Home »
Bahasa Rasa
» Bahasa Rasa (Part 4)
Bahasa Rasa (Part 4)
Posted by Unknown
Posted on 07.56
with No comments
Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay
Menyendiri. Bukankah itu sudah menjadi teman sejatinya ? hanya itulah sahabat yang selalu setia menemani disaat-saat seperti ini. menikmati ? Ia kembali tersenyum miris lalu memandang kosong lurus kedepan.
“hey ! loe nggak pulang.” sebuah suara begitu mengejutkannya sehingga langsung sadar kembali kedunia nyatanya. Ia mendongak dan mendapati sosok yang tersenyum manis kearahnya lalu mengabaikan senyum itu dan memunguti semua alat-alat tulisnya.
“hmm, mau pulang bareng ?.” ucap suara itu lagi tapi Ia masih tetap tidak memperdulikannya, ia pun mulai beranjak. “loe bisa minggir ? gue mau lewat.” –Rio- sosok itu langsung menggeser tubuhnya pelan memberi jalan kepada Ify untuk lewat.
“Fy.” Panggil Rio, Ify pun langsung berhenti namun tanpa menoleh. “mau gue antar ?
“nggak usah terima kasih.” Ify kembali melangkah namun lagi-lagi ia berhenti karena Alvin yang ternyata sedari tadi berada diambang pintu kelas, Ify menatapnya tajam. Alvin juga melakukan hal yang sama tatapan yang begitu dingin seperti tatapan mencemooh. “siapa yang ijinin loe pulang duluan Yo ? bukannya loe sendiri yang janji ke anak-anak untuk latihan hari ini.” teriak Alvin dari ambang pintu tapi tatapannya begitu sinis kearah Ify, “gue tunggu dilapangan segera.” lalu Alvin pun beranjak pergi.
“Maafin tingkah Alvin Fy, dia memang gitu orangnya,” ucap rio lalu melangkah pelan kearah Ify yang memunggunginya. “ngapain loe minta maaf sama gue ? memangnya temen loe itu ada nyakitin gue apa ?” Ify terus berjalan dengan Rio disampingnya mereka jalan beriringan, seolah-olah Rio tidak perduli dengan janjinya tadi. Tapi ? memang dia tidak mempunyai janji kepada anggota tim basketnya bahwa hari ini Free tidak ada latihan dan Rio tahu itu hanya akalan Alvin untuk membuatnya menjauh dari Ify seketika Rio tersenyum geli melihat tingkah Alvin.
“ya… siapa tahu aja, oiya loe mau pulangkan ? biar gue aja yang antar mungkin rumah kita searah.” Desak Rio, Ify berhenti dan merasa jengkel karena Rio tidak bosan-bosannya mengajak ia pulang bersama, lelaki itu tetap menatapnya dengan senyum manis. “jadi gimana ? mau pulang bareng ?.”
“nggak, gue belum mau pulang.” Ify kembali melangkah dan disusul Rio walaupun saat itu Rio mengkerutkan dahinya karena bingung kenapa Ify tidak mau pulang jelas-jelas ini sudah jam pulang ? ataukah dia ingin jalan-jalan sebentar sebelum pulang ? “loe mau jalan Fy ?”
Ify menatpnya frustasi. “loe tuh kenapa sih ? jadi orang kepo banget pengen tahu aja urusan orang.” Ify menghela nafasnya. “sebaiknya loe ke lapangan, sebelum temen loe yang sok cool itu malahan mikir gue yang minta anterin loe pulang.”
“bukan loe yang minta kan ? tapi gue, yuk gue anter ketempat yang loe mau.” Refleks Rio menggenggam tangan Ify dan menyeret pelan menuju parkiran Ify hanya bisa pasrah karena dia tidak mood untuk menolak.
**********
“kayaknya ada yang lagi kesel nih.” Suara Zahra langsung membuat Alvin yang sedari tadi memperhatikan Rio dan Ify yang akhirnya berujung pada parkiran lalu melesat entah kemana. Alvin menoleh dan mendapati Zahra yang tersenyum licik lalu memegang lembut pundak Avin dan ditepis kasar oleh siempunya. “nggak usah pegang-pegang gue.” Seloroh Alvin namun tambah membuat senyum licik itu mngembang lebar dibibirnya.
“loe kesel sahabat loe udah nggak peduli sama loe lagi ? atau loe cemburu karena sahabat loe ngedeketin anak baru itu ? jangan-jangan loe suka lagi sama anak baru yang sok jagoan, WAW ! seorang Alvin akhirnya bisa jatuh cinta.” Alvin mengetatkan rahangnya menatap tajam kearah Zahra lalu memegang keras dagu Zahra dan siempunya mencoba meronta-ronta untuk dilepas namun sayang Alvin jauh lebih kuat darinya.
“gue turut empati ya sama loe, mau rencana loe kayak gimana pun Rio tetep aja tuh nggak pernah suka sama loe.” Alvin tertawa penuh kemenangan, “jadi ya gue rasa loe deh yang kesel, gue jatuh cinta sama anak baru itu ? apa bukti loe hah ?.”Alvin melepaskan cengkramannya didagu Zahra dengan kasar dan menimbulkan tanda merah didagunya.
“sebaiknya gue mulai ngasih peringatan ya sama loe, gue punya kartu AS loe Zahra. Jadi, jika loe mau Rio masih bersimpati sama loe.....,” Alvin menunjuk tepat diwajah Zahra yang saat itu benar-benar tegang. “jangan pernah loe berlaku konyol dihadapan gue, karena gue terlalu Jijik melihat loe.” Alvin pun langsung pergi kerarah parkiran dan menghidupkan Cagiva lalu melesat. Zahra tertegun ditempat saat mendengar penuturan dari Alvin tadi. Bisa gawat kalau Alvin nekat memberitahu perihal sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh Alvin, tidak ! dia tidak boleh berlaku konyol seperti tadi dan menyulut emosi Alvin lagi.
******
Rio memberhentikan mobinya saat Ify yang refleks berteriak mengucapkan kata Stop ! mau tak mau dengan refleks juga membuat keduanya hampir kejedot. “loe mau bunuh kita Fy ?.”
“maaf gue refleks,” setelah berucap ia pun langsung turun diikuti oleh Rio. Rio ingin bertanya kenapa mereka bearada ditempat ini, tapi ia urungkan melihat Ify yang telah memasuki gerbang.
“Kak IFYYYYYY.” Pekikan suara itu membuat Ify yang tengah berpelukan dengan wanita paruh baya langsung melepaskannya pelan, lalu sekian detik ia telah dikerubuni oleh anak-anak kecil membuat Ify tidak tahan untuk tertawa. Sedangkan Rio yang berdiri diambang pintu hanya melihat dengan takjub namun ia menatap bingung kenapa Ify memilih ketempat ini sebelum pulang sekolah dan juga anak-anak Panti itu seperti sangat dekat dengannya, melihat ke akraban yang begitu hangat disana, Rio memutuskan menghampiri Ify. “Kamu pacarnya Nak Ify ?” Rio berjingkat karena kaget lalu ia menghela nafas lega mendapati wanita paruh baya yang menatapnya geli. “ya ampun bu, saya hampir jantungan.” Rio mengusap dadanya pelan namun kembali sadar. “oiya kenalkan saya Rio bu temen sekolah Ify.” Rio mengulurkan tangannya dengan sopan seraya tersenyum dan dibalas hangat. “Bu Aisyah, pengurus panti. Oh nak Rio temannya Ify ? baru kali ini Ify membawa teman apalagi cowok.” Pandangan bu Aisyah menatap Ify yang sedang bermain dengan asyik bersama anak-anak panti, Rio juga ikut melihat lalu tersenyum. “ sebenarnya saya memaksa ikut bu, Ify sih nggak ngajak sama sekali.” Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kikuk ?
“Kemajuan.” Ucap Bu Aisyah pada akhirnya, Rio kembali bingung. “kemajuan ? maksudnya bu ?.” Bu Aisyah tersesnyum menatap Rio. “nanti ada waktu kamu akan tahu, yang jelas ibu berpesan. Terus dekat dan selalu ada untuk Ify, maka ada saatnya dia akan menganggap mu Tulus kepadanya.”
“ibu, saya benar-benar bingung. Maksudnya apa ? bisa ibu jelasin ke saya ?.” Rio benar-benar bingung dengan semua pernyataan oleh ibu Aisyah, namun percakapan kecil mereka terhenti karena Ify yang kini berada diantara mereka.
“kok loe nggak pulang ? kenapa masih disini ?.” Ify langsung berkata dan membuat Rio menghela nafasnya, sedangkan Ibu Aisyah pamit untuk kebelakang. “gue pengen ikut loe masuk.” Jawab Rio seadanya membuat Ify memutar kedua bola matanya. “mending loe pulang deh, makasih atas tumpangannya.”
Rio menggeleng. “tadi gue pergi sama loe, pulangnya juga akan begitu.” Ify menatapnya kesal. “terserah loe deh, tapi gue nggak akan mau pulang sama loe.” Ify lalu melangkah menuju taman belakang panti dan disana banyak anak-anak panti yang sedang bermain. Sebuah tangan mungil menggenggam jemari Rio membuat Ia berjongkok mendapati seorang anak perempuan kecil yang begitu menggemaskan, Rio tersenyum. “ada apa ?.” tanya Rio
“Kakak siapa namanya ? Pacarnya Kak Ify ya ?. Pacar Kak Ify ganteng banget, Aurel juga mau punya Pacar Ganteng kayak Kak Ify. Pasti kakak sayang banget sama Kak Ify, Iya kan kak ?.” matanya begitu berbinar, sedangkan Rio hanya bisa cengo mendapat kalimat seperti itu dari anak sekecil ini lalu mengangguk mengerti bahwa nama anak kecil ini Aurel. “kamu masih kecil, belum waktunya untuk pacaran. Nama Kakak, Rio. Panggil Kak Rio ya.” Ucap Rio lembut.
“tapi kakak cocok sama Kak Ify. Kenapa nggak pacaran aja, kalau gitu ayo ikut Aurel datengin Kak Ify. Katakan Cinta sama Kak Ify ya kak, sebelum Bang Sion yang duluan.” Aurel menuntun Rio, dan Rio hanya pasrah. “Sion ? siapa dia ?.”
“Bang Sion anak Panti ini juga Kak, tapi dia udah gede. Tapi jarang pulang karena kerja,” Ucap Aurel dan terus menuntunnya kearah Ify. “Kak Ify.” Panggil Aurel, refleks Ify menoleh dan berhenti bermain bersama anak-anak panti, dia tersenyum kearah Aurel dan menganggap tak ada Rio disana, lagi – lgi Rio hanya mendesah. “Iya sayang ada apa ?.” tanya Ify begitu lembut, “beda banget kalau sama gue,” batin Rio.
“Teman-Teman ayo kesini.” Panggil Aurel begitu antusias dan secepat kilat semua anak paanti berkumpul dan membuat sebuah lingkaran kecil mengelilingi Ify, Rio dan Aurel. “ada apa Aurel ?.” tanya anak lain
“Kak Rio mau mengatakan cinta sama kak Ify, ayo kita kasih semangat buat kak Rio biar Kak Ify terima Kak Rio.” Ify langsung melotot dan Rio tertegun menelan ludahnya yang begitu susaj untuk ditelan. Ify menatap tajam kearah Rio yang ditatap hanya membalas dengan gidikan bahu tandanya ini bukan maunya, lalu Rio mendekati Ify dan berbisik sesuatu. “Loe sayang mereka kan ? nggak mau mereka kecewa ?. lebih baik ikuti aturan mainnya, oke ?.” Ify menatao tajam kearah Rio, lalu mendesah pertanda Ia setuju walapun terpaksa.
“kak Ri ayo dong,” Rio juga bingung dia harus berbuat apa, karena sebelumnya dia tidak pernah dan tidak tahu bagaimana caranya nembak cewek, ia sama sekali belum pernah berpacaran kalau sekedar dekat dengan perempuan itu memang sudah takdirnya maybe ?. Rio melirik kearah pot bunga dan banyak bunga disana salah satunya bunga mawar putih, tanpa pikir panjang Rio memetiknya, “Nggak papalah mawar putih, toh ? ini Cuma permainan.” Batin Rio ia kemudian kembali.
Hari berlalu…bulan berlalu..tahunpun berlalu…
Lambangkan segala resah yang ada…
Pada orang yang sama…
Temani aku rasakan cinta…
Hatiku resah…ohh
Temani aku rasakan rindu…
Hatiku gelisah… dimanaa…
Rasakan cinta…
Ify benar-benar salah tingkah dinyanyikan lagu seperti itu, walaupun dia tahu lagu itu tidak selesai dinyanyikan tapi benar-benar memberikan efek yang begitu membuat hati Ify menghangat “kenapa berhenti ?.”, darahnya yang mengalir begitu cepat begitupun degupan jantungnya. Rasa apa ini ?.” Ify benar-benar bingung lalu ia kembali sadar saat tangan mungilnya digenggam oleh seseorang, Rio ? ya Tuhan, hentikan waktunya sebentar.” Ify membatin
“Would yo be my girl Alyssa ?.” Ify tersentak lalu menoleh kearah anak-anak panti asuhan mereka telah berteriak dari tadi agar menerima Rio, ditatapnya Rio kemudian yang mengedeipkan mata kearahnya. Ify menarik nafas panjang lalu mengangguk pelan malu-malu. “Yes, I would Rio.” Entah ada dorongan darimana, Rio refleks memeluknya. “bermain Ify.” Bisik Rio kemudian dan mendapat teriakan histeris dari anak-anak panti.
********
Label:
Bahasa Rasa

0 komentar:
Posting Komentar