan cantik jika tanpa alat aneh itu, lihatlah sayang kau begitu natural dan alami jika seperti ini." Puji sang ayah, Pelangi masih menatapnya tapi dengan tatapan yang berbeda dan.. Sang Ayah tahu kalau sebentar lagi Pelangi akan menangis ?


"Pelangi, lihat abang." Perintah Sadit yang juga mengetahui perubahan ekspresi adik kecilnya itu. Bunda dan Ayah mereka pun memperhatikan begitupun Pelangi yang menatap sang abang intens.


"Kau ingat bukan ? Kalau kau lahir disaat pelangi muncul dengan terangnya disana." Sadit menunjuk keatas langit. "Bunda pernah bercerita bukan ?." Pelangi mengangguk, Sadit tersenyum begitupun ayah bundanya.


"Apa yang kau lihat dari pelangi ? Apa yang bisa kau lihat disana."


"Memiliki warna yang cerah." Jawab Pelangi singkat, dan Sadit menjentikkan jarinya dengan refleks. "Tepat sekali manis."


"Kau lebih indah dan cerah seperti warna pelangi, kau lebih bersinar dengan warna mu sendiri tanpa harus memakai semua yang pernah kau gunakan diwajah mu." Sadit menatap adiknya lekat. "Dan kau tahu ? Kau lebih indah dari pelangi, seorang pelangi dengan warnanya sendiri. Kau cantik dan alami dengan warna mu tanpa apapun." Sadit tersenyum hangat, kedua orang tua mereka pun begitu. "Ahh Sadit ! Kau masih tetap saja cerdas dan selalu bisa menetralkan dan mencairkan suasana aneh menjadi lebih baik, kau mempunyai hal yang sama seperti ayahmu, membuat semuanya lebih ringan untuk dimengerti lebih ringan untuk dijalani." Batin Ify



@flashbackOn


10 tahun yang lalu


"Semoga kalian bahagia." Ucap Rio tersenyum perih, menatap langit yang kini berwarna hitam tanpa bintang dan bulan disana. Perhatian Rio pun tersita saat melihat layar pomselnya menyala. Ia langsung mengangkat telepon tersebut setelah itu dia bergegas menuju suatu tempat yang dimaksudkan oleh orang disebrang sana.


Rio mengedarkan pandangan keseluruh sudut cafe yang hanya sedikit orang disana, jika mengingat waktu sekarang telah hampir sebagian malam. "Ada apa Alvin ?." Tanya Rio ekspresi wajahnya nampak begitu panik, sedangkan orang yang menelponnya dan menyuruhnya Ketempat ini ternyata Alvin tersenyum kecil.


"Duduklah Rio." Rio pun langsung duduk, "cepat Alvin katakan, kau kenapa ? Ada apa sebenarnya ?."


Alvin menatap Rio mantap masih tersenyun tapi wajahnya mengisyaratkan permohonan. "Ku mohon Rio."


"Ku mohon kau menggantikan posisi ku nanti." Rio terlonjak kaget atas pernyataan Alvin, lalu mengkerutkan keningnya. "Aku tidak suka bermain-main Alvin, cepat kau katakan dengan sejelas-jelasnya." Rio menatap Alvin tajam, dan Alvin tetap memasang ekspresi yang sama PERMOHONAN.



"Aku akan pergi meninggalkan kalian." Alvin menatap Rio mantap memberikan kebenaran disana, Yang Rio telaah bahasa lain bahasa yang mengisyaratkan kepedihan.


"Ify masih mencintaimu." Rio lagi-lagi terkejut atas pernyataan Alvin dan tentu saja ia mempercayainya mengingat Alvin bukanlah lelaki yang suka berbohong. Alvinpun bercerita dengan lempangnya disaat Ify yang telah kembali kepada keluarganya, pemberitahuan Alvin kepada orang tua Ify akan segera menikahinya, pengakuan Ify dikamar dan tampak wajah frustasi saat itu bahwa dihati perempuan itu hanya ada Rio dan bukan dirinya meskipun malam itu Ify meminta maaf dan tidak menginginkan pernikahan itu dibatalkan. Tak tahukah Ify bahwa itu lebih menyakitkan hati Alvin, Alvin tahu dan sangat tahu bagaimanapun usahanya tidak akan ada membuahkan hasil untuk menghilangkan bayang-bayang Rio dibenak Ify, walaupun pernikahan itu berjalan tidak akan harmonis seperti yang Alvin harapkan Ify hanya kasihan padanya tidak lebih dari itu.


Rio mengerti perasaan Alvin sekarang, entah dia harus senang atau Iba kepada Alvin. Tapi yang pasti dia sangat bahagia karena Ify masih mencintainya. Walaupun perempuan itu dengan sekuat tenaga menolaknya, Rio tersenyum lalu menggelng-gelengkan kepalanya dia tidak boleh bahagia diatas penderitaan Alvin bagaimanapun juga Alvinlah selama ini menjaga Ify. Apakah dia harus menolak demi menjaga perasaan Alvin ? Membiarkan Alvin tetap mengusahakan agar membuat Ify belajar cinta kembali padanya ?


"Tidak Alvin ! Aku tidak bisa, mengingat aku hanyalah seorang pengecut. Walaupun sekarang Ify masih mencintaiku, aku tahu dia tidak akan mau menerima ku kembali." Wajah Rio seketika memancarkan aura pedih sedangkan Alvin menatapnya tajam dan mengelak semua pernyataan Rio.


"Rio ! Dia mencintaimu, bukan aku. Untuk apa aku repot-repot menelpon mu kesini dan membeberkan semuanya kalau Ify memang mencintaiku." Desah Alvin menyerah. "Aku tidak ingin Ify menikah dengan ku karena terpaksa dan belas kasihan. Hanya kau Rio, hanya kau yang mampu."



"Aku sudah merencanakan semuanya." Ucap Alvin mantap dan membuat Rio membelalakkan matanya. Dia menggeleng tegas memantapkan hatinya, "tidak Alvin, aku tidak bisa." Rio mulai beranjak hendak meninggalkan Alvin, entah apa yang ada dipikiran Rio sehingga dia harus menolak mentah-mentah, padahal dia tahuini adalah kesempatan terbaik untuknya, disisi lain bagaimana dengan perasaan Alvin ?


"Ku pastikan, Sadit tidak akan pernah kau temukan." Rio seketika memberhentikan langkahnya, dadanya langsung sesak dan sulit untuk bernafas. Benarkah itu ? Rio bergeming masih bertahan dengan posisi diam seperti itu menunggu kalimat Alvin selanjutnya. "Sedikitpun kau Tidak akan pernah mendengar ataupun mengetahui informasi perkembangan Sadit dan Ify."


Rio menoleh dan menatap tajam kearah Alvin. "Cukup sudah aku menerima belas kasihan dari Ify, dan sekarang ternyata kau melakukan hal yang sama."


"Aku kira permohonan ku ini adalah kesempatan terakhir mu, nyatanya kau menganggap kesempatan itu telah berakhir dimasa lalu." Alvin beranjak dan melangkah pelan kearah Rio yang berdiri mematung. "Entahlah, apa yang bersemayam dikepala keras mu itu sehingga kau dengan senang hatinya menolak semua permohonan ku."



"Ku pastikan Rio ! Ku pastikan Ify dan Sadit membenci mu."



Rio tertegun, ada pancaran kesungguhan dimata Alvin. Alvin pasti melakukan itu, Rio tidak akan sanggup jika harus jauh apalagi tambahan benci dari kedua orang yang sangat dicintainya. "Ku cabut semua penolakan ku." Jawaban yang singkat, namun membuat Alvin tersenyum senang.



************


Beberapa orang lalu lalang melewati Ify dan Alvin yang kini berkunjung ke sebuah Gedung pernikahan mereka, memperhatikan seluruh pekerja yang kini dengan sibuknya mendesian gedung ini agar terlihat glamour tapi tidak berlebihan. Ify menatap takjub diawal namun entah mengapa lagi-lagi Alvin memahami isyarat matanya yang tidak bisa berbohong disana, Alvin tersenyum miris.

"Kau senang Ify ?." Tanya Alvin, Ify menoleh seraya tersenyum. "Sangat senang." Hati Alvin mencelos, Ify masih sama masih bertindak bohong didepannya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Alvin memperhatikan sudut ruangan. "Mungkin dibelakang gedung sana, mengingat disini pasti akan mengganggu." Mereka pun memutuskan menuju luar gedung lebih tepatnya taman dibelakang gedung besar dan mewah ini. Yang terfasilitasi dengan kolam renang juga ayunan besi goyang disana, "ingin mengatakan apa ?." Alvin menatap Ify lembut lalu tersenyum, melihat wajah khawatir Ify seperti ini membuatnya bingung


"Aku tahu kau masih mencintai Rio sampai saat ini." Ify tertegun, Alvin membalasnya dengan senyuman lagi. "Tidak perlu takut, aku memaklumi Ify."
Ada sinar kelegaan dimata Gadis itu.


"Bisakah kita membicarakan hal lain selain ini ?."


"Hanya ini topik ku.... Ku harap kau bisa menjawab jujur jika menghargai ku dengan catatan jujur kepada Sahabat mu seperti dulu bukan sebagai calon suami mu." Alvin menatap Ify dalam, Perempuan itu nampak bingung dan takut namun akhirnya mengangguk ragu. "Akan ku coba."


"Jika diantara Aku dan Rio dulu sangat dulu. Dengan umpama Rio adalah Aku dan Aku adalah Rio ? Apakah kau tetap mencintai Aku sebagai Rio atau Rio sebagai Aku ?." Pertanyaan apa ini ? Benak Ify mengernyit bingung, "aku tidak tahu Alvin."


"Aku tidak tahu, yang jelas walaupun itu yg terjadi dulu. Aku hanya mengikuti kata hati ku, dimana hati ini begitu nyaman disitulah aku berteduh." Ify menatap Alvin, yang ditatap mengangguk lembut.


"Bagaimanapun posisi kalian, tetap ! Aku tetap mematuhi semua kata hati ku walaupun memang ditempatkan berteduh kepada hati sahabat ku sendiri." Ify mengedarkan pandangannya kearah lain. "Kau tidak tahu bukan ? Kalau aku sempat menyukai mu lebih ! Lebih sekedar sahabat." Alvin berdebar sangat cepat dijantungnya, benarkah itu ? Benarkah itu yang dikatan ole Ify dia sempat menyukai dirinya lebih dari sahabat ? Tapi kenapa ? Kenapa Alvin tidak menyadarinya dulu ?. Alvin ingin sekali bertanya kenapa Ify malahan mencintai Rio dan berpacaran dengannya kalau Ify memang mencintai Rio.


"Aku mematikan rasa itu mencoba membunuhnya dengan menjalin hubungan dengan Rio. Aku merasa tidak pantas untuk mencintai mu seperti apa yang ku harapkan mengingat perahabatn yang sangat begitu dekat." Ify berkata dengan jelas seolah mengerti tatapan terkejut Alvin tadi, Ify tersenyum. "Rasa ku padamu telah ada semenjak kita dibangku kelas 2 SMP, kau menjaga ku dengan begitu nekat saat aku diganggu oleh siswa senior SMP kita dulu." Ify terkekeh, dan sukses untuk kesekian kalinya membuat Alvin terloonjak kaget. Jadi ternyata Ify ? Ternyata Ify memendam rasa itu lebih awal darinya ? Ya tuhan Alvin ! Apa yang tidak kau sadari selama ini, Alvin terus menggeretu.


"Ja...jadi kau mencintaiku saat itu ?." Alvin mengangguk mantap. "Iya Alvin aku mencintaimu, seiring berjalannya waktu aku bertemu Rio dan mencoba untuk melupakan mu dan akhirnya aku berhasil."



"Aku berhasil melupakan rasa itu perlahan dan berganti pada Rio, sekarang walaupun aku tak bisa menampik lagi perasaan ku pada Rio terhadap mu. Aku yakin kau bisa mengajari ku kembali mencintai mu Alvin, aku ingin melakukannya sekali lagi." Alvin menggeleng tegas, "Ify ku mohon, ku mohon jangan memotong kalimat ku sebelum aku selesai."


"Kembalilah pada Rio, aku tahu kau sangat menginginkannya." Alvin menggenggam jemari Ify dengan lembut. "Pernikahan ini, pernikahan ini akan tetap berlanjut. Tetapi pernikahan mu dengan Rio bukan dengan ku." Ify tertegun menatap Alvin tajam


"Jangan dulu memotong Ify." Alvin menghela nafa berat. "Aku sangat senang bahkan sangat senang atas pengakuan mu tadi, walaupun rasa itu sudah tak kau miliki lagi untuk ku. Mungkin Tuhan menghukum ku karena dulu telah mengabaikan mu dan terlambat menyadarinya." Alvin mencium jemari Ify lembut.
"Kembalilah Ify, kembalilah pada Rio. Dia yang sangat berhak disamping mu. Kalian memiliki Sadit."



"Walaupun kau menolak dengan ini, aku akan tetap mempersatukan kalian."


"Alvin.." Ify mulai berkaca-kaca.


"Sttttt, ku bilang jangan memotong bawel." Alvin terkekeh geli melihat ekspresi Ify yang benar-benar syok.


"Tadi malam aku memutuskan bertemu dengan Rio dan merencanakan sesuatu agar kau dan dia bersatu, awalnya dia menolak karena ingin menghargai perasaan ku pada mu, aku pun mengancamnya bahwa dia sedikitpun tidak akan pernah tahu atau melihat kau dan Sadit." Hati Ify mulai mencelos bahwa Rio menolak kesempatan itu, hanya karena menghargai perasaan Alvin.


"Ckck, jangan berburuk sangka Ify. Dia pada akhirnya tetap memilih mu dan Sadit, karena ku tahu dia hanya kasihan pada ku. Aku memutuskan untuk keluar negeri menjauh dari kalian, tapi ternyata rencana itu sepertinya sudah kadaluarsa. Mengingat kau sudah menyetujuinya," detik itu juga Ify langsung memeluk Alvin, menangis tersedu_sedu disana tak bisa lagi menahan tangis pedih yang ia rasakan melihat Alvin begitu banyak berkorban untuknya, seandainya Tuhan saat itu juga mengembalikan rasa dulu yang pernah ada rasa dulu yang ia miliki untuk Alvin mungkin tanpa belajar lagi dia pasti akan menerimanya dengan senang hati, tapi saat ini berbeda sangat berbeda rasa itu telah tiada bahkan benar-benar mati permanen seperti tanaman layu yang mati bertahun-tahun lamanya benar kering tak ada tanda kehidupan. Alvin tersenyum lembut senyuman lembut menyimpan kebahagiaan sekaligus kepedihan, bahagia karena perempuan yang selama ini dia cinta ternyata juga pernah mencintainya tanpa ia sadari, dan sedih karena dia telah memantapkan dirinya untuk tidak menghalangi lagi perasaan Ify terhadap Rio, Alvin terus mengusap lembut punggung Ify yang berada dipelukannya memberi ketenangan. Yah ! Dia harus rela. HARUS !!


@FlashbackOff

***************



Rio menggenggam lembut jemari Ify, tersenyum manis kepada istrinya itu, yang kini dimilikinya hanya dia yang memiliki tanpa ada orang lain. "Kau mengingat hal-hal lampau kembali ?." Tanya Rio lembut, Ify tersenyum menatap mata teduh Rio.


"Ada yang salah ?." Rio terkekeh lalu menggeleng. "Tidak, aku hanya cemburu saja kalau yang kau ingat adalah sahabat mu itu." Ify menyentil hidung Rio. "Dasar kekanak-kanakan, bukankah Alvin sedang panik dengan kelahiran bayi kembarnya dikandungan sivia ?." Ify tertawa geli membayangkan ekspresi Alvin saat ini.


"Aku tidak menyangka Rio, bahwa Alvin jatuh kepelukan Sivia. Gadis yang menolong ku dulu, mereka memang pantas bersama. Sivia perempuan yang baik dan Alvin juga begitu, mereka cocok ya ?." Rio mengangguk, "kau benar, mungkin akan lebih cocok kalau kita mempunyai anak kembar juga." Ify melotot dan menepuk bahu Rio. Rio tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Ify yang tiba-tiba syok.


"Benarkah bunda ? Aku akan mempunyai Adik kembar seperti bibi Sivia dan Paman Alvin ?." Tiba-tiba saja Pelangi dan Sadit datang menghampiri Rio dan Ify yang saat itu lagi asyik menonton Tv. Rio menggaruk-garuk tengkuk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Ify masih syok, dan Sadit malahan nyengir tak jelas.



END.... 
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger