Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -
*********************
Seru tepuk tangan para penonton membuat suasana cafe ini riuh rame, lelaki yang berada diatas panggung itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman seraya membungkuk-bungkukan punggungnya yang atletis tersebut, memberi tanda bahwa ia mengucapkan terima kasih dengan bahasa nonverbal. Ia melangkah pelan keluar dari mini panggung itu, membuat para pengunjung cafe yang notebennya adalah kaum hawa yang masih beranjak remaja dan masih tergila-gilanya dengan lawan jenis yang setampan sekeren dan apalagi bisa menyanyi dengan suara yang benar-benar menggeletik batin mereka untuk mengaggumi pria tadi, ditambah lagi perawakan pria itu yang memang sangat kharismatik dan terkesan menggoda bagi mata telanjang mereka. Sekali lagi, Cafe ini terus-terusan ramai dengan pengunjung Kaum hawa namun tak menampik juga beberapa pasangan tua maupun muda sudah menjadi pelanggan setia dicafe ini. Tak pernah seharipun atau bahkan 1 jam pun cafe ini sepi pengunjung, apalagi konser kecil-kecilan yang didaulat oleh pria jangkung tadi dengan bersama sahabat sejatinya yaitu gitar klasik miliknya. "Seperti malaikat yang memainkan Harpa dengan sangat merdu." Itulah komentar gadis-gadis remaja yang tidak pernah absen mengnjungi cafe ini, sampai berjam-jampun mereka rela menunggu si Pria jangkung itu untuk berkonser dipanggung mini sana.
Yang selalu membuat mereka kecewa, Pria jangkung itu hanya memiliki jadwal manggung yang sedikit pada waktu_waktu tertentu. Seperti hari senin sampai jum'at meluangkan waktunya ke Cafe dimalam hari, dan sabtu serta minggu ia Free berdiam dicafe untuk menyambut para pengunjung yang selalu setia menunggu kehadirannya. Tak ayal, kalau pria ini telah banyak dikenal orang-orang karena ketampanan dan suara khasnya yang selalu menggelitik batin.
"Kau terlalu genit dengan mereka, menyunggingkan Senyum maut mu itu sama saja kau menarik perhatiam mereka." Gadis mungil yang ada dihadapannya ini tampak membuatnya kaget karena datang dengan tiba-tiba saat Pria jangkung itu turun dari tangga panggung mini tersebut.
"Sejak kapan kau ada disini ?." Lelaki itu berjalan begitu saja tanpa menghiraukan gadis tadi yang sekarang bertambah kesal karena kelakuan lelaki itu yang tidak merespon omongannya barusan, ia pun mengekor.
"Rio ! Aku pacar mu, bisakah sedikit saja kau menghiraukan ku." Nada gadis itu seketika meninggi, lelaki jangkung yang ia panggil dengan -Rio- tadi langsung berbalik menghadapnya, dan membuat gadis mungil yang mengekorinya itu menubruk tubuh jangkungnya yang atletis.
"Kalau aku tidak menghiraukan mu. Lalu ? Untuk apa aku menanyakan sejak kapan kau disini." Gadis itu melengos, yah Rio pria jangkung itu benar. Tapi, apakah dia tidak bisa peka sedikit kalau gadisnya ini dilanda api cemburu (?)
"Aku rasa kau sudah tidak suka dengan ku lagi."Gadis itu menunduk, membuat Rio mengernyitkan dahinya dengan lembut ia mengangkat pelan dagu tirus gadis itu pelan. Rio tersenyum, senyuman yang selalu meluluhkan gadis dihadapannya ini setiap kali ia kesal. Namun, kali ini gadis itu menepis tangan Rio dan membuang muka kearah lain.
"Tunggu disini, aku pergi sebentar." Lelaki itu langsung hilang dengan waktu beberapa detik dibalik dapur cafe, Gadis ini berdecak kesal dan sangat amat kesal. Bagaimana bisa ia ditinggal lelaki itu seenaknya padahal saat ini ia sedang marah dan kesal atas kelakuan lelaki itu yang secara tidak langsung berkali-kali membuatnya cemburu. Tidak bisakah lelaki itu memahami sedikit perasaannnya yang kini cemburu dan sakit dibagian ulu hatinya. Seketika nafasnya sesak dam pelupuk mata mulai memanas, ia pastikan air pilu itu sebentar lagi turun. Segera ia keluar dari cafe dan memasa bodohhkan perintah lelaki itu yang menyuruh ia untuk menunggunya. Seketika langit malam gelap gulita tanpa ada sinar bulan dan bintang yang berjejer lagi disana. Ia merutuki dirinya kenapa tadi tidak membawa mobil kalau tahu ceritanya bakal seperti ini. Ia terus berjalan menembus gelap malam itu dan hanya ditemani penerangan dari lampu jalan yang berada pada posisi yang berjauh-jauhan. Gadis itu menyapu-nyapu lengannya yang mulai dingin, air pilu itu masih betah bertengger dipelupuk matanya yang kini mengembung akibat menahan terus menerus air pilu itu agar tidak turun.
Sebuah tangan kokoh menahan lengan mungilnya yang mulus, ia terlonjak kaget dan langsung berbalik.
"Alvin ?." Cetusnya begitu saja saat sudah melihat siapa yang menahan lengannya. Alvin, lelaki yang mencekal tangannya hanya tersenyum penuh arti.
"Ini sudah malam, untuk apa kau keluar?."
"Aku hanya ingin mencari angin."
"Kau bohong, lihatlah mata mu. Mata mu tidak pernah bisa berbohong apalagi saat ini pelupuk mata mu mengembung dan menyimpan sesuatu disana."
"Kau sok tau alvin."
"Lebih baik kau ku antar pulang, ini sudah hampir larut malam. Dan sepertinya sebentar lagi akan hujan." Gadis itu akhirnya mengangguk dan mengikuti alvin menuju mobilnya yang tak jauh dari mereka berdiri.
**************
Lelaki jangkung ini, tak henti-hentinya mengutak atik handphone yang berulang kali ia tempelkan ditelinga. Namun nada yang sama berulang kali juga terdengar "nomor yang anda tuju sedang sibuk." Mungkin itulah isi pesan dari nada operator yang sejak tadi berucap. Ia putus asa tak ada jalan lain, ia harus pergi menemui gadisnya itu secepatnya.
Motor matic miliknya berhenti tepat didepan pagar rumah mewah gadisnya. Ia melirik sebentar kearah balkon yang memang terletak dilantai atas kamar gadis itu. Lampu kamar masih menyala dan itu tandanya gadis itu masih bangun, Rio pastikan sekarang gadis itu sangat membencinya sekarang. Entahlah langkah apalagi yang harus Rio lakukan untuk meluluhkan hati gadis itu kembali. Sebegitu parahkah kesalahan ia pada gadisnya itu sampai semarah ini (?) Separah itukah gadis yang amat ia sayang belakangan ini tak pernah ia perdulikan walau memperhatikan perkembangannya. Rio tertunduk lesu, dia memang salah sangat salah, ia mentelantarkan gadis itu seenaknya dan tak ada waktu sedikitpun untuk memperhatikan. Ia sibuk dengan kuliah dan bekerja, ia lakukan itu semata untuk masa depan ia dengan gadis itu juga bukan(?) Kalimat-kalimat lampau yang dicetuskan gadis itu kembali memutari alam pikirnya seperti roll film yang berputar. Sekarang ia baru menyadari betapa jahat dirinya tanpa sengaja mengabaikan gadis itu.
"Aku akan mundur, jika itu membuat mu tak lagi sakit karena sikap ku. Aku tak pantas menyakitimu seperti ini." Gumam Rio tersenyum miris, setelah mengetik sesuatu di hpnya dan dipastikan terkirim. Ia pun langsung menstater motor matic miliknya dan bergegas pergi.
Yah ! Gadis itu tahu, gadis itu merasa dia peka dia tahu lebih dulu sebelum lelaki yang baru saja pergi tadi pasti akan kesini. Ditambah lagi pesan singkat yang ia terima beberapa menit yang lalu. Ia sengaja menyalakan lampu kamar, dan sejak tadi ia mengintip dibalik gorden pintu rumah. Tubuhnya bergetar hebat, inilah saatnya saat yang harus ia bayar dengan meruntuhkan air pilu sekarang juga. Ia pun langsung menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa kau tak pernah peka Rio, kena kau lupa dengan janji mu. Hari ini malam ini bukan kah berjanji akan mengajakku makan malam..."
"Aku kira dengan kedatangan ku tadi, bisa membuat mu ingat kalau kau punya hutang janji padaku."
"Berapa kali Rio, berapa kali janji yang selalu kau ingkari. Aku muak dengan mu aku muak."
Gadis itu terus menangis dan menangs namun entah beberapa kali ia selingi dengan kata-kata yang selama ini ia pendam. Ia ungkapkan saja seluruhnya disana seperti sedang berbicara dengan orang yang ia maksud secara langsung. Ia tahu walaupun dengan cara ini ia tidak bisa seluruhnya membuat ia lega, namun setidaknya ia bisa sedikit mengurangi sakit itu. Beberapa lama kemudian ia pun akhirnya tertidur mungkin akibat kelelahan, yah lelah . Lelah hati....
************
Lelaki itu memasuki rumah kontrakkan sederhananya, ia pun meneguk air minum yang baru saja ia ambil dari kulkas dan pergi kekamar untuk beristirahat sejenak. tak beberapa lama ingin memejamkan mata ia pun refleks mengambil handphonenya yang saat itu berdering. Harapan yang ia kira bahwa gadisnya yang menelpon hanya sebatas harapan dan tidak akan terjadi, gadis itu benar-benar marah dan tak mungkin menelpon duluan. Ia membuang muka saat tahu siapa yg menelpon, sekian menit ia Pasrah dan mengangkatnya.
"Ya... Halo."
"..................................."
"Maaf tidak bisa."
"..................................."
"Aku bilang tidak bisa, aku sudah bahagia disini."
"..................................."
"Beri aku waktu."
"..................................."
"Ck! Jangan memanfaatkan jika semua ini tidak benar."
"..................................."
"Mama...."
"..................................."
"Baiklah besok aku akan urus semua."
"..................................."
"Ini hanya karena mama ku, bukan karena aku menuruti permintaan bodoh mu." Klek.
Ia pun bergegas menuju lemari pakaian dan memasukkan semua pakaian dikoper setelah itu ia pun langsung menuju keluar rumah dan sebelumnya ia meninggalkan amplop besar entah apa isinya. Setelah memastikan semua sudah siap ia pun segera melajukan motor matic miliknya dan langsung pergi ketempat yang ia tuju.

0 komentar:
Posting Komentar