Home » » My Galeri

My Galeri


Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -



****************************
Ketiga sahabat ini melenggang dengan santai menuju arah parkir sekolah mereka. Terpaan angin yang begitu saja datang menyapu lembut setiap langkah yang mereka ciptakan, saat hendak memasuki mobil sport salah satu diantanya tiba-tiba saja mereka urungkan dengan alasan mereka baru sadar bahwa anggota mereka satu lagi tak ada saat ini. Lelaki dengan model rambut harajuku berkulit putih dan satu lagi dengan model spike berkulit sawo matang langsung mengangkat bahu, karena mengerti bahasa isyarat dari mata lelaki pemilik mobil sport itu, yang seperti bertanya “dimana dia ?”. Dia menghela nafas panjang saat mengetahui si Pengekor lincahnya itu lenyap dari pengawasan, selang beberapa menit kemudian hentakan kaki yang terdengar tergesa-gesa menyeruak datang seperti suara ombak yang menyapu tepi pantai. Mereka bertiga langsung memusatkan arah pandangan pada sumber suara itu dan menghela nafas lega.

“darimana aja sih loe, nggak tahu apa tuan besar nyari’in ekornya.” Sungut salah satu diantara mereka bertiga, yang  saat itu mengetahui orang yang mereka cari saat ini telah ada dihadapan mereka sebut saja Cakka

“tau nih Ify, kerjaannya ngilang mulu kayak tuyul,” timpal satu lagi bernama Gabriel

“kalau mau kemana-mana loe bilang dulu napa Fy, jadi gue nggak khawatir.” Ungkap salah seorang yang sedari tadi benar-benar mengkhawatirkan Gadis didepannya ini bernama Alvin, Ify gadis yang dikhawatirkan itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan wajah yang dibuat tak berdosa

“gue kan pipis, masak loe bertiga ngawal gue mulu.” Elak ify lalu dengan tanpa dosa langsung masuk ke mobil di jok depan, mereka bertiga hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah gadis itu yang seenaknya. Tapi memang benar sih, masa’ mereka bertiga harus menunggu Ify didepan toilet cewek apa kata-kata cewek yang disana nantinya. Kan seenggaknya Gadis nakal dengan mereka saat ini pamit dulu atau apa gitu biar mereka tidak khawatir.

“tapikan loe bisa bilang dulu Fy ke kita, sms minimal.” Ucap Alvin sambil serius menyetir mobil
“Hape gue lowbat,” jawab Ify sekenanya
“ahh elo pinter banget ngeles,” cakka menjitak kepala gadis itu dengan seenaknya karena ia duduk tepat di belakang Ify, jadi dengan mudah ia bisa menghakimi gadis itu sesuka hati karena telah membuat mereka khawatir
“Ihhh apa’an sih, loe pada lebay sih kan gue risih. Gue bisa kali sendiri tanpa loe loe pada. Oiya besok gue pergi sekolah sendiri males gue ikut loe bertiga dan disekolah jangan kawal-kawal gue, ngerti ?” mereka langsung tercengang saat mendengar penjelasan gadis nakal ini, sampai-sampai Alvin yang mengemudikan mobil langsung berhenti mendadak.
“apa’an loe, kagak kagak. Permintaan loe buruk banget!” bantah Alvin
“pliss deh kak, loe lebay akut tahu nggak. Gue udah gede gue tahu kok jalan-jalan sini walaupun gue baru pindah dari paris.”
“gue bilang nggak yang nggak Fy, ngeyel banget sih loe. Mau loe gue aduin sama Mami Papi loe disana kalo loe nggak mau nurut sama gue, mau ?” tambah Alvin menggebu-gebu, Ify hanya memutar kedua bola matanya dan mendesah pelan
“serah loe dah,” ify langsung malas kalau sudah menyangkut orang tuanya dan pasti dia akan dipulangkan kembali kesana jika macam-maca dengan kakak sepupu ia ini
“sumpah loe nyebelin!” tambah Ify lagi dengan memanyunkan bibirnya selama perjalanan pulang
“bibir loe kurang maju Fy,” tegur Gabriel dan menjadi bahan tawa mereka kecuali Ify yang semakin memanyunkan bibirnya.


****************************


Cahaya matahari kini menembus pada kaca bening besar yang langsung menghadap kearah tempat tidur Ify, dan dengan terpaksa ia harus membuka kedua bola matanya, menguap panjang karena telah selesai berhibernasi ala Ify. Ia ingat akan sesuatu, hari ini kan hari minggu (?) jadwal jam hibernasi jika libur ginikan tidak secepat ini (?) tetapi jika matahari telah terik, bukan matahari dengan sinar yang masih lembut seperti ini. sempat ia menyesali karena bangun terlalu cepat, tapi hanya beberapa menit ia menyesal, dengan ini ia bisa menghirup udara segar dipagi ini mengelilingi komplek dengan sepeda yang ada dibagasi. Buru-buru ia pun langsung bersiap-siap dan tak membutuhkan waktu yang lama, 15 menit kemudian ia telah siap meuju bagasi dan mengambil sepeda lalu jalan-jalan entah kemana kaki ia mengayuh.
Ify tersenyum senang bisa menikmati udara pagi ini di taman dekat komleks rumahnya tidak begitu  jauh jika menggunakan sepeda, ia meneguk air mineral yang tadi sengaja ia bawa dari rumah, memperhatikan orang lalu lalang berolahraga atau hanya sekedar membawa anak-anak mereka bermain ditaman ini. Ramai sekali ! lagi-lagi ia tersenyum, saat melihat seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola dan tak jauh dari ia duduk saat ini, tiba-tiba saja bola itu malahan bergulir kearah Ify, Ify lalu mengambilnya dan menuju kearah anak laki-laki tadi.

“ini bolanya, lain kali kalo nendang jangan jauh-jauh. Nanti bola kamu bisa hilang,” Ify tersenyum dan memberikan bolanya tak lupa ia mengacak gemas rambut anak itu
“makasih kak,” Ify hanya mengangguk senang, dan anak lelaki itu pun langsung pergi kearah orang tunya

*jepretttt* *jepretttt*

          Ify terlonjak kaget saat mendengar suara kamera SLR yang sepertinya membidik gambar kearah dia. Dan benar saja, ada seseorang yang mungkin sejak tadi telah mengambil beberapa foto tanpa sepengetahuannya. Ify langsung geram dan menghampiri orang itu.

          “Heh ! apa apa’an nih ? asal jepret orang.” Ify langsung emosi berat karena enak sekali orang ini asal jepret dia

          “Cuma 2 kok, lagian buat koleksi Galeri gue nanti. Itu pun kalo bagus sih hasilnya.” Ucap orang itu sekenanya

          “apa loe bilang, Cuma ? Cuma 2 dan buat koleksi Galeri loe. Loe sinting ya ? enak banget loe asal jepret gue tanpa sepengetahuan gue lagi.”

          “kalo mau duit bilang kali, nggak usah sok jual mahal gitu karena gue jepret. Loe mau berapa sih,” lelaki itu langsung merogoh saku dan mengambil semua uang yang ada didompetnya, Ify hanya cengo dengan sikap orang yang baru ia temui dan tidak tahu sopan santun ini

          “kenapa ? masih kurang ? gue lagi nggak bawa uang tunai Cuma segitu, kalo kurang nih kartu nama gue.” Ia langsung meletakkan sejumlah uang ditangan kanan Ify dan kartu namanya ditangan Kiri Ify, Ify masih tak bereaksi. Lelaki itu dengan enaknya langsung pergi begitu saja. Beberapa detik kemudian Ify langsung sadar, “apa-apa’an orang itu dia kira gue kere ? dia kira gue cewek apa’an ? sudah tidak minta maaf.” atau apa gitu yang membuat Ify bisa memaafkan sikap sintingnya itu. Ify benar-benar geram lalu dengan langkah cepat menghampiri lelaki sombong itu dan berhenti didepannya, lelaki itu menghela nafas panjang.

          “mau apa lagi sih loe, kan gue bilang kalo kurang loe……………..”

*plakkkk*
Tamparan begitu saja Ify daratkan pada wajah mulus lelaki rese dan sombong ini.
          “Seenggaknya loe bisa kan definisikan kata Maaf itu apa ? dan minimal loe pasti tahukan apa itu sopan santun ? mestinya loe nyadar apa yang loe lakuin barusan jauh dari kata TERPELAJAR !.” Ify langsung mengangkat uang yang tadi berada ditangan kanannya dan refleks melempar bebas tepat diwajah lelaki itu, lelaki itu hanya bisa tercengang dengan perlakuan Ify

          “Mending loe simpen  uang loe, buat nyekolahin loe biar tahu apa itu sopan santun, kata Maaf dan ngehargain orang lain.” Ify mengambil botol minum dan langsung pergi, Lelaki itu hanya terdiam dan menatap punggung Ify kian berlalu dengan sepedanya

********************

Ify menghempaskan tubuhnya asal diatas Sofa, kejadian tadi benar-benar sangat melecehkan. Dia pikir dia siapa ? berani sekali dia seperti itu pada perempuan pula ? jangankan minta maaf, lah ini malah dikasih uang ? memang gue cewek apa’an ?” pikir Ify yang masih sangat amat kesal.

“Dasar cowok SINTING!!” sungut Ify dengan nada yang cukup keras

“weyy weyy ! apa’an loe datang-datang mulut kotor gitu ngomongnya.” Ify seketika menutup mulutnya saat mengetahui ternyata ada Alvin dirumah saat ini.
“kok loe ada disini ? sejak kapan loe datang ?”

“terserah gue lah mau dimana-mana, sejak loe pergi 2 jam yang lalu,” ucap Alvin santai sambil meminum jus mangganya, namun langsung diserobot Ify

“Eh Fy ! itu punya gue, apa’an loe asal nyerobot.”

“bodo ! gue haus.”

“loe kenapa sih ? dateng-dateng malah marah-marah.”

“nggak usah dibahas, gue lagi nggak nafsu buat bahas itu,”

“emang apa’an sih. Loe ah mainnya rahasia-rahasiaan,” ungkap Alvin dengan nada yang dibuat-buat, membuat Ify jadi tak tega juga

“rese’ loe ah, tadi gue jalan-jalan ke taman kompleks. Eh malah nemu cowok yang belagu, sombong dan Sinting disana, asal jepret orang pula. Bukannya minta maaf karena kepergok gue, eh malah dengan seenaknya dia ngasih gue uang, bilang kalau gue marah-marah itu pengen uang dia. Langsung aja gue lempar tuh uang kemukanya. Sumpah ya, pengen gue musnahin tuh cowok.” Jelas Ify menggebu-gebu sambil mempraktekkan uang yang ia lempar seperti kejadian tadi pagi. Alvin berpikir sejenak, lalu mengingat sesuatu.

“napa loe bengong?”

“kayaknya gue kenal tuh orang deh Fy, dia bawa kamera SLR, pake topi terus ada gelang besi ditangan kanannya ?” Ify hanya mengangguk dengan pertanyaan dari Alvin

“itu Rio, Rumahnya tepat disamping rumah loe.” Ify yang lagi minum langsung muncrat kewajah Alvin

“IFYYYYYYYYYYYYYYYY!!”

“eh eh maaf kak, gue refleks beneran deh.” Ify langsung ngambil Tisu buat ngelap wajah Alvin hasil dari semprotannya (?)

“loe bener-bener ya jadi orang,” gerutu Alvin jengkel

“loe sih, kan gue kaget kalo tuh cowok sebelahan dirumah gue. Kan selama gue pindah disini mana ada tuh cowok gue liat.”

“yaiyalah dia nggak ada, dia Siswa yang terpilih pertukaran pelajar di Ausy selama 6 bulan. Dia itu temen gue yang satu lagi selain Cakka sama Gabriel yang hobby motret itu, dia anak SMA kita kali.” Ify kembali tercengang, jadi itu sohib kakak sepupunya ini. astaga hidup Ify sekarang bakal tambah runyam sepertinya.

“loe serius kak ?” tanya Ify tak percaya dan shock

“iyalah, sohib gue paling pengertian tuh. Mana ada dia sombong apalagi belagu, salah nilai loe. Pantesan sih loe nggak tau dia, Pas elo masuk SMA dia keluar negeri.” Ify menggerutu tak jelas. Dan langsung menuju kekamarnya untuk mandi, sedangkan Alvin  sedang asyik bertelepon ria dengan sohib sintingnya itu mungkin. Ify tetap saja menilai cowok itu Sinting dan belagu juga sombong, tersrah apa kata Alvin dah kalau tuh cowok baik, tapi Ify tetap dengan penilaiannya.


****************



Sudah satu jam gadis ini bertengger manis didepan pagar sekolahnya, Alvin dan kedua (?) oh tidak sekarang mereka berempat dengan ditambahnya cowok sinting itu. Tadi pagi ia sengaja minta diantar lebih pagi sama sopirnya biar tidak barengan sama Alvin, gabriel, cakka dan yang pastinya  juga si cowok sinting itu. Siapa namanya ? ahh nggak penting untuk tahu nama tuh cowok rese’. Setelah sampai ke sekolah Ify pun buru-buru ke ruang perpustakaan biar tidak ditemukan oleh alvin dkk karena jatohnya dia bakal dimarahi abis-abisan, saat jam istirahat pun ia kembali bersembunyi di ruang perpustakaan, nah dijam pulang  (?) dia lari menuju toilet bersembunyi disana setelah merasa aman dia pun keluar dari toilet, sekarang lah saatnya ia menunggu sopir untuk dijemput, syukurlah acara sembunyi-sembunyinya ini tidak sia-sia. Tidak sudi bagi Ify bertemu dengan cowok sinting itu, apalagi sekarang dia kan temen kakak sepupunya itu Alvin. Ify kembali jengkel dan gondok jika mengingat wajah sombong lelaki itu. Sebuah mobil sport berwarna merah menyala berhenti tepat didepan Ify, Ify mengkerutkan kening mencari tahu siapa yang didalam tak beberapa lama pintu mobil pengemudi terbuka dan keluarlah seorang cowok (?) astaga si Sinting itu (?) bukankah dia harusnya pulang bersama Alvin, tapi kenapa sekarang malahan ada disini (?) Ify mencoba biasa-biasa saja dan tidak mengenal lelaki itu, dia mengedarkan pandangan kearah lain.

“ehmmm,” deheman itu tidak membuat Ify terusik sama sekali
“gue Cuma mau minta maaf atas kelakuan gue kemarin,” Cowok sinting menurut versi Ify itu pun mengulurkan tangannya pada Ify, Ify masih bersikekeh diam dan pura-pura tidak mendengar. Tangannya sengaja ia lipat didada biar tidak diserobot langsung sama tuh cowok pikir Ify. Merasa tak direspon, Rio kembali memasukkan tangan kedalam saku celana memberi kesan Cowok ini perfect dan cool sekali, Ify pun yang melihat dari ekor matanya melayangkan nilai yang sama. Tapi buru-buru ia tepis untuk apa juga memuji cowok sinting ini (?) Nggak Guna banget untuk dipuji !
“oh, loe masih marah ?. seenggaknya gue udah minta maaf. Gue baru tahu juga kalau loe adik sepupunya Alvin. Kalau nggak keberatan gue nawarin loe buat pulang bareng, sebagai permintaan maaf.” Ify langsung berbalik tepat mengahadap kearah Rio dan langsung melemparkan pandangan matanya ke manik mata Rio, Rio yang dilihat seperti itu langsung kikuk juga. Namun masih bisa terlihat cool dan menganggap itu biasa saja.
“Oh, jadi loe minta maaf sama gue karena gue adik sohib loe ? jadi loe disuruh kak Alvin buat minta maaf sama gue ? terus kalo misalnya gue bukan adik kak Alvin loe gak bakal minta maaf gitu sama gue ? Basi !” setelah berkata panjang lebar Ify pun langsung pergi begitu saja. Rio yang mendengar semua kata-kata Ify tadi Cuma bisa celangap. Apa-apaan cewek itu ? nggak ngerhargain banget, siapa juga yang disuruh Alvin minta maaf sama dia ? orang gue tulus juga. Wahhh nih cewek minta gue bacok kayaknya.”. Tapi acara ngedumel langsung Rio hentikan saat melihat Ify yang hendak menyebrang jalan, dan diarah Kiri ada sebuah Mobil sedan melaju dengan kecepatan Tinggi juga ugal-ugalan. Tak membutuhkan waktu yang lama, Rio langsung berlari kearah Ify, Ify yang sadar tidak bisa berkutik (?) dan hanya diam ditempat.
“AWAAASSSSSSSSSS.”


*********************


Aroma permen pahit langsung menyeruak pada alat indera penciumanya, perlahan arah pandangan ia edarkan keseluruh area sudut ruangan bercat putih polos ini. sesekali ia meringis karena kepalanya yang mendadak pusing sekali.

“Loe udah sadar ? kepala loe pusing ? bentar gue panggilin dokter.” Ucap seseorang yang kelihatannya sangat khawatir sekali, namun baru hendak melangkahkan kaki, lengannya langsung ditahan
“nggak perlu, loe cukup diam disini.” Perintah lelaki itu yang tak lain adalah Rio
“Loe kenapa malah nyelametin gue sih ? Bego’ banget sih loe.” Yah Gadis yang Rio tahan tadi adalah Ify, dia malahan memarahi Rio karena telah menyelamatkan nyawanya dan ditarik kesimpulan. Ify punya hutang nyawa pada Rio, inilah yang menjadi perkara tersendiri bagi Ify
“Loe tau arti dari kata Maaf kan ? dan minimal loe pasti tahukan apa itu sopan santun ? mestinya loe nyadar untuk ngehargain orang lain….,”
“itu kan kata-kata loe kemarin, gue alihin ke Elo ? dan sekarang, siapa yang tidak seperti orang TERPELAJAR ?” Ify benar-benar tercekat, Yah kata-kata itu memang pantas untuknya sekarang. Memang sudah harus kalimat itu kembali alih untuk dituding pada dia. Tapi kan (?) itu murni karena Ify yang masih kesal dengan perlakuan cowok sinting sedang bersama ia saat ini.
“iya iya gue minta maaf.”
“kalo minta maaf doang, nggak bakal buat gue kembali Gagah seperti semula lah.” Ucap Rio seenaknya, dan langsung mendapat pandangan tajam dari Ify, yang mengisyaratkan“Maksud Loe ? To The point deh.” Baru ingin menjawab Rio langsung urungkan  karena melihat ke 3 sahabatnya yang datang dan sekarang menatap khawatir namun arah pandangan mereka langsung beralih pada gadis disamping Rio –Ify-. Ify yang menyadari dia menjadi topik tatapan tajam dari 6 pasang mata itu pun langsung menunduk melihat kearah sepatu sekolahnya yang kini sangat terlihat dekil sekali mungkin akibat kejadian penolongan Rio saat kecelakaan itu. Dia terguling kearah Kubungan air untung yang terkena parah bagian rok sampai ke Sepatu. Ify bernafas lega, sepertinya ke 6 pasang mata itu langsung menghampiri lelaki yang telah menyelamatkan nyawanya itu –Rio-.
“Loe bodoh, seharusnya loe nggak nolong dia. Dia yang pantes ngalamin ini semua Yo !” Ucap Cakka menggebu-gebu, seraya menunjuk-nunjuk kearah Ify. Ify yang tahu bahwa yang dimaksud Cakka adalah dia, memandang tidak percaya kearah Cakka padahal selama ini ia sangat dekat dengan teman kakak sepupunya itu.
“dan biar dia rasain gimana rasanya ngehargain orang lain yang sangat khawatir sama dia.” Kini giliran Alvin kakak sepupunya sendiri yang berucap. Hati Ify mencelos ada makna menyindir disitu. Ada 2 kemungkinan. Pertama, Alvin dkk mungkin sangat mengkhawatirkannya karena tiba-tiba menghilang dan kini menyindirnya,  Kedua, mendengar semua apa yang menjadi topik pembicaraannya bersama Rio sadar tadi.
“paling juga lecet sedikit udah nangis.” Tambah Gabriel. Entah kenapa kalimat dari gabriel yang lebih membeban diHati Ify. Tidak tahan lagi ia pun mengambil tasnya dan menuju pintu ruangan. “kenapa tidak bisa dibuka ? ya Tuhan, ke 3 cowok menyebalkan itu menguncinya.”


**************



 Ify memutar kedua bola matanya, permintaan yang konyol. Ify memang suka tantangan dan menjelajah ke tempat-tempat yang baginya jarang dikunjungi oleh orang-orang. Camping (?) bersama mereka, tapi jika ia tidak ikut bisa mati dia menjadi babu cowok sinting itu. Sekali lagi Ify menghela nafas berat, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Nasi telah menjadi bubur, dan berarti dia tidak bisa membatalkan perjanjiannya dengan ke 4 cowok menyebalkan baginya. Dia disuguhi 2 pilihan agar bisa dimaafkan oleh ke 4 cowok itu. Yang Pertama menjadi Babu Rio sampai Rio sembuh, kedua Ikut Camping bersama mereka. Dan jawaban Ify pun ikut camping saja dan lagi pula dia bisa minta temani dengan teman sekelasnya yaitu sivia dan agni. Tak beberapa lama merenung (?) sebuah ketukan kecil dari pintu kamarnya, dengan malas Ify pun beranjak dari tempat tidur setelah membuka pintu kamar, Ify langsung kaget seketika saat melihat wajah cowok Konyol yang tadi baru saja ia temui di Rumah sakit dan sekarang telah ada disini (?) bukankah dia masih perlu dirawat ? tapi …

“heh ! loe ngapain disini ?” Tanya Ify garang, karena enek melihat wajah cowok dihadapannya ini yang memasang wajah tanpa dosa, malahan masuk seenak jidat dia ke dalam kamar Ify, ify yang mendorong sekuat tenaga agar cowok Sinting itu tidak masuk tak bisa ia pertahankan karena walaupun sakit begitu, dia tetap memiliki kekuatan yang lebih dari Ify. Ditambah lagi dia langsung Tiduran dikasur Ify, membuat si empunya mendelik shock.

“mulai sekarang kamar ini jadi milik gue sampai gue sembuh. Oiya satu lagi, gue berubah pikiran soal camping . Gue batalin perjanjian yang itu, jadi loe Cuma bisa nurutin jadi Babu gue, tapi ya terserah sih kalo loe mau kata maaf. Gue pasti’in loe dijauhin Alvin, cakka, Iyel dan terutama gue karena lo kan punya hutang budi sama gue.” Ucap Rio penuh kemenangan

“oiya, gue mau istirahat. Jadi mending loe jangan berisik. Kalo loe juga mau tidur disini. Ya gak pa-pa sih, nih tidur disamping gue. Sekalian ambilin Kamera SLR gue dirumah gue sebelah, gue kangen dia.” Ucap Rio yang saat itu membelakangi Ify yang msih diam mematung dan mungkin sangat shock apa yang dijelaskan oleh Rio barusan.

“Najong GILA, dasar cowok SINTING LOE.” Dengan penuh kemarahan Ify pun keluar dari kamar dan menutup kencang pintu kamar kesayangannya yang kini telah beralih empunya. Terus ngedumel menuruni anak tangga rumah, lalu dengan berat hati ia pun menuruti apa yang disuruh Rio.

*************
           Tak membutuhkan waktu yang lama, dan ternyata ia disambut oleh pembantu Rio dengan hangat, dekorasi serta beberapa  guci mahal mulai menemani langkah Ify menuju kearah anak Tangga yang Ify yakini akan menemukan kamar Rio seperti apa yang dijelaskan oleh Pembantu cowok sinting itu. Ify berdecak kagum saat mulai menaiki satu persatu anak tangga rumah Rio yang terbuat dari kaca bening yang tebal didalamnya terdapat air, mirip seperti akuarium namun tanpa ikan didalamnya dan itu ada disetiap anak tangga yang Ify tapakkan dengan kakinya, manis sekali ! kesan pertama Ify saat mengagumi rumah Rio, rumah ini mungkin sengaja di desain seperti taman air, karena semuanya hampir terbuat dari air, apalagi tadi saat melewati ruang tamunya, disanalah memang tempat kolam ikan namun lagi-lagi dilapisi oleh kaca bening yang sangat tebal. Ify berhenti mengagumi rumah rio dia kembali menuju tujuan utamanya, yaitu Kamar Rio. Disana tertulis ‘Rio’s Galery Room’. Ify mengeryit saat melihat tulisan yang tertempel pada pintu ruangan itu, dan kata pembantu Rio tadi ada bacaan Galery Galery, mungkin ini kamar Rio.

“aneh sekali, kamar kok dibilang Galery ? galery foto hasil jepretan yang seenak udelnya gitu ? auk ah, yang penting gue masuk dan nyari tuh kamera.” Ify membuka pintu kamar itu, dan melangkahkan kakinya pelan, Ify terperanjat saat mengetahui dan melihat keseluruhan kamar Rio si cowok sinting itu, Ify  mundur 2 langkah dan masih tidak mempercayai kamar ini, lebih tepatnya isi dari kamar ini. KESELURUHAN !
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger