Home » » Bahasa Rasa (Part 6)

Bahasa Rasa (Part 6)


Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay

*********


Rio mengacak rambutnya frustasi. Ya Tuhan ? benarkah itu ? Zahra sudah sejak lama mengalami gangguan jiwa tapi karena orang tuanya begitu menyayanginya dia tetap bersekolah disekolah milik keluarganya ? dan akhirnya perempuan itu menyukainya dan melakukan segala cara agar Rio bisa jatuh Cinta kepada Zahra yang memang GILA ? Rio mengumpat kesal, dan Alvin ? kenapa Alvin tidak memberitahunya kalau Zahra Gila ? padahal Alvin adalah sepupu Zahra sendiri tidak mungkin Alvin tidak tahu tentang rahasia itu ?. Rio menoleh kearah ruangan Unit Gawat Darurat didalam sana ada Alvin, sahabatnya yang kritis lampu ruangan itu masih berkelip merah. Pertanda operasi itu belum selesai dan Alvin kritis karena banyak kehilangan darah. Rio lalu sadar saat, Ify ? secepat kilat ia pun menuju ruangan yang agak jauh dari UGD tempat Alvin. Ia hanya sekekdar ingin melihat kondisi perempuan itu tanpa ingin masuk kedalam karena ia tahu Ify masih syok atas kejadian tadi.

                “Ify, semoga loe baik-baik aja. Ma’afin gue Fy, semuanya karena gue.” Rio menatap nanar dari luar melihat Ify didalam sana yang mengenakan selang infus juga tabung oksigen. Rio hendak berbalik namun bahunya ditepuk pelan, “Teman Ify ?.” seorang laki-laki dewasa sempat mengejutkan Rio, Jika diukur tinggi keduanya begitu sama namun lebih tinggi sedikit Rio daripada dirinya. “iya, gue temen Ify.”

                “Gabriel, kakaknya Ify.” Gabriel mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Rio. “kakak Ify ? sedangkan Ify seumuran gue. Berarti gue panggil kakak aja kali ya.”

                “nggak usah pake’ embel-embel kakak juga nggak pa-pa.” sambung Gabriel seakan tahu pikiran Rio, Rio tersenyum malu. “Rio kak, teman sekelas Ify.”

Gabriel mengangguk. “gue mau cerita sama loe boleh ?,” Rio nampak menimbang, ia menatap kearah ruang jauh disana tempat Alvin masih dalam masa kritis belum ada tanda-tanda operasinya akan berakhir karena suster bilang sebelumnya akan berakhir 3 atau 4 jam lagi. Jadi kemungkinan besar masih lama, tapi itu Alvin sahabatnya saat memutuskan ingin menolak Rio melihat keluarga Alvin dan juga keluarga Zahra sudah ada disana baru datang.

 “bolek Kak, tapi gue mau pamit dulu kesana.” Rio menunjuk ruang UGD, Gabriel mengangguk. “gue tunggu dikantin rumah sakit,” Rio mengacungkan jempolnya lalu menuju keruang UGD.


Rio melangkah pelan memasuki kantin Rumah Sakit matanya menelusuri setiap meja kantin tersebut lalu setelah menemukan Gabriel, Ia pun langsung menghampirinya. “Maaf kak lama.” Gabriel tersenyum. “nyantai aja lagi sama gue, oiya temen loe udah melewati masa kritisnya ?.”

                “Belum, dokter masih berjuang di ruang operasi,” wajah Rio seketika berubah ada mimik kesedihan disana, Gabriel melihat dengan jelas itu. “dan ini semua salah gue.” Sambung Rio kemudian, alis Gabriel teramgkat.

Gabriel menepuk pelan bahu Rio lalu tersenyum. “Ini takdir bro, kita nggak ada yang tahu kalau kejadian ini akan terjadi.”

                “gue mengucapkan terima kasih atas tolongan sahabat loe, karena dia Ify baik-baik aja sedangkan dia sendiri kritis gini.” Rio tersenyum getir. “seperti yang loe bilang tadi, ini takdir kita manusia hanya bisa menjalani.” Gabriel mengangguk

                “apa sebelumnya Ify pernah bertemu kalian ?.” Rio menatap gabriel bingung. “maksudnya ?.”

                “ya, maksud gue adik gue sebelumnya pernah ketemu kalian sebelum ketemu disekolah barunya itu ?.” Rio mengangguk mantap. “iya gue sama Alvin sahabat gue itu pernah ketemu dia dan kenalan juga, walaupun kenalnya dalam waktu yang singkat dia udah buat kita nyaman. Gue maupun Alvin ketemu Ify di tempat yang berbeda.” Jelas Rio

                “udah gue duga.” Gabriel tersenyum misterius matanya kemudian perlahan sayu begitu beda saat tadi, Ia tahu sekarang Rio mungkin sangat bingung namun ia diam saja agar Gabriel terus melanjutkan kalimatnya. “apa Ify setelah ketemu kalian untuk kedua kalinya, dia menganggap tidak pernah kenal loe atau Alvin ?.” tanya Gabriel lagi walaupun ia tahu jawabannya pasti IYA !

                “iya, gue dan Alvin benar-benar bingung timbul banyak tanya kenapa Ify berubah seperti itu nggak seperti pertama kali ketemu. Seolah-olah dia tidak mengenal kami sebelumnya.” Pandangan Rio menerawang. “Ify trauma berteman.” Jawab Gabriel cepat, Rio terpengah. “trauma berteman ?,” tanya Rio berusaha menelan ludahnya tapi susah. “tapi kenapa ?.” sambungnya kemudian

                “dulu, Ify mempunyai sahabat mereka begitu dekat namanya Cakka dan Agni. Ify maupun Cakka dan Agni selalu bersama kemanapun, kadang Cakka atau Agni menginap dirumah. Setelah sekian tahun mereka bersama Agni ternyata melanjutkan sekolah diluar negeri, Ify begitu sedih saat itu apalagi Agni sama sekali tidak berpamit atau memberi kabar padanya. Gue yang awalnya selalu sibuk dengan kuliah mencoba menghibur Ify begitupun Cakka, tapi setelah beberapa minggu kemudian ternyata Cakka menyusul Agni sekolah diluar negeri, tanpa disangka-sangka Ify mempunyai perasaan khusus kepada Cakka, dan Cakka tidak mengetahui perasaan Ify. Yang Ify lakukan saat itu hanya menangis setiap hari, nggak mau makan, mengunci kamar dan terus menyendiri. Gue coba hubungin keluarga Cakka ataupun Agni tapi nggak ada satupun yang berhasil, akhirnya gue pasrah dan melakukan rencana kedua yaitu, membawa Ify ke negeri ini. Lambat laun Ify mulai mau bersosialisasi, tapi yang ia lakukan adalah seperti dia melakukan hal itu sama loe dan Alvin saat ini. teman-temannya menganggap dia gila dan mempunyai penyakit amnesia dan sebagainya. Ify tertekan kembali, sampai akhirnya dia bertemu oleh seorang anak Panti Asuhan bernama Sion….,” Gabriel menghela nafas berat.

                “disanalah ia bisa berbagi senyuman, tawa, canda, suka maupun duka. Disanalah ia mendapat dunia baru dengan teman-teman yang selalu ada, hanya panti asuhan yang bisa membuat ia normal kembali tanpa melakukan hal pura-pura. Dan Sionlah satu-satunya orang setelah gue yang mampu membuat Ify tersenyum dengan tulus tanpa berpura-pura.” Gabriel menatap Rio. “Selama ini itu alasan Ify kenapa dia melakukan hal itu kepada loe dan Alvin, dia hanya takut tersakiti. Ify terlalu lemah, dengan benteng pura-puralah dia bisa bertahan dalam hatinya yang lemah. Dia begitu rapuh untuk disakiti, loe dan Alvin berbeda sama seperti Sion tidak pernah lelah terus mengejar Ify sampai dia luluh, mungkin sedikit demi sedikit Ify akan percaya sama kalian. Jangan pernah buat Ify kecewa satu kali, maka selamanya dia akan menganggap kalian hanya bermain.” Rio tertegun, jadi ini rahasia Ify selama ini ? ini jawaban atas semuanya ? kenapa perempuan mungil itu begitu kasar, cuek dan dingin. Dia sama halnya seperti Alvin walaupun berbeda cara. Begitu tidak mempercayai orang-orang baru disekitarnya, sekali dikecewakan maka akan selamanya menjadi luka tersendiri ? Pandangan Rio kosong, terjawab sudah ! mungkin ini yang dimaksud oleh ibu panti waktu lalu, tepukan dipundaknya membuat Rio tersadar.

                “jangan terlalu dipikirkan, itulah Ify sebenarnya. Jika ingin melihat Ify yang dulu ? loe bisa lihat dia kalau ke Panti, disitu loe dapetin Ify yang asli, ify yang ramah dan selalu murah akan senyuman.” Ucap Gabriel lagi, Rio tanpa terasa tersenyum manis saat mengingat wajah Ify yang berseri-seri saat di Panti Asuhan waktu itu, apalagi wajah merona perempuan itu saat ia hanya berpura-pura menembaknya atas suruhan salah satu anak panti, dan Ify tidak menolak karena ia tidak ingin mengecewakan semua anak panti.

                “gue nggak nyangka Ify serapuh itu.” Ucap Rio yang akhirnya bersuara, Gabriel tersenyum. “semoga loe dan Alvin menjadi orang kepercayaan Ify selanjutnya, dengan itu dia akan menjadi lebih terbuka dan tidak selalu menilai semua orang itu sama seperti Cakka dan Agni.” Nasehat Gabriel, Rio mengangguk mantap. “gue pastikan akan selalu ada untuk Ify,”

                “gue pegang kalimat loe barusan,” mereka berdua pun tertawa bersama, entah kenapa saat semua jwaban itu terjawab saat ini membuatnya tambah nekat untuk terus bersama Ify, entah dorongan darimana itu semua yang pasti ia nyaman bersama Ify apalagi saat perempuan itu tersenyum begitu ikhlas saat dipanti, dan ia juga ingin senyuman tulus itu juga berlaku padanya.


*********


Matanya mulai terbuka sempurna, pandanganya pun mulai bergerak liar mencari jawaban dimana ia sekarang berada. Matanya berhenti saat melihat seseorang yang tengah menggenggam tangannya dan tertidur dengan menggelamkan kepalanya pada tangan yang lipat. Seulas senyuman terpatri dibibirnya yang tersembunyi dibalik alat pernafasan yang membekap hidung sampai ke dagu tirus miliknya.
                “Rio.” Panggilnya lirih, lelaki yang ia panggil Rio itu pun langsung terjaga dan mendongakkan kepala berusaha menajamkan matanya yang saat itu merah, mungkin kurang tidur.

                “Ify, loe udah sadar ?.” tanya Rio sumringah dan mendapat anggukan dari Ify, “gue panggil dokter dulu ya.” Rio mulai beranjak untuk memanggil dokter namun tangannya ditahan Ify, mau tak mau ia pun berbalik. “Aku ingin bertemu Alvin Rio.” Ucap Ify lembut, Rio menggenggam tangan ify lembut.

                “loe harus diperiksa dulu, setelah kita ketemu Alvin.” Jawab Rio tak kalah lembut, Ify menggeleng. “Nggak Yo ! gue mau lihat Alvin sekarang.” Rio tertegun mendengar nada tinggi Ify barusan, Ia berusaha bersikap biasa. “gue ambilin kursi roda.” Dengan cepat Rio pun mengambil kursi roda lalu mengangkat Ify dan mendorongnya sampai ke Ruang Alvin yang sudah melewati masa kritisnya namun Ia koma saat ini. Setelah sampai diruangan itu, Ify tak bisa membendung lagi kesedihannya, wajah Alvin yang begitu pucat seperti salju tidak warna merah hangat disana, bibirnya membiru mungkin banyak sekali darah yang hilang.

                “bisa tinggalin gue Yo ?.” tanya Ify lirih, Rio memejamkan matanya lalu mundur dan menuju pintu ruangan itu. “kalau ada apa-apa panggil gue Fy, gue diluar.” Tanpa menoleh Ify hanya mengangguk, lalu Rio pun telah benar-benar pergi. Detik itu juga tangis Ify pecah, ia menangis tersedu-sedu terus melihat kearah Alvin yang begitu parah keadaanya walaupun saat ini dia telah melewati masa kritisnya. Namun rasa bersalah menguak begitu sajam ia berhutang nyawa pada Alvin. Ia berhutang sesuatu pada lelaki dihadapaannya ini terbaring lemas tak berdaya, tidak lagi menatapnya dengan tajam ataupun sinisnya. Ada sesuatu yang membuat Ify begitu terpukul karena Alvin yang mengalami ini semua, Alvin begitu mirip begitu mirip dengan orang masa lalu yang selama ini masih tersimpan dihatinya walaupun orang itu juga mengkhianatinya. Sebenarnya ia senang melihat Alvin semua yang ada pada diri alvin begitu mirip, wajahnya tentunya. Yah ! dengan melihat Alvin dapat sedikit mengurangi kerinduannya.

                Tanpa terasa Ify menggenggamtangan kekar Alvin yang begitu dingin, “kenapa loe lakuin itu ? loe mau gue berhutang nyawa sama  loe ?.” Ify berusaha menghibur dirinya, namun tangis disana masih kunjung turun tak ingin berhenti. “biarin aja gue mati, udah banyak orang gue jahatin, banyak orang yang benci gue Alvin ! loe BODOH.” Racau Ify

                “loe mau kan bangun ? ayo Alvin bangun, gue mau loe ajarin basket lagi saat awal kita ketemu, gue mau traktir loe makan eskrim lagi kalau kalah main sama loe saat awal kita ketemu itu.” Ify tiba-tiba melepaskan genggamannya, ia pun beranjak dari kursi rodanya. Mencondongkan wajahnya agar lebih mendekat kewajah Alvin….

*CUPPPP*

Sebuah kecupan kening begitu saja Ify ciptakan. “Cepat bangun,” lalu ia pun mulai melangkah dan mengabaikan kursi rodanya disana, tangannya tiba-tiba digenggam lembut, Ify terpengah wajahnya merona. Dilihatnya Alvin masih tetap terpejam tidak ada tanda-tanda ingin membuka matanya. Ify menghela nafasnya lega. “gue kira udah sadar.” Ify tersenyum lalu perlahan melepaskan genggaman lembut Alvin ia mengecupnya dan bergegas keluar ruangan.

Di tempat yang berbeda, dibalik pintu luar ruangan seseorang terus memperhatikannya disana. Ada suatu gejolak yang sangat membuat hatinya memanas tidak mampu untuk melihat semuanya. Entah rasa apa itu ? yang ia tahu ia tidak menyukai pemandangan tadi apalagi sebuah kecupan tadi ? Oh tuhan, ada apalagi ini sebenarnya ? apalagi yang terjadi ? tak mampu melihat itu semua ia pun melangkah setengah berlari meninggalkan tempat itu, ia tak mampu enar-benar tak mampu !!
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger