*********
Baby For Alyssa
Sudah sejak tadi Perempuan mungil ini menenteng mapyang sejak tadi ia bawa, satu persatu kantor ia masuki guna mencari lowongan pekerjaan sepertinya dewi fortuna tidak bersahabat dengannya saay ini, tak ada satupun yang luput untuk menjadikannya pegawai.
Tetap saja ia tidak pernah menyerah walaupun ia lulusan tahun lalu dari bangku sekolah menengah atas, dari lulusan sekolah dikampungnya pula. Keluarganya tak mempunyai harta yang berlebih untuk menyekolahkan dirinya sampai ke jenjang yang yang lebih tinggi, syukur-syukur dia bisa mencicipi bangku SMA dengan tuntas berkat kegigihan orang tuanya. Ayahnya telah lama meninggal sejak ia di bangku sekolah dasar, dan saat itu hanya ibunya lah yang membanting tulang dikeluarga ia seorang anak tunggal. Sampai akhirnya saat ia dengan begitu gembiranya karena lulus dengan nilai tertinggi disekolah ia pun berlari pulang kerumah untuk memberitahu sang ibu namun na'as ia malah mendapatkan kabar buruk.
Sebuah bendera kuning terpampang jelas didepan rumahnya, seluruh tetangganya berlalu lalang mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya sang Ibu. Dengan segenap hati ia pun berlari masuk kedalam rumah tak peduli lagi akan nilai kelulusannya tersebut.
Ia belum memberitahukan kabar gembiranya, tapi bahkan ia yang mendapat kabar buruk. Sungguh, ia begitu terpuruk atas meninggalnyasang Ibu. Apalagi yang bisa ia lakukan sekarang ? Tak akan ada lagi yang memberinya penyemangat juga kasih sayang seperti hari-hari sebelumnya menemani ia disaat senang maupun sedih, tak ada lagi tempat baginya untuk berbagi.
Dan disinilah ia, merantaukekota untuk mengadu nasib yang lebih baik. Ia berharap semoga Tuhan mendengarnya dan mengabulkan segenap do'a juga permohonannya selama ini. Tinggal disebuah rumah Kost'ankecil yang sempit kost'an yang sangat kecil hanya seperti kamar tidurnya dikampung, Ia tidak menjual rumahnya dikampung tapi ia mengkontrakkannya agar adasedikit pemasukan untuknya,dan sebulan sekali ia pasti berkunjung ke kampung untuk mengambil setoranrumah kontrakkannya yang kini telah ditempati.
Ia mendesah pelan, menghapus keringatnya yang sejak tadi bercucuran seperti berlomba-lomba menuju garis finish. Ia mengedarkan arah pandangannya, ia duduk disebuah kursi taman yang tidak terlalu panjang, cukup untuk muatan 3 orang jika postur tubuhnya seperti dirinya. Taman ini sepi hanya ada 1 atau 2 orang saja itu pun hanya lewat dan sisanya sang pembersih taman. Tentu saja sepi, ini hari Aktif untuk bekerja, bekerja ? Kapania akan mendapatkan pekerjaan ? Kalau saingannya semua dari perguruan tinggi. Jangankan dirinya yang lulusan SMA untuk melamar sebagai pegawai kantoran, untuk yang dari perguruan tinggi minimal dengan gelar S1 saja masih banyak yang tidak di terima.
Sebuah kertas melayang begitu saja tepat dipangkuannya, ia menatap bingung kertas itu lalu menoleh ke kiri dan kanan takut-takut itu adalah ceceran kertas yang mungkin saja penting bagi sang pemiliknya ? Setelah ia ambil dan membacanya. Sebuah senyuman langsung mengembang dibibirnya, ia pun langsung loncat-loncat tidak jelas disana.
********
Lelaki dewasa ini sejak tadi mondar mandir diruangannya, seluruh pekerjaannya tidak sedikitpun ia kerjakan. Jangankan dikerjakan disentuh saja tidak, pikirannya berkelana entah kemana. Ia pun mengedarkan arah pandangan ke luar ruangan, ia mendesah kasar.
Tak adakah sedikit saja pikirannya itu berlalu sebentar, agar ia bisa menjalani aktivitasnya dengan lancar.
Sebuah ketukan pintu pun langsung membuyarkan lamunannya, "masuk." Ucapnya kemudia lalu kembali duduk ke kursi jabatan tingginnya.

0 komentar:
Posting Komentar