Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
****************************
Setitik harapan ! itulah hal pertama yang begitu saja menceletoh di bibir gadis manis ini. Sebuah tarikan tipis bibirnya mengembang begitu saja, memamerkan deretan gigi behel miliknya. Manis ! kesan pertama yang selalu disebut – sebut oleh teman-teman gadis itu. Tapi, ia hanya membalas dengan senyuman jika ia kerap disapa sebagai si ‘MANIS’. Bukannya ia suka dipanggil seperti itu, malahan dia berpikir menjadi horor disapa seperti itu, memangnya dia simanis jembatan ancol ? ia bergidik ngeri jika mengingat itu. Perhatiannya kembali memusat pada seleksi Lomba Pianist Contest Nasional yang kini tertempel dengan besarnya pada mading kampus itu, senyumnya lagi-lagi mengembang begitu saja, dibenaknya terus – terusan berputar kata harapan, harapan dan harapan ! inilah mimpi Gadis itu, bukan berarti hanya untuk dikenal saja, tetapi menjadi Pianist muda Profesional yang berbakat. Senyum gadis itu tiba-tiba saja memudar saat seseorang dengan sengaja menyenggol bahunya juga menjatuhkan buku-buku yang ia pegang, arah pandangannya yang tadi memusat pada buku yang jatuh kemudian ia arahkan kepada orang yang dengan sengaja menabrak dirinya. Ia melengos pelan, sangat malas melihat lelaki dihadapannya ini, sedetik kemudian ia pun dengan kesal mengambil buku-buku yang jatuh tadi, Dan bergegas pergi baru akan melangkah lengannya sudah ditahan lelaki itu. Ia pun memutar kedua bola mata indahnya dan membuang muka kearah lain, sangat malas sekali ia berurusan dengan orang ini, jangankan berurusan melihatnya saja ? sudah membuat kehilangan Mood !
Sekian detik, mereka berdua bertahan dengan posisi dan keadaan yang bisa dibilang Romantis ? itu menurut para mahasiswa/i yang sedang melewati mereka berdua. Tapi bagi Gadis itu, ini merupakan hal terbodoh dan sangat memalukan. Ia menyentak kasar lengannya dan lepas juga dari genggaman tangan kekar lelaki itu.
“mau apa loe ?.” tatapan Gadis itu sangat terlihat sinis, ia menyelipkan beberapa helai rambutnya dibalik daun telinga akibat hembusan angin yang tiba-tiba saja datang
“Mr. Geral want you be my counsellor.” Ucap lelaki itu, Gadis dihadapannya itu menatapnya dengan tatapan mengejek
“disini Indonesia, bukan di Amrik.” Tutur Gadis itu yang ternyata bernama Ify
“yang punya mulut gue, jadi suka-suka gue dong. Gue Cuma mau bilang itu, kalau loe nggak becus jadi pembimbing gue, Mr. Geral bakal buat nilai loe ‘D’ semua dimata kuliahnya, selamat membuat strategi,” mata Ify seketika terbelalak saat mendengar pertengahan kalimat yang baru saja dikatakan Lelaki menyebalkan itu
“RIOOO !!” sial. Lagi-lagi ia berurusan dengan lelaki yang tak ia inginkan kehadirannya, kenpa harus Ify yang menjadi pembimbing lelaki itu ? dia bukan asisten dosen ? atau menjadi orang terdekat dosennya ? ada apa ini ? kenapa dia yang menjadi sasaran hal buruk ini ? ya Tuhan ! apalagi yang akan terjadi nantinya ! dia pun bergegas menuju ruangan sang dosen untuk meminta penjelasan.
*********
Ify melengos seraya memutar kedua bola matanya, laki-laki dihadapannya ini sungguh membuatnya muak ! hal apa lagi yang akan ia lakukan sekarang, Ify merasa menjadi orang bodoh setiap kali bersama laki-laki ini. Bagaimana tidak muak ? Ify harus menunggu dia bosan
mengunyah permen karet yang kini ia kunyah, dengan santainya ia mencoret-coret kertas-kertas kosong dihadapannya. Deg’ Ify merasa De Javu ? dulu, ia pernah mengalami hal seperti ini. Pikiran-pikiran buruk itu langsung saja ditepisnya, tidak ! tidak mungkin semuanya tidak mungkin ! tepukan kecil membuatnya kembali sadar, dilihatnya lelaki itu yang kini memandangnya aneh.
“kenapa loe ngelamun ? loe bosan nungguin gue ? yaudah pulang aja ?” Ify cengo dengan kata-kata Rio barusan, Ify memandangnya dengan tatapan sinis.
“Gue akan pulang, jika loe udah catat semua rangkuman yang gue buat ini,” ucap Ify sekenanya, membuat Rio membulatkan matanya
“you’re mad ! it’s very thick.” rutuk Rio
“oh loe nggak mau ? gampang, gue tinggal bilang ke Mr. Geral. Kalau loe mahasiswa pindahan yang sangat pemalas.” Kata Ify cuek
“udah catat aja, sebelum gue pulang.” lanjutnya, Rio menulis dengan sangat kesal. Melihat itu tarikan manis dibibir Ify pun dengan tidak sengaja terbentuk. Senyuman kecil ! Ify mengedarkan pandangannya keseluruh arah sudut rumah Rio, dan kembali lagi kearah Rio yang kini sedang fokus mencatat, pandangannya beralih pada kertas yang Rio coret tadi. Ia pun mengambil kertas itu, Ify langsung terkejut saat melihat coretan ? oh bukan ini bukan sembarang coretan ! tapi sebuah desain rumah klasik yang mewah, Ify memandang kearah Rio sebentar, lalu kembali melihat kertas ditangannya.
“Ri.. Rio ?” panggil Ify pelan
“hmm,” Rio hanya merespon seadanya
“el.. elo punya cita-cita jadi arsitek ?”
“seperti yang loe liat.” Jawab Rio lagi sekenanya
“terus kenapa loe malah pindah kesini, kan kalau loe di Amrik. Loe bisa lebih leluarsa belajar tentang ilmu ini,” entah kenapa Ify ingin sekali tahu apa alasan rio pindah kuliah ke Indonesia.
“gue mau cari cinta pertama gue.” Lagi lagi Rio hanya merespon seadanya, dan membuat Ify kesal karena jawabannya yang sangat tidak masuk akal, yaa walaupun sedikit masuk akal. Rasanya Ify ingin kembali bertanya siapa cintanya ? tapi ia urungkan karena itu privacy Rio, dan dia tidak berhak tahu. Apalagi mereka baru kenal 2 minggu yang lalu
“kenapa sih Mr. Geral yang malahan nyuruh gue jadi pembimbing loe. Kan gue bukan asisten dosen.” Tanya Ify sebal, karena kemarin dia sudah bertemu dosennya itu untuk menanyakan kebenaran yang Rio katakan agar menjadi pembimbingnya. Tapi, saat menanyakan kembali kenapa harus dia yang menjadi pembimbing Rio ? Mr. Geral menyuruh Ify untuk bertanya kembali pada Rio. Nah ! inilah waktu yang tepat.
“gue yang mau !” ucap Rio santai, Ify langsung cengo
“terus gue juga bilang, Cuma loe temen gue di Indonesia.” Lanjutnya, dan kali ini Ify bertambah cengo dibuat oleh laki-laki dihadapannya ini
“loe nggak usah Ge’er. Paling loe bakal jadi pembimbing gue Cuma 3 hari, gue cepet beradaptasi sama pelajaran juga orang-orang kok.” Huh ! syukurlah, Ify bisa bernafas lega sekarang. Waktunya bersama lelaki dingin ini hanya 3 hari, ify tersenyum senang dan membuat Rio bergidik ngeri
“ngapain loe liat-liat gue, catet aja deh ! capek nih gue nungguin loe,” Rio kembali mencatat, merasa Hpnya bergetar Ify pun segera mengambilnya
(Manik’s calling)
Ify mengkerutkan keningnya, lalu mengangkat telepon itu dan pergi agak jauh dari Rio. Rio memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa tergambarkan, terkadang Ify tersenyum bahkan tertawa dengan orang diseberang sana.
“mungkin ini semua jawaban nya,”

0 komentar:
Posting Komentar