Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
*******************
5 tahun kemudian .....
Sambil mengamit tangan mungil yang beriringan jalan dengannya, membuat perempuan itu khawatir dan merasa bersalah melihat jagoannya itu berkeringat dan ngos-ngosan, langkah mungil yang ia ciptakan perlahan-laham memelan. Perempuan itu menghentikan langkahnya dan berjongkok tepat dihadapan sang jagoan kecilnya.
"Kau lelah ?." Ia tersenyum lembut dan menghapus pelan keringat yang mengucur bebas dari kening menuju pipi sang Jagoan
"Tidak bunda," jawabnya seraya membalas senyum perempuan yang ia panggil sebagai -bunda-
"Kau bohong, bunda akan menggendong mu."Sambil tersenyum jahil, perempuan itu merentangkan tangannya, jagoannya malahan memundur. Membuat sang bunda menautkan kedua alisnya.
"Kau yakin tidak ingin bunda gendong?." Goda sang bunda, jagoannya menggeleng yakin. Mereka Pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Kalau nanti kau sudah tidak sanggup, bilang ya ?."
"Sadit masih sanggup kok bun, cowok harus kuat." Ujar sadit sambil memamerkan gigi putih yang berjejer rapi miliknya, membuat bunda menjadi gemas. Sang bunda merasa de javu, hal ini pernah ia lakukan dulu saat masih bersama seseorang. Seseorang yang selama ini telah menghilang begitu saja tanpa jejak, hanya memberikan satu buah pesan singkat. Dan pesan singkat itu hanya berisi pesan yang secara tidak langsung ingin meninggalkannya, dan ternyata pernyataan itu tepat. Ia pergi, entah kemana dan menghilang begitu saja. Meninggalkan dirinya dengan semua masalah besar, masalah besar yang harus ia tanggung sendiri hingga ia diusir oleh kedua orang tuanya karena menjadi aib keluarga. Ia tidak menyesal dengan masalah itu, masalah itu memang sudah seharusnya ia pertanggung jawabkan. yang sangat sesalkan, ia melakukan itu dengan lelaki yang ia anggap orang yang bertanggungjawab tapi semua penilaian itu musnah saat tahu bahwa itu bual semua lelaki. Hingga akhirnya masalah itu malahan menjadi berkah tersendiri baginya, seorang gadis dermawan membawa ia kerumah dan merawat ia sampai jagoan kecilnya itu berada didunia. Sampai saatnya, ia pun ditawari pekerjaan menjadi perawat untunglah dia memang dari sarjana Keperawatan ia bekerja di rumah sakit yang cukup terkenal di ibu kota. Dengan itu ia bisa mengontrak rumah sendiri yang tak jauh dari Gadis dermawan yang telah menolongnya. Sampai saat ini ia dan gadis itu bersahabat baik.
"Ganti bajumu, setelah itu makan." Ucap sang bunda saat mereka telah sampai dirumah. Jagoannya mengangguka lalu langsung masuk kekamar.
Sang bunda bernama Ify itu, melenggang pelan menuju kearah dapur untuk memasak. Mungkin dengan memasak nasi goreng lebih mudah dan tidak ribet mengingat jagoannya pasti sangat kelaparan sekarang. Jagoannya itu pasti menahan lapar sejak pagi karena mereka yang bangun kesiangan dan akhirnya Ify lupa membuatkan bekal.
"Bunda, kata guru sadit. Sadit harus bayar uang SPP." Tiba-tiba suara sang jagoan sudah ada disampingnya, dia masih berumur 5 tahun dan masih bersenang-senangnya dibangku taman kanak kanak.
"Baiklah, besok bunda menemui guru mu." Ucap Ify lalu meletakkan dua piring diatas meja makan dan mengisinya dengan nasi goreng.
"Bun?."
"Ya." Ify menatap anaknya intens
"Kapan bunda beli motor ?." Ify tersenyum melepas celemek dan duduk dikursi meja makan.
"Kau inginya kapan ?."
"Secepatnya."
"Boleh saja, asalkan ......" Ify menggantung kalimatnya sedikit memajukan wajahnya ke Sadit, Ify menelusuri wajah jagoannya itu sambil tersenyum. wajah ini, wajah ini yang dulunya hampir ingin ia buang karena begitu mirip dengan sang ayah. Hati Ify mencelos saat mendapati bahwa jagoannya ini begitu mirip dengan perawakan lelaki itu. Matanya yang kecoklatan, rambut yang tebal hitam pekat, hidung yang mancung terpahat manis. Dan yang terakhir, lihatlah ia tersenyum senyum itu begitu mirip, mirip sekali dengan didominasi gigi gingsul disana.
"Bun ?." Ucap Sadit tak sabar, Ify tersadar saat sedang menikmati wajah sadit.
"Oh ya....,"
"Asal apa ?"
"Asal kau, bisa berhitung dengan lancar. Tanpa pikir-pikir lama, bagaimana ?" Ify tersenyum jahil, sebenarnya ia tak berniat menjahili sadit yang masih kecil ini. Ia pasti masih belum bisa menghitung sempurna mengingat umurnya yang masih sangat muda.
"Aku sudah bisa bun menghitung sampai perkalian 10." Ujar Sadit antusias, Ify terlonjak kaget. Bagaimana bisa anak ini dan seusia dia bisa menghitung sampai begitu besarnya. Untuk anak yang duduk dikursi kelas 3 sekolah dasar pun belum tentu bisa, tapi ini Sadit (?) Dia baru berumur 5 tahun dibangku taman kanak kanak.
"Sadit jangan bohong." Ujar Ify yang masih kaget
"Benar bunda, Sadit tak pernah bohong sama Bunda."
"Coba hitung dari perkalian 1 sampai sepuluh perkalian." Sadit mulai menghitung dari perkalian 1 berlanjut ke 2 begitu pun seterusnya hingga ke perkalian 10.
".............. Sembilan kali sepuluh sama dengan sembilan puluh. Sepuluh dikali sepuluh sama dengan seratus ." Ucapnya ngos-ngosan, benarkah ini (?) Ify terharu dan tak sengaja menjatuhkan air matanya. Langsung saja Ify memeluk Sadit, ia tidak menyangka kalau jagoannya ini juga memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Itu Ify ketahui sudah sejak Sadit berumur 1 tahun karena ia tak percaya maka dari itu hanya menganggap bukan kecerdasan tapi hanya kelakuan biasa anak kecil, di umur 1 tahun Sadit sudah berbicara dengan lepas walau memang khas anak kecil, disaat beranjak 2 tahun huruf 'R' dan 'L' sudah bisa ia bedakan.
********************
Ia menatap nanar kearah panggung mini sana, hatinya semakin tercabik-cabik. Disinilah tempat ia terakhir melihat wajah seseorang, seseorang yang selama ini masih tergenggam dihatinya sulit untuk sangat sulit dan bahkan sangat mustahil. Ia meneguk kopi hangatnya, begitu nikmat mengaingat lagi suasana diluar yang dingin karena baru saja terguyur hujan. Ia memasukkan laptop kerjanya pada tas, meninggalkan selembar uang. Lalu ia pun bergegas pergi, ia tidak sanggup untuk berlama-lama ditempat ini, karena itu hanya akan membuat pikirannya keruh.
Tepat lampu merah, ia pun berhenti. Tak beberapa lama seorang anak kecil mengetuk-ngetuk pintu mobilnya. Ia pun tersenyum, lalu memberi beberapa lembar uang.
"Uangnya disisihkan untuk ditabung ya." Ucap lelaki itu, anak kecil itu menggeleng bahkan mengembalikan uangnya. Selang kemudian ia menangis, membuat lelaki itu kaget setengah mati. Dilihat dari penampilan anak kecil itu, memang tak sedikit pun dia ingin mengamen atau semacamnya. Lelaki itu keluar mobil dan menyuruh anak itu masuk.
"Hey, kenapa menangis ? Om tidak jahat."

0 komentar:
Posting Komentar