Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
********************
Seluruh anak-anak menggemaskan disana berhambur riuh dengan pakaian sesuai dengan cita-cita masing-masing. Ada yang menggunakan baju jas lengkap ala presiden, seragam Dokter, suster, guru, pramugari, pramugara, tentara dan berbagai macam seragam lainnya. Sungguh menggemaskan ...
Sadit yang masih digendongan Alvin tersenyum senang kearah teman-temannya, Seraya bertepuk tangan.Alvin dan Ify tertawa geli melihat Sadit yang begitu lucu. "Kau ingin menghampiri teman mu ?." Tanya Alvin, Sadit mengangguk antusias. Sadit pun langsung menghambur kearah teman-temannya, "Ayo Fy, kita duduk dikursi khusus wali." Ucap Alvin seraya menunjuk kursi khusus untuk para orang tua.
Acara berjalan dengan lancar, dan sekarang tiba saatnya acara pengumuman prestasi murid. Prestasi dari seni seperti murid yang aktif dalam menari, menggambar, membaca atau menulis puisi dan berbagai macam hal. Sampai pada akhirnya, acara hiburan. "Vin, apa kau melihat Sadit ? Ify celingak-celinguk mencari Sadit. "Lihatlah semua teman-temannya sudah menghampiri orang tuanya masing-masing." Ify bergumam kesal, Alvin juga ikut mengadahkan kepalanya kekiri dan kekanan.
"Baiklah untuk semua para orang tua dan anak-anak kami tercinta, kini tiba saatnya kita mendengarkan sebuah lagu yang akan dibawakan oleh salah satu anak kami tercinta Saditya Putra dengan lagu Seventeen- Ayah." Ucap sang pembawa acara yang merupakan salah satu guru TK Al-Izhar. Ify dan Alvin refleks menghadap kearah panggung, betapa terkejutnya Ify kini Sadit benar-benar berada diatas panggung, sendirian ! Apa benarkah tadi Sadit akan menyanyikan sebuah lagu (?) Dengan berjudul Ayah (?)
Detik itu juga Ify sulit untuk bernafas, dadanya begitu sesak.
"Hay bunda." Lambai Sadit diatas panggung dan tersenyum manis dari sana, Ify berusaha tersenyum walaupun sulit sekali ia lakukan itu. Sedangkan Alvin memperbaiki sedikit kacamata minusnya lalu menggengggam lembut tangan Ify.
"Bun, biasanya anak kecil seperti ku selalu menyanyikan lagu Bunda. Tapi aku ingin yang berbeda...," tiba-tiba Sadit menggantungkan kalimatnya, Ia melihat sosok yang berdiri tegap dari ambang pintu, sosok yang entah mengapa selalu membuatnya nyaman bila dekat dengan sosok itu. Sadit tersenyum manis kearahnya, dan dibalas oleh sosok itu. Sadit kembali menatap kearah Ify. "Aku tahu, aku tak punya Ayah karena telah pergi sebelum aku lahir. Aku tidak akan marah kepada Ayah karena telah pergi meninggalkan kita bun, aku masih bisa bersyukur karena aku punya Bunda. Bunda yang sekaligus menjadi Ayah untuk ku." Ucap Sadit lembut dengan mata yang berkaca-kaca, Ify tak bisa lagi membendung air matanya saat itu juga ia menangis dipelukan Alvin. Entah mengapa ia merasa bersalah pada sadit, karena telah membohongi Sadit. Sosok yang berada diambang pintu itu pun langsung menundukkan kepalanya, mengepal keras kedua tangannya, mata ia pejamkan untuk menahan agar tangis itu tak pecah disini. Ia ingin melihat Sadit bernyanyi untuknya (?) Oh tidak, lagu itu bukan untuknya tapi untuk Ify, yang sekaligus menjadi ayah untuk Sadit bukan dirinya. Dan dirinya hanya seorang pecundang yang bisa merutuki dirinya sendiri.
"Dan mungkin untuk Ayah Sadit yang jauh disana, Sadit sayang sekali sama Ayah, Sadit ingin Ayah melihat Sadit bernyanyi, Walaupun Sadit belum pernah merasakan kasih sayang dari Ayah" Semua para orang tua ikut merasakan seperti yang dirasakan oleh Sadit. Mereka iba dan terharu tak banyak juga yang menangis.
"Ayah disini Dit, Ayah melihat mu. Sangat jelas," Riolah sosok yang berada diambang pintu, ia memandang lirih kearah panggung dimana Sadit berdiri. Hatinya begitu Terhenyah mendengar tuturan kata demi kata dari Sadit.
Engkaulah nafas ku ...
Yang menjaga didalam hidup ku ...
Sadit menyanyikan dengan begitu penghayatan, Suara Sadit (?) Dia benar-benar mengikuti darah seni suara ayahnya. Ify memejamkan kembali matanya tak kuat mendengarnya. "Sudah Fy Sudah." Ucap Alvin lembut sambil tersenyum, walaupun Alvin kecewa karena tak ada sedikitpun namanya diselipkan oleh anak kecil itu, Alvin tetap tegar dan masih ingin dan masih mau menerima anak itu apa adanya seperti anaknya sendiri kelak.
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik...
Kau tak pernah lelah...
Sebagai penopang dalam hidupku...
Kau berikan aku semua yang terindah...
Aku hanya memanggil mu.. Ayah
Lain lagi halnya Rio, walaupun sejak tadi ia terus meneteskan air matanya tapi tak sedikitpun ia melepaskan arah pandangannya ketempat lain. Ia terus tujukan pandangan hanya pada satu objek yaitu Sadit. Rasa ingin memeluk dan mengucapkan semua kebenaran terlintas diotaknya saat itu juga. Tapi semua ia tahan kembali saat mengingat karena Ify telah membohongi Sadit bahwa Ayahnya telah meninggal.
Disaat ku kehilangan arah...
Aku Hanya mengingat mu....ayah
Jika aku telah jauh dari mu...
Kau tak pernah lelah ...
Sebagai penopang dalam hidupku...
Kau berikan aku semua .. Yang teindah
Aku hanya memanggil mu .. Ayah
Tanpa ada rasa malu sedikit pun, Ify melepaskan pelukan Alvin ia pun berlari dan terus berlari Kearah panggung, dimana tempat buah hatinya yang kini terus menyanyikan rintihan hatinya, Ify tahu Sadit sangat menginginkan sosok seorang Ayah, sosok seorang Ayah yang akan menjadi teman dekatnya, bukan seorang Ibu yang berusaha menjadi sosok seorang Ayah. Ify tahu Sadit menginginkan sosok Ayah yang memang benar-benar seorang Ayah pada umumnya, Ify tahu itu ! Ify langsung memeluk Sadit, semua para guru dan orang tua bahkan murid-murid juga ikut menangis tak bisa menghindarkan lagi kesedihan yang menyelimuti hari ini. Dan itu karena Sadit ! Yah, bocah kecil yang begitu mengaggumkan bagi mereka. Rio yang saat itu membabi buta tak perduli lagi apa yang akan terjadi, karena dipikirannya Ia harus mengatakan semuanya. Hatinya tak bisa lagi terus mengalah, Rio ingin memeluk jagoannya itu, jagoan yang ia perjuangkan dulu tapi seketika semuanya sirna karena kesalahan bodohnya.
Disaat ku kehilangan arah ..
Aku hanya mengingat mu .. Ayah
Jika aku telah jauh darimu .. Ayah
Aku hanya memanggilmu .. Ayah
Disaat aku kehilangan .. Arah
Saat itu juga, hampir mendekati panggung, ternyata Alvin juga ikut berlari menuju panggung dimana Ify dan Sadit tengah berpelukan dengan Sadit yang terus bernyanyi. Lengkaplah sudah. ! Lelaki itu ikut memeluk jagoannya, Rio diam seketika, marah dalam diam. Menatap tajam kearah Alvin yang dengan seenaknya mengganti posisi dirinya.
Aku hanya mengingat mu .. Ayah
Jika aku telah jauh darimu .. Ayah
Lagu pun akhirnya selesai Sadit nyanyikan, Rio tak bisa melihat semua ini. Ia tak bisa berlama-lama, Ia pun berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu. Sadit mengadahkan kepalanya,mencari sosok yang saat itu masih diambang pintu.tak ada ! Sosok Itu sudah tak ada, dia sudah pergi.
"Tadinya aku berharap Om yang memeluk ku bersama Bunda, tapi kenapa yang ada malahan Om Alvin," batinnya dan terus menatap kearah ambang pintu
**********
Sejak kejadian kemarin siang, Ify terus tampak melamun. Sehingga berulang kali ia ditegur oleh teman kerjanya sesama perawat, Ify menanggapi dengan senyuman dan kembali bekerja.
"Fy, kau baik-baik saja ?." Ujar teman kerjanya yaitu Agni, Ify lantas tersenyum. "Aku baik-baik saja," dan kembali memeriksa beberapa obat. "Kau terlihat pucat, ku rasa kau banyak pikiran dan mengabaikan jam tidur mu. Biar aku saja, kau lebih baik pulang dan istirahat." Saran Agni, namun Ify tetap menggeleng.
"Tidak ag, ini masih pagi."
"Kau masih keras kepala....," desah Agni, Ify masih bergeming
"Kalau kau Sakit, siapa yang akan menjaga mu. ? Sadit terlalu kecil Fy." Ify menatap Agni yang kini melipat kedua tangannya didada, lalu menghela nafas. "Ku rasa saran mu membantu, aku akan Keruangan Dokter untukmeminta izin untuk hari ini." Ify pun beranjak, lalu Agni pun menepuk pelan bahunya sambil tersenyum.
Ify melajukan motor maticnya yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu, sebagai hadiah untuk Sadit dan untunglah tabungannya telah lebih dari cukup. Sinar matahari yang mulai terik membuat Ify beberapa kali menepis keringat yang terus bercucuran, ditambah lagi pusing yang begitu mengganggu konsentrasinya mengendarai motor. Masih lampu merah, Sekali lagi ia menepis keringatnya pusing yang ia rasakan begitu sakit dan membuat Ify memijit pelan jidatnya. Entah mengapa kejadian beberapa tahun silam begitu saja menghapiri pikirannya kembali.
"Ayo Fy, kau bisa." Dengan tenaga yang masih tersisa ia pun melajukan motornya dan sampai juga kerumah.
"Fy, kau sudah pulang. Astaga kau pucat sekali, ayo duduk biar ku buatkan teh hangat. Sadit jaga bunda mu." Sivia langsung menuju dapur, saat itu sivia diminta Ify untuk menjaga Sadit selama ia bekerja. Untunglah Sivia dengan sukarela menerimanya.
"Dit, bunda ingin jawaban dari mu." Sadit yang berada disamping Ify yang begitu pucat, langsung mengangguk antusias walaupun ia tak tahu apa pertanyaan yang akan diajukan oleh Ify.
"Kau siap kalau om Alvin menjadi Ayah mu?." Tanya Ify menatap lekat Sadit yang seketika menundukkan kepalanya. "Dit ?." Ify menghadap kearah Sadit dan mengangkat dagu Jagoan kecilnya itu dengan lembut. "Sadit siap bun," jawab sadit seraya tersenyum manis, membuat hati Ify lega, sebenarnya belum lega karena Ify merasa kalau Sadit menyembunyikan sesuatu. "Kau yakin ?." Tanya Ify sekali lagi, tanpa jawaban verbal, Sadit menjawab dengan anggukan.
"baiklah, kalau begitu kau tak boleh dekat-dekat dengan Om Rio ya, karena Om Alvin akan cemburu kalau kau begitu dekat dengan Om Rio." Nasehat Ify, dan diangguki oleh Sadit lagi. Sebenarnya susah dan sulit bagi Ify untuk mengucapkannya tapi itu ia lakukan untuk yang terbaik. Apa terbaikkah untuk Sadit ke depannya ? Apakah ini keputusan yang tepat ? Dan kenapa disaat semuanya sudah hilang sempurna lelaki itu kembali muncul ?
"Bunda kenapa nangis." Ucap Sadit lalu menghapus lembut air mata yang meluncur bebas di pipi Ify. "Bunda menangis karena bunda bangga, bunda bangga mempunyai jagoan kecil seperti mu." Ify pun langsung merengkuh Sadit dalam pelukunnya dan dibalas oleh Sadit.
************
Sadit mengayuh sepedanya yang baru saja ia dapatkan sebagai hadiah dari Alvin karena telah memanggi Alvin dengan panggilan Ayah. Benar-benar diluar dugaan Ify dan Alvin padahal Alvin belum resmi menjadi Ayahnya kalau dihitung masih ada 5 hari lagi menuju pernikahan Alvin dan Ify. Begitu Alvin mendengar Sadit memanggilnya Ayah, dengan senang dan bangganya Alvin membelikan sebuah sepeda mini yang berkualitas untuk Sadit saat itu juga. Ify hanya tersenyum melihat Alvin yang begitu bahagianya berceletoh ria karena Sadit yang memanggilnya Ayah. "Seharusnya Rio yang dipanggil Ayah oleh Sadit, bukan kamu Vin." Batin Ify lirih.
Alvin dan Ify duduk diteras rumah Ify sambil memperhatikan Sadit yang bermain dengan sepeda barunya. "Vin." Panggil Ify.
"Ya."
"Nanti jangan terlalu memanjakan Sadit, aku tak mau dia tumbuh sebagai lelaki perengek."
Alvin tertawa. "Kau terlalu berlebihan Fy, aku tahu batasan-batasannya. Jadi kau tenang saja ya."
"Ku rasa begitu."
"Bunda, Ayah...," panggil Sadit kearah mereka berdua. Alvin dan Ify pun langsung menoleh kembali kearah Sadit.
"Aku boleh jalan-jalan disana ya." Tunjuk Sadit kearah jalanan kompleks. Ify menggeleng tegas, "tidak boleh, kau baru saja tahu bersepeda."
"Tapi bun..," melas Sadit. "Bersepedalah disana, tapi ingat jangan jauh-jauh." Ucap Alvin, dan langsung mendapat pelototan dari Ify. Alvin hanya menggapi dengan senyuman. "Kau harus belajar percaya pada Sadit, bagaimana pun juga dia anak laki-laki ada kalanya dia berpikir untuk tumbuh dengan kepercayaan dari mu. Agar tak tumbuh menjadi seseorang yang merasa tertekan karena kau yang terus-terusan mengkekangnya." Ify pun menoleh kearah Sadit yang akan keluar dari pagar rumah dan bersepeda disekitar kompleks.
******
Dari sisi yang berbeda, sebuah mobil sport hitam pekat bertengger manis disekitar rumah sederhana itu. Rio terus memperhatikan orang-orang disana. Dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Rio tanpa ia sadari meneteskan air matanya. Sakit ! Begitu sakit sekali. Jagoan Kecil yang ia iming-imingkan sejak dulu telah menganggap dirinya sudah tak ada dunia lagi, ditambah lagi posisinya sebentar lagi akan tergantikan. Rio mendengar dengan jelas bahkan dengan sangat jelas, bahwa Sadit telah memanggil Alvin dengan sebutan Ayah. Hati Rio mencelos dan itu tambah lebih dari Sakit.
"Sedangkan anak ku sendiri telah memanggil orang lain sebagai Ayahnya," ucap Rio miris. Ia pun mengedarkan arah pandangannya bukan lagi ke Alvin dan Ify yang tengah asyik dengan dunianya sendiri, dilihatnya Sadit yang mulai keluar pagar rumah dan mengayuh sepedanya yang akan melewati mobil Rio. Secepat kilat Rio pun keluar dari mobilnya dan berdiri ditengah-tengah jalan membuat Sadit memberhentikan kayuhan Sepedanya.
"Hay dit." Ucap Rio seraya tersenyum, Sadit memperhatikan Rio dari bawah keatas lalu ia nampak berpikir. Rio pun berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sadit. "Kenapa tidak kau jawab salam Om." Rio masih tersnyum lalu mengacak rambut Sadit lembut, namun ditepis kasar oleh Sadit refleks membuat Rio kaget dan tak percaya.
"Sadit." Ucap Rio tak percaya apa yang dilakukan oleh anaknya sendiri padanya.
"Aku tidak ingin dekat lagi dengan Om atau pun kenal dengan Om."Sadit langsung memutar kembali sepedanya menuju kearah rumah lagi. Rio diam mematung, hanya bisa menatap dengan tatapan syok mengartikan setiap kata demi kata apa yang diucapkan oleh Sadit. Tak salah kah dia dengar tadi ? Mimpikah ia saat ini ? Tidak benarkah yang tadi menepis tangannya begitu kasar adalah seseorang yang begitu ia inginkan didalam hidupnya selain Ify ? Rio berharap ini hanya mimpi, ia ingin secepatnya segera bangun dari mimpi buruknya saat ini.
"Apa tadi yang sadit bilang pada ku ? HaHa dia pasti bercanda, dia kan anak nakal dia tidak mungkin lakukan itu. Aku ini Ayahnya yang sebernanya bukan Alvin !." Ucap Rio begitu miris perih sekali, ia tak bisa dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Rio langsung menuju mobilnya.
******
Terlihat seorang pria dengan kacamata minusnya sedang menyeruput kopi hangat yang baru saja ia pesan, ia melirik kearah jam tangan lalu melemparkan pandangan ke luar cafe. Akhirnya orang yang ia tunggu sejak tadi kini tengah seperti mencari-cari seseorang, pria ini mengerti lalu melambaikan tangannya tak menunggu lama lantas orang tadi telah sampai ke mejanya.
Orang itu tersenyum sinis lalu membuang muka. "Ada apa ?." TanyanyaTo the Point
"Duduklah dulu Tuan Mario." Ucap Alvin pria yang tadi melambaikan tangan. Orang yang ia panggil dengan Mario tadi pun mengangkat satu alisnya lalu duduk.
"Kau ingin minum apa ?." Tanya Alvin seraya meminum kembali kopinya. "Aku tak punya banyak waktu." Ucap Rio merasa Alvin sangat begitu basa-basi tak tahukah dia kalau sekarang ia ingin sekali menghajar pria dihadapannya ini. " Cepatlah kau katakan apa yang ingin kau katakan."
Alvin terkekeh lalu merogoh saku jasnya dan menyodorkannya pada Rio, Seketika jantung Rio berdetak tak beraturan ia tahu ini pasti hal buruk. Bahkan sangat buruk dengan Ragu ia pun mengambilnya lalu ia membaca sekilas tanpa ia baca pun Rio sudah tahu terlebih dahulu. Ia menatap Alvin tajam, Alvin tersenyum santai.
"Aku harap kau datang, ini pesta pernikahan ku dan Ify. Sahabat yang ku puja sejak dulu, tapi ku relakan dia karena dia yang menginginkan mu dulu. Tapi sekarang ..?" Alvin menatap Rio dengan penuh kemenangan. "Jangan pernah kau mencoba kembali dikehidupan ku dan Ify. Kesempatan yang ku berikan dulu sudah kau sia-siakan begitu saja, dan apa kau tahu ? Apa kau tahu bagaimana lebih sakitnya aku melihat sahabat ku yang bahkan sangat ku puja dan ku cinta dulu kau sia-siakan begitu saja ditambah lagi kau renggut semuanya dari dia." Ucap Alvin dengan penuh kemarahan, kemarahan yang ia tahan bertahun_tahun.
"Ck. Kau tak tahu masalahnya dan aku....,"
Alvin langsung memotong kalimat Rio."Apa ? Masalah apa yang tak ku tahu tentang pecundang seperti mu ? Hah !." Alvin mulai geram, matanya terus memancarkan kebencian. "Ify sudah bahagia dengan ku Rio, begitu pun dengan ...,"
"Tidak untuk Sadit ! Kau, kau telah membuat dia tertekan kau telah memaksakan kehendak mu yang berlebihan untuk mendapatkan Sadit. Kau terus mengeluh kepada Ify agar Sadit dengan sukarela menerima mu sebagai ayahnya. Apa yang dikatakan oleh Ify selalu menjadi yang terbenar bagi Sadit..." Rio membalas tatapan Alvin yang tak kalah tajam. "Apa kau tak sama pecundangnya dengan ku ? ." Telak ! Benar-benar telak. Alvin diam seketika tatapan yang tadi ditujukan kepada Rio langsung ia alihkan kebawah. Rio benar, ia tak kalah samanya seperti Rio seorang pecundang. "Aku Ayah Sadit Vin, aku ayahnya ! Aku merasa karena Sadit dan aku punya ikatan batin, ikatan antara ayah dan anaknya begitupun sebaliknya. Jadi, apa yang Sadit rasakan juga kurasakan sekalipun hanya melihat itu dari mata atau bahkan gerak-geriknya."
"Dan apa kau merasa ? Apa kau merasa kalau Ify juga mencintai mu ? Apa kau merasa tulusnya cinta mu sama seperti cinta Ify pada mu ?." Rio berdecak meremehkan. "Kau perlu jawaban akurat dari Ify. Aku tahu Ify hanya merasa kasihan pada mu dan tak... Lebih."
Rio beranjak. "Jika tadi ku tahu kau hanya ingin menyulut Api pada ku. Akan ku siapkan bara panas untuk mematikan semua taktik mu ini." Rio pun segera keluar dari cafe, Alvin tetap diam mematung. Memikirkan dan mencerna beberapa kalimat yang membuatnya mati seketika.
"Aku pecundang ? Sadit tertekan ? Ify tak mencintai ku?." Gumam Alvin.

0 komentar:
Posting Komentar