Home » » Bahasa Rasa (Part 3)

Bahasa Rasa (Part 3)


Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay

PART 3

Sebelumnya aku tak pernah merasakan…
Hal yang beda darimu…
Namun sampai detik ini aku bingung…
Kau begitu sulit digapai sangat sulit…


******


Pelajaran baru saja selesai, semua siswa dan siswi mulai mengemas semua peralatan sekolahnya dan bersiap-siap untuk pulang. Tapi tidak dengan Ify, dia masih membiarkan alat tulisnya tergeletak sembarangan dimeja. Lalu ia pun keluar dari kelas tak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya.

Murid baru ? Ify tersenyum miris. Suasana yang sama, suasana yang kerap kali ia dapatkan semenjak berulang kali menjadi murid baru. Tak adakah sedikit yang berbeda, mau menerimanya tanpa dijadikan musuh. “Persetan dengan Teman apalagi sahabat.” Gumam Ify lirih, lalu saja air pedih itu kembali muncul ingin membayar semuanya yang selama ini ia tahan.

“Gue dengan senang hati ingin menjadi temen loe.” Ify terlonjak kaget, secepat mungkin ia menghapus air matanya kasar. “gue tahu kok loe nangis,” lagi-lagi suara itu membuat Ify menjadi salah tingkah, lalu Ify menoleh dan mendapati seorang siswa yang berpakaian sama dengannya bermata sipit dan kulit yang putih begitu mendominasi bahwa lelaki disamping ini begitu tampan apalagi terkesan begitu dingin. “gue nggak tahu apa alasan loe bilang jangan sok kenal ? tapi setidaknya gue bisa mendengar alasan loe dulu.” –Alvin- ikut menatap tajam kearah manik mata Ify, Ify tertegun dan hendak beranjak namun lengannya dengan cepat ditahan oleh Alvin

“duduk Ify.” Perintah Alvin, Ify masih bergeming tidak peduli. “dasar keras kepala.”  Batin Alvin ia pun ikut berdiri namun masih menggenggam tangan ify agar perempuan itu tidak pergi dengan seenaknya lagi.

“lepasin gue.” Ucap Ify dengan suara tinggi dan mencoba melepaskan tangannya dari Alvin

“akan gue lepas asal loe mau kasih alasan yang logis atas pertanyaan gue.”

“apa hak loe ?” Alvin tertegun, benar juga ? apa haknya begitu gencar ingin mengetahui kenapa Ify bersikap tidak tahu menahu kepadanya padahal jika di telaah sedikit lagi, itu hak Ify ingin tidak tahu menahu soal pertemuan mereka lalu. Lagi pula itu hanya satu kali pertemuan diwaktu yang singkat dan secara tidak sengaja, mungkin saja Ify tidak peduli dengan pertemuan itu dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu yang tidak perlu untuk diingat. Tapi ? pantang bagi seorang Alvin jika telah menjatuhkan uluran tangan perkenalan kepada seseorang yang ia anggap, mungkin penting baginya pribadi. Ketertarikankah ? ketertarikan dari Ify yang begitu keras kepala dan tidak mau kalah juga telah mnyadarkannya bahwa semua orang tidak bisa ia taklukan begitu saja dengan kata-kata dinginnya kecuali Rio sahabatnya. Apalagi aksi ify yang menyadarkannya dari kesalahan dan membuang jauh-jauh gengsinya untuk meminta maaf telah dipatahkan oleh perempuan ini

“gue memang nggak punya hak, apa salahnya kalau gue mau jadi teman loe ?.” Alvin agak melunak, apa ? melunak ? Hei ! ini bukan Alvin yang sebenarnya kenapa ia menjadi tipe pengalah seperti ini ? ada apa sebenarnya dengan dirinya ?

“lupakan gue.” Jawab Ify singkat dan mampu membuat Alvin menatapnya tajam. “gue memang baru ketemu loe dan itu diwaktu yang benar-benar singkat, apa ini cara loe memperlakukan orang-orang yang sebelumnya sempat mengenal loe ?”

“gue bilang bukan urusan loe, lepasin tangan gue.” Alvin menghela nafas berat, lalu melepas pelan genggamannya dari tangan Ify. “lebih baik loe pulang,” tanpa menjawab ucapan dari Alvin, Ify pun langsung mekangkahkan kakinya tergesa-gesa.


******

Semenjak jam istirahat pertama sampai pulang sekolah yang Rio lakukan hanyalah menunggui Zahra yang terbaring lemas di UKS sekolah. Itu semua atas suruhan Kepala Sekolahnya dan Rio yakini dalangnya adalah Zahra sendiri yang merengek kepada Orang tuanya untuk menyuruh Kepala Sekolah mereka menuruti permintaannya. Yah ! Sekolah ini adalah yayasan milik keluarga Zahra jadi apapun yang akan diinginkan sang tuan Putri itu pasti akan terwujud, padahal bisa saja si Zahra itu beristirahat dengan tenang di rumah bukan masuk sekolah seperti ini “Merepotkan saja.” Rio sampai tak habis pikir sebegitu niatnya kah Zahra untuk mendapatkannya ? ck. Bisa saja Rio menolak mentah-mentah dengan alasan telah mengganggu jam belajarnya disekolah, tapi Rio ingin mengikuti jalan permainan Zahra, saat waktunya telah tiba ia pastikan Zahra tidak akan pernah mengejar-ngejarnya lagi.  Tidak akan pernah !!

Rio  dengan lembutnya membantu Zahra berjalan menuju gerbang sekolah dan disana sudah ada supir pribadinya yang menjemput, awalnya Zahra menyuruh Rio ikut tapi Rio beralasan bahwa dia membawa mobil sendiri dan juga dia ingin mengecek inventaris peralatan musik sebelum pulang, dan sempat Zahra ingin menemaninya dan lagi lagi Rio menolak. Saat mereka berjalan dikoridor perhatian Rio terhenti saat melihat Alvin dan Ify yang sepertinya berbicara serius apalagi dengan aksi pegangan tangan yang dilakukan oleh Alvni lalu Ify pun pergi dengan tergesa-gesa.

Rio mengkerutkan alisnya, bergeming dan seakan lupa akan membawa Zahra ke gerbang. “Rio ! loe liatin apa sih ?”
Seketika Rio tersadar lalu tersenyum dan meminta maaf. “nggak ada, yuk lanjut.” Ucapnya ramah, mereka pun kembali melanjutkan jalan menuju gerbang. ‘apa yang dilakukan mereka ?.’

******

                Rio sejak tadi hanya memperhatikan bintang dan bulan yang nampaknya ingin menghibur dirinya tapi yang ada hanyalah tampang murung yang Rio ciptakan, lalu tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya pelan refleks Rio menoleh dan mendapati sahabatnya –Alvin- lalu ia tersenyum setelah itu Alvin ikut berdiri disamping Rio dan menatap bintang dan bulan yang begitu terang benderang bagaikan sambutan hangat untuk Alvin yang datang.

                “loe kabur lagi ?” Tanya Rio menoleh kearah Alvin, tapi Alvin masih tetap menatap kearah bintang dan bulan.

                “nggak, mereka nggak ada dirumah.”

                “terus ?.”

                “gue mau bilang sesuatu sama loe.” Alvin menatap Rio mantap, dan dibalas Rio dengan mengangkat alisnya sebelah. “katakan.” Ucap rio, Alvin nampak menghela nafasnya berat

                “Jauhin Ify, anggap kita nggak pernah kenal dia. Lakukan kegiatan kita seperti biasa.” Rio tersenyum kembali menatap langit. “mungkin gue nggak bisa Vin.”

                “loe nggak seperti biasanya, jangan bilang loe suka ?” Rio tersenyum miring

                “terlalu cepat buat gue suka sama orang walaupun gue terkenal welcome sama siapa aja.” Rio masih bergeming membiarkan Alvin yang menatapnya dengan tatapan menyelidik. “seharusnya gue yang nanya sama loe, kenapa pakai acara pegangan tangan segala ditaman belakang sekolah.” Alvin seketika menelan ludahnya susah, dilihatnya Rio tersenyum geli lalu ia memasang wajah datar kembali. “gue juga bingung kenapa gue refleks gitu, tapi yang gue mau Cuma minta penjelasan dari dia kenapa dengan mudahnya lupa atau hanya pura-pura.”

                “sebelumnya gue nggak pernah liat loe sepeduli itu sama perempuan Vin.” Lagi-lagi kalimat Rio membuatnya tampak tak berkutik. Benar juga ? kenapa ia merasa aneh seperti ini bukan seperti dirinya sendiri ?

                “gue rasa udah waktunya gue pulang dan topik sudah selesai dibahas.” Ucap Alvin akhirnya membuat Rio tertawa, sedangkan Alvin melangkahkan kakinya tergesa-gesa. “gue harap loe mau bersikap cuek dan dingin atau bahkan kasar sama dia Yo.” Ucap Alvin sebelum menutup pintu kamar Rio meninggalkan Rio yang masih betah berdiri menatap bulan dan bintang.

                “maaf, gue nggak bisa janji Vin.” Gumam Rio


******
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger