Home » » TEMU ( Part 4 )

TEMU ( Part 4 )


Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -


************* 

Semua berkas yang kini dihadapannya teranggur dan menumpuk dengan sukarela, pertemuan atau meeting-meeting penting lainnya ia cancel begitu saja saat sang sekretaris baru saja menemuinya beberapa menit yang lalu. Ia sibuk memikirkan kejadian tadi pagi, Perempuan itu dan bocah itu (?) Benarkah (?) Argggg! Ia mengacak rambutnya frustasi hingga berantakan, dasi ia longgarkan jas yang ia gantung sembarangan pada kursi jabatan tingginya. Beberapa waktu kemudian ia menarik nafas dan menghembuskan mantap, lalu ia pun langsung keluar ruangan dan sebelumnya memberitahu sang sekretaris untuk menghandle semua pekerjaannya. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia pun menuju mobil sport hitam pekat dan melajukannya. 


************ 


Ia membuka pelan pintu ruangan besar ini, yang bercat putih polos dan dipadu dengan warna Les biru muda yang cerah. Ia masuk danmelangkah pelan.... 


"Dokter memanggil saya ?." Perempuan itu bertanya. Dengan sopan 


"Iya Ify, silahkan duduk." Perempuan yang disebut -Ify- itu pun mengangguk dan segera duduk. 


"Ada apa ya dok ?." 


"Ada yang ingin bertemu dengan mu." 


"Tapi jam kerja masih beberapa jam lagi, dan juga banyak pasien yang belum saya periksa perkembangannya." Sang dokter tersenyum 


"Semua pekerjaan mu sudah beres, karena sudah ada yang menggantikan." 



"Memang siapa yang ingin bertemua saya dok?." 



"Orang yang menemukan dan mengantarkan anak mu pulang waktu lalu. Kau Tidak ingin bertemu dengannya dan berterima kasih, dia juga ingin berbincang dengan mu sebentar.....?." 



"Pergilah, dia sudah lama menunggu." Ify menatapdokter bingung, Ify memang mengetahui kalau anaknya saat ditemukan orang itu mengalami sakit ringan. Seperti kelelahan, dan dokter ditempatnya bekerja inilah yang memeriksa sekaligus memberitahukan orang yang menolong anaknya itu untuk mengantarkan Sadit pulang. Ify mengangguk ragu, lalu membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Segera ia mengganti baju putih ala perawat dengan baju biasanya. Kaos oblong berwarna putih dan jeans ketat berwarna merah. Tubuhnya yang ramping dan kaki jenjang yang eksotis sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia hampir kepala 3. Ia melangkah tergesa-gesa menuju cafe yang dekat dengan Rumah sakit tempat ia bekerja, karena dokter bilang orang itu menunggunya disana. 


Entah kenapa jantungnya berdegup kencang seperti degupan saat ia ingin bertemu seseorang dimasa lalunya. Apalagi ditambah dengan cafe ini, cafe yang dulu menjadi tempat suka dukanya bersama orang masa lalu. Ify melangkah mantap, baru saja seorang waiter mengatakan bahwa orang yang menunggunya berada dimeja nomor 24. Orang itu membelakanginya, ia sedang menyesap minuman hangat, jantung Ify bahkan lebih memompa lebih cepat lagi. Punggung ini, punggung yang mirip Dan sering ia tubruk, memeluk punggung itu sesuka hatinya dulu. Tidak! Tidak mungkin, semua hanya halusinasi. 


"Maaf, apakah anda.......,"pandangan mereka saling bertemu, sama-sama dalam posisi yang kaku, jantung terpompa begitu cepat. Hal-hal lalu begitu saja lalu lalang dipikiran Masing-masing. Sinar mata diantara keduanya saling berkata, kerinduan yang selama ini dipendam begitu saja menjalar keluar. Desahan nafas tak bisa lagi beraturan, beberapa tahun tak bertemu dan kini bertemu pada waktu yang terbilang aneh, apa sebenarnya rencana Tuhan ? Apa sebenarnya yang akan ditakdirkannya ? Lelaki. Itu sadar dan berdehem, mereka saling membuang muka satu sama lain. 



"Terima kasih sebelumnya sudah menolong anak saya,dengan apa saya bisa membalasnya." Suara Ify begitu gugup saat berkata, Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengatur emosinya agar tidak meledak sekarang. Ia harus bisa sebiasa mungkinmenganggap semua yang lalu tidak pernah terjadi. Kegelisahan dan ketakutan saat mengingat Sadit, langsung membuat tatapan Ify berubah tajam. 



"Itu.. Sudah tanggung jawab ku." Balas Rio tak kalah gugup. "Duduklah Ify," 



"Maaf, saya tidak bisa berlama-lama. Saya harus menjemput anak saya pulang sekolah." Ucap Ify beralasan, saat ia ingin melangkah tangannya ditahan. "Aku ikut." 



"Tidak perlu." 



"Aku tahu dia anak ku !!." Ucap Rio dengan intonasi yang memberi penekanan disana, Ify tersenyum sinis dan mata yang mengarah tajam ke Rio. 



"Apa anda bilang? Anak saya adalah anak anda ?. Jangan pernah berharap ! Permisi." Ify menyentak kuat tangannya akhirnya bisa lolos juga, ia pun pergi dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.. 



*********** 


"Bunda bilang akan membeli motor secepatnya ? Tapi kenapa sampai sekarang belum juga ?." Ucap Sadit. Ify dan Sadit jalan beriringan dengan tangan yang digenggam menuju kearah gerbang 



"Kau sabar sebentar ya, bunda pasti akan membelinya. Bagaimana kalau sekarang kita melihat-lihat motor yang akan kita beli nanti sampai tabungan bunda cukup untuk membelinya." Ucap Ify seraya berjongkok membenahi dan menghapus keringat yang mulai bercucuran dipipi chubby Sadit. Sadit mengangguk mantap, lalu Ify pun berdiri seperti semula dan menggenggam tangan Sadit seperti semula.baru beberapa langkah keluar dari gerbang, langkah mereka seketika berhenti karena mobil sport hitam menghalangi jalan mereka. Sadit langsung melepaskan tangannya dan dengan cerianya menghampiri sang pemilik mobil itu. 



"Sadittttttt !!!!!." Teriak Ify, dan ternyata Sadit telah bertengger dalam gendongan lelaki pemilik mobil itu -Rio- 



"Sadit, ayo turun." Bujuk Ify, Sadit menggeleng tegas dan malahan melingkarkan tangannya pada leher Rio. Rio tersenyum senang dan menghampiri Ify. 



"Mau apa kau membuntuti ku." Semprot Ify, Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 



"Aku... Aku hanya ingin bertemu Sadit. Iya kan Sadit," Ucap Rio tersenyum dan dibalas oleh Sadit, Ify membuang muka dan memasang wajah kesal. 



"Ayo Sadit kita pulang," Ify berusaha mengambil alih Sadit yang ada diGendongan Rio secara paksa. Lelaki itu tetap mempertahankannya ditambah lagi Sadit yang mengeratkan tanganya yang masih memeluk leher Rio. 



"Ayo Nak pulang, kenapa Sadit bandel seperti ini sama bunda." Bujuk Ify 



"Kita pulang bersama Om Ganteng saja bun, iya kan Om ?." Tanya Sadit dan langsung saja Rio mengangguk mantap dan tersenyum 



"Langit sebentar lagi hujan Ify, jadi kuharap kalian ku antar pulang." 



"Tidak !!." Ify melangkahkan kakinya menjauhi Sadit dan Rio 



"Bunda mau kemana ? ." Teriak Sadit, tapi Ify tidak memperdulikannya 



"Om, ayo kita kejar bunda." Tanpa babibu lagi mereka masuk ke mobil dan Rio menggas pelan mobilnya beiringan dengan langkah Ify, Ify sama sekali tidak memperdulikan mereka yang terus-terusan memanggilnya untuk masuk. Rintik-rintik hujan mulai turun dan mulai berubah menjadi serbuan air langit yang deras. Tubuh Ify basah kuyup, seketika Rio tertegun saat mendapati baju kaos putih Ify yang terang. Rio menghentikan mobilnya dan langsung keluar membuka jasnya lalu membalutkan kepada tubuh mungil Ify, Ify berontak namun Rio lebih sigap. Rio langsung menggendong Ify dan memasukkannya dalam mobil, akhirnya Ify pasrah. 



"Jangan keluar, jika kau tidak mau....Sadit ku bawa. Pulang." Ify mendelik mendengar ucapan dari Rio yang berbisik ditelinganya. 





************ 



Ify baru saja mengganti bajunya dan mengganti baju Sadit, Ia pun segera membawa 1 gelas coklat panas dan 1 gelas susu. Dilihatnya Sadit dan Rio yang sedang beradu Ketangkasan tangan pada benda yang sering disebut dengan stick dan induknya bernama Playstation. Ify tak sadar bahwa ia tersenyum melihat keduanya yang saling berteriak satu sama lain. Suasana sederhana ini yang ia inginkan dulu, tapi semua tidak akan mungkin karena semua telah berubah dan benar-benar telah berubah. Ify memandang Rio yang hanya menggunakan celana kerjanya dan baju kaus dalaman saja, sedangkan kemejanya basah akibat Rio yang secara paksa keluar dari mobil dan memasukkan Ify kedalam mobilnya disaat hujan yang sangat deras tadi. Ify ikut duduk namun disebelah sadit, jadi jejerannya Rio-Sadit-Ify. 



"Minum dulu," Ify memberika segelas coklat hangat kepada Rio dan segelas susu pada Sadit. Dan diterima keduanya dengan senyuman. 



"Terima kasih bunda." 



"Terima kasih Fy, kau tidak minum?." Tanya Rio seraya menyesap coklat panasnya 



"Tidak, setelah baju mu kering aku setrika. Kau boleh pulang." Ucap Ify ketus dan langsung bangkit dari tempat Ia duduk menuju dapur. 
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger