Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
********************
"Bagaimana bisa dia lepas dari perhatian mu. Kau begitu ceroboh." Suara berat lelaki bermodel rambut spike itu begitu gaduh sehingga membuat perempuan disampingnya ini sering kecolongan konsen saat menulusuri pandangan disetiap jalanan. Ia mendesah pelan, ke khawatirannya begitu sangat memuncak lalu saja pelupuknya memanas.
"Bisakah kau berdiam sebentar," jawabnya dengan nada tinggi, hingga membuat lelaki disampingnya itu membuang muka dan membanting stir mobilnya.
"Kau ceroboh, benar-benar ceroboh. Aku sangat mengkhawatirkannya, apa kau tidak bisa mengerti ?."
"Kau kira hanya kau yang khawatir, aku lebih khawatir daripada mu. Stop disini, aku bisa sendiri."
"Tidak, kau tetap diam disini."
"Aku bilang STOP !."
"Tidak akan !." Perempuan itu melengos, sekeras apapun dia ingin, lelaki disampingnya itu lebih keras lagi daripada dirinya. Dan dia tidak ingin menambah masalah baru lagi, selang beberapa detik sebuah tangan kokoh menggenggam erat tangannya. Ia tahu, lelaki itu sangat khawatir mungkin dengan kekhawatirannya ia porsir menjadi emosi maka secara tidak langsung semua emosi itu ia limpahkan kepada perempuan itu.
"Maafkan aku, aku terlalu khawatir." Ucapnya masih menggenggam tangan mungil perempuan disampingnya, dia sangat menyayangi perempuan ini dan tidak akan bisa berpindah kesiapa pun. Perempuan disampingnya kini hanya mengangguk pasrah dan ia memaklumi, ia pun luluh dengan melihat wajah khawatir dari lelaki itu.
"Kita cari sama-sama, maafkan aku maaf........." Perempuan itu tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada lelaki disampingnya.
***************
Semua pelayan pada rumah mewah itu berjejer rapi diruang makan, sang majikan berjalan pelan menulusuri pelayannya satu persatu. Dengan langkah yang sangat elegan serta kedua tangan yang ia simpan kebelakang punggungnya menambah kesan kharismatik yang tidak pernah hilang sejak dulu bahkan bertambah Sekarang. Ia berhenti melangkah......
"Perlakukan bocah itu seperti kalian memperlakukan tuan kalian, Mengerti ?." Ucapnya tegas, semua pelayang yang beranggotakan 20 orang itu menundukkan kepala setara pinggang dengan serempak.
"Baik, jika saya mendapat informasi kalian tidak memenuhi keinginannya. Detik itu juga saya kalian pecat." Lelaki itu langsung berjalan menjauh
"Bubar !." Lanjutnya disela-sela ia melangkah.
Ia menatap bocah kecil yang sekarang tertidur pulas dikasur besar miliknya, bocah itu begitu tampan dan tak kalah tampan seperti dirinya. Pipi chubby itu begitu menggemaskan dan selalu ingin mencubit, ia sentuh pipi itu lembut. PANAS !! Langsung saja ia merogoh telepon genggam miliknya dan menelpon dokter pribadi.
"Jadi bagaimana dok ?." Nada khawatir itu langsung menyerbu saat dokter telah selesai memeriksa
"Bisakah kita bicara diluar sebentar." Pinta dokter, lelaki itu mengangguk saja
"Darimana kau menemukan anak itu ?." Ucap sang dokter
"Aku menemukannya saat dilampu merah dan mengetuk-ngetuk kaca mobil, aku kira dia pengamen dan ternyata dia terpisah dengan ibunya. Begitulah hal yang ia katakan sebelum akhirnya tertidur."
"Terus ? Kenapa kau tidak melapor polisi ?." Lelaki itu berdecak kesal, dia ingin tahu penyakit bocah yang telah menarik perhatiannya tadi, bukan diwawancara seperti ini
"Dok., aku ingin menge.........,"
"Aku akan memberitahu mu, setelah kau menjawab pertanyaa ku." Potong sang dokter, seolah-olah mengetahui pikiran lelaki ini. Lelaki itu mendesah pelan.
"Sudah larut malam, aku melihatnya tidak tega. Aku bawa saja kerumah."
"Kau tahu itu anak siapa ?." Lelaki itu mengernyitkan dahinya bertanda bingung, sekaligus ada makna tersirat disana "maksud mu?." Seperti tahu gelagak bingung lelaki itu, sang dokter pun berkata.
"Dia adalah anak salah satu perawat di Rumah Sakit tempat ku bekerja....,"
"Jadi, ku sarankan kembalikan anak itu secepatnya. Dia sangat menyayangi anaknya pasti dia sangat khawatir." Lanjut dokter. Raut wajah lelaki ini seketika menggambarkan ketidak relaan.
"Baik, besok aku akan mengantarkannya pulang." Dokter mengangguk mendengar pernyataan lelaki ini.
"Kau tenang saja, anak itu hanya masuk angin dan kelelahan.....,"
"Kalau begitu aku pulang, ini alamat rumah anak itu." Dokter menulis dengan cepat alamat rumah yang harus lelaki dihadapannya ini tuju besok.
"Hati-hati saja kalau nanti kau pangling saat tahu ibu dari anak itu. Dia begitu muda bahkan seperti kakak dari anak itu, aku permisi." Bisik sang dokter lalu menjauh pergi dan hilang dibalik anak tangga. Lelaki ini mencerna baik-baik apa maksud dari sang dokter, tapi percuma tak sedikitpun ia bisa mengerti. Ditatapnya secarik kertas yang ia pegang......
"Lain kali jangan ceroboh, sedikit lagi anak mu ini ingin ku adopsi!." Batin lelaki itu kesal
*******************
Pelupuk matanya berkantung dan terlukis guratan hitam disana. Entah berapa lama ia menangisdan mungkin tidak tidur semalaman, Lelaki yang selalu setia berada disampingnya bisa merasakan hal yang dirasakan perempuannya ini. Tapi Ia tidak pernah putus asa, mendengar tangisan dan menemani serta membujuknya agar tidak terus-terusan bersedih.
"Menangis bukan jalannya, semalaman kau tidak tidur. Dan kerjaan mu hanya menangis, aku mohon kau tidur."
"Aku tidak akan tidur sebelum anak ku kembali ALVIN, kau mnegerti tidak!."
"Tapi.......,"
*Tok Tok*
Mereka saling bertatapan dan seketika Perempuan ini melayang begitu saja kearah pintu. Ia punlangsung membukanya. "Bundaaa...,"seketika bocah laki-laki menubruknya dan langsung memeluknya, Perempuan itu langsung saja membalas dan memeluk dengan erat. Ia menciumin anaknya ini yang hilang tadi malam tiba-tiba dan sekarang kembali dengan tiba-tiba, ia pun sadar dan melepaskan peluknya menatap jagoannya ini.
"Kau tahu anak nakal, bundasangat mengkhawatirkan mu. Darimana saja kau hah ? Bisakan kau jangan melepaskan tangan bunda yang sedang menggenggam tangan mu Saat dipasar malam itu......,"
"Maaf bunda.". Perempuan itu tersenyum
"Lain kali jangan menghilang begini, kau mau bunda mati hanya karena menangisi mu ?." Anak lelaki itu menggeleng tegas. "Siapa yang mengantarkan mu pulang ?."
"Om yang didalam mobil sana bun." Tunjuk anak itu ke sebuah Mobil sport yang berwarna hitam pekat dan berkilau indah karena terpantul sinar matahari dikaca depannya.
"Panggil dia ya, bunda ingin mengucapkan terima kasih." Bocah itu tersenyum dan berlari gesit kearah mobil yang bertengger manis didepan pagar kayu rumahnya
******
Lelaki itu seketika menegang, seluruh darahnya tiba-tiba mengalir cepat. Suhu tubuhnya seketika hangat dan bergetar,matanya masih menangkap sosok perempuan yang sedang berpelukan dengan bocah yang tadi malem ia temukan dengan cara tidak sengaja. Ia meneguk air liurnya, memberikan tenggorokannya sedikit keleluarsaan untuk lembap. Detak jantungnya begitu cepat terpompa dan benar sulit baginya untuk bernafas. tiba-tiba dan benar Tiba-tiba air matanya begitu saja menetes, entah apa yang ia rasakan saat ini.
"Tuhan, tolong aku. Tolong aku jika yang ku lihat ini hanya halusinasi ku yang begitu merindukannya."
"Tuhan, jika Do'a harapan ku kau jawab sekarang. Ku mohon, ku mohon kutuk aku sekarang juga....,". Ia memejamkan matanya pelan, kembali menetes air mata beningnya secara bergantian, ia buka kembali dan. Benar ini adalah sebuah harapannya yang terwujud. Tapi sekarang ia tak tahu, ia tak tahu bagaimana caranya untuk memulai.
*Tuk Tuk*
Tangan mungil yang menggedor-gedor kaca mobilnya seketika membuatnya sadar. Ia pun membukanya, "Om, bunda aku ingin bertemu om da ingin mengucapkan sesuatu." Ucap bocah menggemaskan itu, lelaki itu tersenyum.
"Katakan pada bunda mu, lain kali saja om mampir yah. Om lagi banyak pekerjaan, titip salam buat bunda mu." Bocah itu cemberut, lalu mengangguk. Akhirnya mobil sport hitam itu meninggalkan rumah itu.

0 komentar:
Posting Komentar