Tittle :: Bahasa Rasa
Author :: Frisca Ay
*********
Aku bertanya pada hal yang ku anggap pasti, menanyakan seluruh rasa yang mengalir begitu saja ditubuh ini. semakin ku bingung semakin pula rasa ini meluncur hebat. Ada titik dimana aku dituntut untuk menyadarinya sebelum terlambat karena akhir dari rasa ini ialah melapasnya begitu saja, melepaskan hal yang sudah menjadi tujuan rasa ini. Melepasnya …
Semenjak kejadian itu, Ify begitu dekat dengan Rio. Mereka selalu menjenguk Alvin di Rumah Sakit, Ify tidak lagi bersikap dingin seperti dulu. Semakin hari kondisi Alvin makin membaik, ia pun mulai pulih seperti biasa dan sudah bisa diperbolehkan pulang tapi harus terus melakukan check-up untuk mengontrol perkembangannya. Diawal kesadaran Alvin begitu bingung kenapa Ify berubah seperti ini, Tapi ia tak ambil pusing sungguh dengan sikap Ify yang seperti awal mereka bertemu menjadi semangat sendiri baginya apalagi senyuman itu, ah ! rasanya ingin sekali terus melihanya. Setelah mendengar penjelasan Rio bagaimana kondisi Ify sebenarnya dan berbagai pertanyaan yang dulu terus membeban diotaknya terjawab sudah, yah semuanya. Alvin telah mengetahui penyebab Ify seperti itu !
“jadi bener Zahra itu memang Gila Vin ? terus kenapa loe nggak ngasih tahu gue sih ?.” ucap Rio kesal, Alvin terkekeh. “gue mau ngasih tahu loe, tapi kan loe bilang bisa ngadepin Zahra sendiri. Gue urungin deh niat gue untuk bantu loe.” Alvin mengedikkan bahunya wajahnya sudah mulai berbeda ada rona merah disana tanpa pucat.
“tapikan seenggaknya loe bilang kalau tuh anak ada kelainan jiwa, jadi kejadian kayak gini nggak bakal terjadi.” Rio masih saja mengoceh Ria, karena inilah saatnya untuk memarahi Alvin karena sahabatnya itu tidak memberitahu dari awal perihal Zahra yang memang mempunyai kelainan Jiwa. “gue sebenarnya juga nggak tega ngeliat Zahra frustasi, gimanapun juga dia sepupu gue Yo.” Balas Alvin. “yaudahlah, toh udah lewat juga. Dia juga udah ditempat yang bener.” Desah Rio yang juga ikut frustasi, Alvin tertawa geli.
“oiya, tumben hari ini Ify nggak jenguk ?.” tanya Alvin seraya menatap Rio.
“Oh Ify ? dia lagi ke Panti katanya kalau sempet bakal kesini.”
“kenapa loe nggak ikut dia ?.”
“tadinya sih pengen ikut, tapi dia nggak bolehin katanya loe siapa yang nemenin.” Alvin mengangguk mengerti. “loe udah pernah ke Panti Asuhan itu kan ?.” tanya Alvin kemudian, giliran Rio yang menganggukkan kepalanya lalu menatap Alvin seolah-olah bertanya, ‘kenapa loe nanya gitu ?.’
“gue nanya doang.”
“oh, gue mau ngomong.” Ucap Rio kemudian
“ngomong aja, dari tadi juga loe ngomong bukan semedi.”
Rio nyengir. “Gue suka sama Ify Vin.” Pernyataan Rio sukses membuat Alvin membelalakkan matanya, tertegun dan syok itu pasti. “kenapa Vin ? ada yang salah ?.” tanya Rio yang bingung dengan ekspresi Alvin yang aneh
Alvin kembali ekspresi semula datar. “nggak, nggak kenapa-kenapa.” Jawab Alvin gugup
“atau loe ? suka sama Ify juga ?.” selidik Rio, jika mungkin Alvin tadi minum untuk menenangkan hatinya karena pernyataan Rio yang menyukai Ify, pasti Air minuman dimulut Alvin akan menyembur sempurna kewajah Rio. “gue udah pernah bilangkan sama loe ? walaupun ify cewek pertama jadi sahabat gue, gue nggak punya rasa sama sekali sama dia.” Ucap Alvin seraya tersenyum, Rio bernafas lega.
“gue kira loe bakal nonjok gue, karena loe juga suka sama Ify.” Alvin tertawa geli. “gue dukung loe sama Ify.” Ucap Alvin kemudian.
“thanks Vin, gue memang butuhin loe buat deket sama Ify.”
“Pasti Bro,”
************
Saat malam menjelang, Ify menjenguk Alvin di Rumah Sakit. Sebenarnya dia tidak ingin menjenguk malam ini karena dia juga sepertinya kurang enak badan. Tapi mau gimana lagi dia ingin sekali melihat wajah Alvin sekarang juga, dan Ia putuskan untuk menjenguknya walaupun sebentar. Hitung-hitung karena kemarin dia tidak menjenguk Alvin karena pada saat itu ia terlalu lelah sepulang dari Panti Asuhan, dan tadi siang ada pelajaran tambahan mengingat sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian Nasional. Jadi, baru malam ini ia punya waktu itupun kondisinya sendiri kurang sehat.
Ify mengetuk pintu. “masuk.” Suara berat langsung menyambutnya yang Ify tahu bukan lah suara dari Alvin melainkan Rio.
“loh Fy ? kok loe malem-malem kesini ?.” tanya Rio bingung saat melihat Ify yang masuk, Ify tersenyum lalu mengedarkan pandangannya kearah Bed Alvin yang kosong apalagi ruangan itu nampak rapi dan bersih.
“Alvin dimana ? kok Bednya kosong ?.” tanya Ify dan menghiraukan pertanyaan Rio barusan
“oh Alvin ? lagi periksa di ruangan dokter. Dia udah boleh pulang sebenarnya besok, tapi dia pengen cepet yaudah gue urus semuanya malam ini juga.” Jelas Rio sambil tersenyum. “duduk Fy.” Sambungya kemudian seraya menepuk sofa disebelahnya, Ify pun duduk.
“Besok gue jemput kesekolah ya.” Ify menoleh kearah Rio. “nggak usah deh, gue dianter sama Kak Iyel aja. Lagian rumah loe kerumah gue jauh.” Tolak Ify sopan, Rio tertawa geli.
“ngapain loe ketawa ?.” tanya Ify bingung. “muka loe tegang banget Fy, loe nervous ya deket sama gue ?.” Ify langsung cengo mendengar kalimat Rio barusan, lalu memukul rio menggunakan bantal Sofa yang mereka duduki sejak tadi.
“ihhh, loe tuh nyebelin banget tahu nggak.” Dia terus memukul Rio. “Haha, aduh Fy udah udah. Iya iya maaf.” Karena begitu asyik memukul Rio membuat Rio juga kewalahan untuk menangkis setiap serangan dari Ify. Akibatnya Rio pun lengah dengan satu pukulan kuat dari Ify membuat kepalanya jatuh kelantai, seketika Rio pun tak bersuara lagi terbaring dilantai tanpa peralawnan kedua matanya terpejam. Membuat Ify menghentikan aksinya lalu tertegun.
“Rioooo.” Teriak ify khawatir, Rio sama sekali tidak bergerak walaupun Ify sudah mengguncang-guncangkan tubuh Rio. Ify benar-benar kalut, tidak tahu harus berbuat apa. Ia takut terjadi sesuatu pada Rio, “Rio bangun Yo.”
“Yo ! becanda loe nggak lucu. Cepet bangun.”
“Rio, ayo bang…..,” dengan satu tarikan mampu membuat Ify langsung bersedekap diatas dada bidang Rio, membuat Ify tertegun melihat wajah Rio sedekat itu. Rio membuka matanya lalu menyeringai, “loe khawatir ya sama gue ?.” dan langsung membuat Ify sadar lalu memukul Rio kuat malahan membuat Rio kembali tertawa geli.
“sumpah ya ! becanda loe nggak lucu,” marah Ify. “tapi sukses ya, buat seorang Alyssa khawatir hahahha.” Sahut Rio
“loe nyebelin.” Tatap ify tajam, kemudian terpengah saat melihat sesuatu yang turun dihidung Rio.
“Rio ?.” panggil ify panik, Rio berhenti tertawa lalu menatap Ify bingung mengisyaratkan ‘kenapa Fy ?’. “hidung loe keluar darah.” Rio pun langsung membersihkan darah dihidungnya dengan jarinya, tapi… darah itu semakin di bersihkan semakin banyak keluar. Ify langsung mendekati Rio yang saat itu mendongakkan kepalanya keatas agar darah dihidungnya itu tidak terus turun.
Ify bergetar matanya mulai berair. “bodoh,” refleks Rio pun mengehentikan kegiatannya yang mendongak lalu menatap Ify bingung yang saat itu siap menangis.
“heyy, loe kenapa ? kok nangis ?.” Rio jadi gelagapan dan bingung kenapa Ify menjadi ingin menangis seperti ini.
“Maafin gue Yo, karena gue loe mimisan gini. Pasti akibat kebentur dilantai tadi kan ?.” Rio tersenyum lembut. “Bukan salah loe, dan ini bukan akibat tadi. Karena gue kurang tidur aja kali semenjak nemenin Alvin di Rumah Sakit. Jadi ya… Jam tidur guegak keatur apalagi urusan disekolah.” Darah segar kembali keluar dihidung Rio, Rio pun kembali mendongakkan kepalannya keatas. Ify menahan lengan Rio yang akan membersihkan darah yang masih tersisa dihidungnnya, dan saat itu tangan Rio benar-benar diselimuti darah segar. Ify menggiring Rio kembali duduk, “kepala loe rebahan disini.” Perintah Ify seraya menepuk pangkuannya, Rio kembali bingung menatap Ify.
“udah tiduran aja, nggak pa-pa. gue yang bersihin.” Perintah Ify lagi. “nggak ada penolakan.” Sambungnya kemudian saat melihat Rio yang akan melakukan aksi protes. Akhirnya Rio pun pasrah dan tiduran dipangkuan Ify, rasa nyaman kembali tercipta dibenak Rio saat didekat Ify seperti ini.
Ify merogoh tasnya dan mengambil tisu, mulanya membersihakan darah itu dihidung Rio sampai akhirnya darah itupun berhenti juga lalu memberihkan tangan Rio yang sejak tadi berlumuran darah. Rio tersenyum, “makasih Fy.” Ify hanya membalas dengan senyuman lembut.
“lain kali, kalau gini lagi. Kepalanya jangan mendongak keatas, kemungkinan besar bakal menyumbat aliran darah ke Otak. Gue nggak mau terjadi sesuatu sama loe,” jelas Ify. Rio terpana atas penuturan Ify lalu mengangguk pelan sambil tersenyum.
************
Ada saat dimana aku harus menghilang sejenak, membiarkan setiap sensasi rasa yang kau ciptakan menjadi pesan batin untuknya. Membiarkan puing-puing bahagia yang belum terbentuk sempurna menjadi sempurna dengan suasana yang kalian ciptakan bersama. Dan aku ? aku akan menenggelamkan diri jika itu yang terbaik….
Diluar ruangan seseorang menatap kedalam ruangan dengan tatapan yang sulit diartikan, pandangannya terus menembus segala aksi dan gerak-gerik yang ia lihat didalam sana. Sebuah suasana tenang tapi mampu menyayat hati…
“Rio memang pantas buat loe Fy.” Gumamnya
“memperhatikan kalian dari jauh, menyatukan kalian akan lebih baik.” Lalu dia pun tersenyum getir, dengan tatapan yang tak lepas dari kedua sosok yang sedang kembali bercanda didalam sana.
**********
Sudah 1 bulan dari kepulangan Alvin dari Rumah sakit, membuat lukanya tidak terasa lagi sakit. Kegiatan seperti olahraga basket kesukaannya terpaksa vakum selama 1 bulan saat itu, namun sekarang ia sudah bisa kembali dari acara Vakum itu. Kembali memainkan bola bundar berwarna orance.
“Alvin.” Sebuah suara menghentikan kegiatan bermainnya lalu menoleh kearah pintu lapangan Indoor sekolah, perempuan mungil yang masih menggunakan seragam lengkap menghampirinya dengan menenteng 2 kaleng minuman dingin.
“Loe nggak pulang Fy ?.” tanya Alvin saat mendapati perempuan itu ternyata Ify kini dihadapannya. “Pulanglah, gue nggak bakat jadi satpam sekolah.” Jawabnya santai. “oiya ini minum buat loe.” Ify menyodorkan 1 kaleng minuman kearah Alvin dan Alvin mengambilnya lalu meminumnya dengan antusias langsung saja ify menepuk bahunya.
“loe Haus atau apa sih ? nyantai aja kali Vin minumnya.” Tawa Ify
“gue haus, malas ke kantin beli minum.”
“pantesan.” Ify pun merogoh sakunya dan mendapati sapu tangan, Alvin yang tahu pasti Ify akan mengelap keringatnya dengan sapu tangan itu begitu senang. Tapi, kembali ia pendam saat melihat Rio memasuki lapangan, ify sudah ancang-ancang untuk mengelapnya namun ditahan oleh Alvin. “biar gue aja.” Ucap Alvin dingin, hati Ify mencelos. Ingin sekali Ia melakukan itu langsung untuk Alvin, tapi kenapa akhir-akhir ini Alvin menunjukkan sikap ingin menjauh darinya ? Ify mendesah kasar, apakah sikap Alvin tidak bisa berubah dengannya ? tidak bisakah ia juga bersikap biasa seperti dirinya ? walaupun saat ini Alvin memang banyak tersenyum padanya namun sering kali juga ia menghindar entah apa yang membuatnya menghindar.
Ify mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat kearah mereka, -RIO-. Lelaki itu terus tersenyum kearah mereka.
“hay Yo.” Sapa Alvin duluan saat Rio telah duduk disamping Ify, Rio membalasnya dengan senyuman. “gue nungguin loe berdua buat belajar kelompok. Katanya hari ini mau belajar kelompok dirumah loe Vin.” Jelas Rio dan langsung Ify serta Alvin menepuk jidat masing-masing karena lupa. “yaudah yuk langsung aja, ikut mobil gue.” Ucap Rio.
“gue bawa motor Yo.” Tolak Alvin, mereka berdua lalu menatap kearah Ify bersamaan seolah-olah memberi pertanyaan kepada gadis ditengah-tengah mereka ini. “kenapa loe pada melototin gue gitu ?.” ucap Ify gugup.
“loe mau ikut siapa Ify ?” Tanya Rio Gemas
“gue atau Rio.” Sambung Alvin, Ify tampak berpikir. Alvin sejak tadi memandang kearah Rio didapatnya pandangan ingin sekali Ify ikut dengannya.
“eh gue lupa, Fy loe ikut Rio aja ya. Gue mau beli’in Oma gue buah dulu disuper market.” Alvin mulai beranjak diikuti Ify dan Rio. “eh, gue ikut ya sekalian mau beli cemilan.” Alvin tertegun kembali melihat kearah Rio, ekspresi kecewa nampak jelas diwajahnya kembali Alvin menatap ify yang sama sekali tidak peka dengan perasaan Rio.
“bawa aja Vin, gue duluan kerumah loe.” Sahut Rio lalu berbalik dan melangkah keluar lapangan. “Rio.” Panggil ify
“hati-hati ya jangan ngebut-ngebut.” Pesan ify dan hanya direspon oleh Rio dengan memamerkan jempolnya. Alvin dan ify pun juga ikut keluar lapangan, perasaan Alvin campur aduk antara senang dan merasa bersalah. Kenapa ia ingin menjauh malahan Ify mendekat seperti ini.
************
mereka akhirnya belajar kelompok bersama, Ify dan Rio lagi asyik mengejarkan soal matematika sedangkan Alvin lebih memilih mata pelajarannya sendiri yaitu Fsisika. Padahal Rio telah bilang kalau mereka mengerjakan Matematika dulu dan Alvin menolaknya mentah-mentah jadilah dia mengerjakan soal Fisika sendiri. Ify telah selesai mengerjakan soalnya, “selesai.” Ucap Ify dan mendapat perhatian penuh oleh Alvin dan Rio
“coba gue liat.’ Ucap Rio dan mengambil buku tulis Ify, sedangkan Alvin kembali mengerjakan soalanya. Ify mendekati Alvin, “Vin ajarin gue Fisika yang nomor ini.” tunjuk Ify, Alvin mengangguk namun baru akan mengajari suara Rio menghentikan kegiatannya.
“IFYYY !!,” refleks Ify dan Alvin menoleh, “apa sih Yo, gue lagi belajar sama Alvin.” Decak Ify
“jawaban loe hampir salah semua, gimana sih tadi udah gue ajarin. Sini dulu kelarin yang ini dulu baru ke Alvin.” Nasehat Rio. “nanti ajalah Yo, otak gue udah Overdosis sama tuh soal. Gue belajar Fisika dulu aja ya.”
Wajah Rio seketika berubah lalu tersenyum memaksa kearah Ify dan Alvin. “yaudah loe terusin aja belajarnya sama Alvin.” Rio melirik jam tangannya, “Udah sore, gue pulang ya. Nggak tahu kenapa kepala gue sedikit pusing.” Rio mulai beranjak, saat ia akan berdiri langsung saja tangannya ditahan Ify. “loe sakit ?,” tanya Ify cemas, Rio menggeleng. “nggak enak badan aja kayaknya, ntar juga baikan.” Jawab Rio tersenyum lalu ia melirik kearah Alvin.
“Vin, anter dia pulang ya. Maaf nggak bisa lama-lama. Tapi bener, kepala gue pusing banget.” Ujar Rio sungguh seraya mengenakan kembali ranselnya. “iya, hati-hati ya.” Pesan Alvin dan diangguki oleh Rio lalu tersenyum kearah Ify. “gue pulang.” Ify tersenyum manis.
“setelah Alvin sehat kembali, seakan-akan waktu kedekatan kita hanya seperti angin lalu. Datang sesaat dan kemudian kembali pergi. Inti keberadaan gue hanya sebagai pelengkap gue nggak ada pun loe nggak peduli.” Rio membatin disela-sela Ia melangkah, Alvin menatap kepergian Rio dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak menampik bersama Ify membuatnya juga nyaman, membuatnya terasa beda ! perempuan ini mampu mencairkan hatinya. Disisi lain, Rio juga sama menyukai Ify bahkan mungkin lebih dulu Rio yang menydarai perasaannya terhadap Ify daripada Alvin. Alvin tahu sudah terlambat untuknya ingin bersaing dengan Rio, apalagi jika mengingat dia telah berjanji pada Rio bukan ? bahwa Alvin akan membantu Rio untuk mendapatkan Ify. Biarlah, biarlah sekarang Ia dulu merasakan kenyamanan ini. Munafik dan Egois itu sudah pasti menjadi sifatnya sekarang, itu semua karena Ify. Yah ! karena Gadis inilah Alvin ingin memuaskan hatinya dahulu, setelah saatnya tiba, Alvin berjanji akan menjauh sejauh mungkin dan akan menyatukan Rio dan Ify.
“ma’af Yo, kasih gue waktu untuk bersama Ify sesaat. Hanya sesaat.” Batin Alvin lirih
**********
Kapan terakhir kali kau bersama ku ? menciptakan senyuman manis dibibirku ? seakan-akan aku adalah orang paling bahagia karena mu….. semuanya pupus saat ku menyadari cahaya mata mu… cahaya mata mu begitu mengharapkan yang lain. Seakan sirna semua yang pernah kau rasa bersama ku….
Rio membanting ranselnya dikasur dengan asal, lalu memegang kepalanya seperti ingin pecah saat itu juga. “Arggghhh.” Erangnya kemudian. Memang ia tidak berbohong dengan perihal kepulangannya tadi, dia memang merasakan kepalanya mulai pusing dan itu terjadi beberapa minggu ini. Rio kira Ia hanya mengalami penyakit kepala biasa dan meredakan sakitnya ia pun hanya meminum obat pusing lalu setelah itu istirahat sebentar pusingnya pun hilang. Tidak berangsur lama entah hitungan hari ataupun jam rasa sakitnya itu kembali datang dan terus terjadi berturut selama beberapa minggu ini. Cukup membuat kondisi Rio terus drop, apalagi sekarang ujian nasional sebentar lagi.
“Ify.”
Ia melangkahkan kakinya untuk turun kembali kelantai bawah sekedar ingin meminta obat pusing kepada pembantunya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berteriak, berjalan pun susah untuknya. Tapi mau tidak mau ia harus meunju lantai bawah jika rasa sakitnya ini ingin reda kembali, saat menuruni tangga kaki Rio salah melangkah seketika ia pun langsung terguling ditangga. “Arggghhh.”
Pembantu Rio yang mendengar suara nyaring dari arah tangga mendapatkan tuan mudanya tergeletak lemas tak berdaya dibawah tangga dengan kepala yang banyak mengeluarkan darah. “Mas RIOOOOO.” Pembantunya berteriak begitu nyaring sehingga membuat semua orang dirumah menghampirinya dan mendapati sang tuan muda tidak berdaya mereka pun dengan cepat langsung membawa Rio ke Rumah Sakit saat itu kedua orang tua Rio tidak berada rumah karena pekerjaan diluar negeri.
“Ify.”

0 komentar:
Posting Komentar