Home » » TEMU ( Part 5 )

TEMU ( Part 5 )


Author : Frisca Ardayani
Genre : -
Stars : -


********************


Ify sedang menjemur pakaiannya, untung hari ini ia libur. Dengan begitu ia bisa membersihkan seluruh ruangan dirumah kontrakannya yang sederhana itu, Ify sudah bangun sejak kumandan Adzan dan ia pun sholat beberapa menit. Awalnya ia ingin membangunkan Sadit untuk sholat juga, tapi melihat anak itu tidurnya sangat pulas Ify jadi tak tega. Sang Fajar mulai terbit, Ify masih menggantungkan pakaian-pakaiannya dan Sadit dibelakang Rumah. Lumayan banyak, mengingat Ia tidak mencuci pakaian Selama 3 hari karena begitu sibuk. Ify mendengar Sadit yang memanggil-manggilnya didalam rumah.... 



"Bunda dibelakang Dit." Teriak Ify yang masih sibuk, tak beberapa lama terdengar suara tapak kaki yang menghampirinya. Ify menoleh dan Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang kini berada dibelakangnya. Wajah Ify berubah masam... 



"Mau apa kau pagi-pagi sekali berkunjung." Ucap Ify dan kembali kegiatannya semula, Sadit malahan menidurkan kepalanya dipundak lelaki itu dan ternyata Rio. Sadit memejamkan matanya digendongan Rio. 



"aku ingin minta tolong, tapi.... Kalau kau sibuk tidak apa-apa." Ucap Rio, Ify menoleh dan melihat dengan kaget telapak tangan Rio yang berlumuran darah. 



"Rioo !!!." Ify menjerit dan langsung bingung, ia pun seketika menarik tangan Rio dan membiarkan jemurannya yang belum habis ia gantung begitu saja. Rio tersenyum senang melihat ke khawatiran Ify, masih sama. 


Ify menyuruh Rio untuk duduk di sofa, sedangkan Ia mengambil kompresan dan kotak P3K yang selalu siap sedia dirumah. Ify dengan telaten membersihkan telapak tangan Rio yang berlumur darah itu dengan kapas yang ia beri air. Lalu membalutnya dengan perban yang didalamnya kapas, Ify berdecak kesal saat mengetahui luka ditelapak tangan Rio itu begitu panjang sekali tapi untunglah tidak sampai kekulit dalam atau membahayakan. Rio terus memperhatikan Ify yang sibuk dengan telapak tangannya yang kini hampir sempurna dibalut. Rio sengaja melukai telapak tangannya agar bisa kerumah Ify dengan alasan untuk diperban mengingat Ify seorang perawat, dan rencananya berhasil walau mendapat kata-kata kasar Ify. 



"Sudah." Ucap Ify dan mengejutkan Rio, Sadit masih betah tidur dipundaknya. 



"Lebih baik kau pulang dan bekerja." Lanjut Ify, Rio menggeleng. 



"Kau lupa hari ini hari libur ?." Ucap Rio kemudian yang geli melihat aksi pelongo Ify. 



"Dan aku tidak tega membangunkan anak ku." Ucapan Rio barusan membuat Ify menatap tajam kearahnya. 



"Kau ! Tidak berhak mengatakan itu. Sadit tak punya Ayah sejak ia lahir !!." Ucap Ify tajam, Rio menunduk dan tetap menjaga Sadit yang tidur. 



"Fy, Aku kembali untuk....," 



"Stop Rio !! Aku sudah ......," seketika jari Rio menutup mulut Ify, hingga perempuan itu terdiam seketika. Rio beranjak dan masuk kekamar Sadit dan menidurkannya disana. Rio kembali ditempat semula dimana Ify berada. 




"Maafkan aku yang pergi meninggalkan mu dan Sadit yang masih kau kandung. Maafkan aku meninggalkan mu begitu saja dicafe padahal ku tahu kau kesal pada ku. Maafkan aku telah membuat mu diusir oleh kedua orang tua mu karena aku. Maafkan aku yang berkhianat malahan kembali ke keluarga ku diluar negeri. Maafkan aku Ify Maaf kan aku." Rio langsung berlutut dihadapan Ify, Ify membuang muka tak ingin melihat Rio. Karena saat ini sulit sekali baginya untuk menahan tangis yang mulai membendung dipulupuk matanya. 



"Aku punya alasan untuk semua, tapi aku tahu, aku tahu sulit untuk mu memaafkannya....," Ify Masih bergeming, membiarkan Rio menjelaskan. Karena inilah yang ditunggu-tunggu Ify sejak dulu. Inilah yang selalu membuat sesak jika mengingat masa lalunya dan jika melihat wajah Sadit yang begitu mirip dengannya. 



"Saat dicafe itu, aku tahu kau marah aku tahu kau kesal dan cemburu sekali pun. Tapi aku dengan seenaknya menyuruh mu menunggu sedangkan aku pergi, aku ingin meminta izin kepada bos ku untuk mengambil jam pulang cepat agar bisa menemui mu dan menepati janji ku untuk makan malam. Disitu aku sudah menyiapkan sesuatu, sesuatu yang aku impikan. Menikahi mu......," 



"Tapi, ketika aku balik. Aku tidak menemukan mu. Aku khawatir dan berulang kali menelpon mu hasilnya tetap sama nihil Fy. Aku langsung melesat kerumah mu, berharap kau telah sampai dirumah walaupun dengan perasaan yang benci padaku, disitu aku sudah pasrah dan putus Asa bagaimana lagi caranya menjelaskan semua pada mu. Sedangkan kau tak ingin sekali mengangkat telepon ku, maka dari itu aku mengirim pesan singkat kepadamu sebagai pancingan agar kau membalasnya dan menyuruh ku menelpon. Aku tidak bersungguh-sungguh untuk meninggalkan mu, seperti apa pesan yang ku kirim pada mu saat itu." 




"Aku pulang dan menunggu mu merespon tapi tetap tak ada, hingga akhirnya ayah tiri ku menyuruhku pulang dengan alasan mama ku yang sakit diluar negeri. Mama sakit setelah aku meninggalkan rumah dan memilih bersama mu Fy, tapi saat mendengar suara mama yang begitu memprihatinkan membuat aku terluka. Tak banyak pikiran lagi aku langsung menuju airport dan lupa akan semuanya, aku ingin menghubungi mu kembali tapi apa ? Handphone ku tertinggal dirumah kontrakan ku. Aku kalut, aku baru sadar bahwa aku telah melupakan masalah ku dengan mu begitu saja.....," 




"Setelah sampai dirumah mama...," Rio memandang kearah lain, memejamkan matanya. 



"Mama telah meninggal, seluruh harta warisannya dan semua perusahaan atas nama ku. Jika aku tidak menandatangani surat wasiat itu, maka seluruh harta mama jatuh dengan percuma kepada lelaki brengsek itu. Aku pun mulai bersosialisasi dan belajar untuk mengembangkan kembali perusahaan mama dan ternyata membuahkan hasil." 




"Semua itu tidak penting bagiku, yang selalu menghantuiku adalah kamu dan calon anak kita. Aku sempat menelpon kerumahmu, dan kata pembantu mu kau sudah diusir karena aib keluarga, disitu aku benar-benar bersalah, aku benar-benar kelewatan telah meninggalkan kalian begitu saja. Tapi aku tidak bermaksud sedikitpun Fy. Tidak....," tanpa terasa ia menjatuhkan airmatanya begitu saja, begitu juga dengan Ify, dia benar-benar syock. Dia benar-benar tidak menyangka tapi hati dan egonya saling berlawanan dan taka ada yang mau mengalah satu sama lain. 




"Kau bohong Rio !! Kau bohong, keluar kau dari rumahku !!," Ify benar tidak bisa mengontrol emosinya lagi, dia pun mendorong-dorong Rio agar keluar dari rumahnya. Secepatnya ia pun mengunci pintu dan terduduk lemas dibalik pintu yang terus-terusan digedor oleh Rio. Tangis Ify benar-benar pecah, ia tidak bisa berpikir dengan baik. Semuanya bercampur jadi satu. yah semuanya....... 




"Aku begitu menyayangi mu Ify, sejak dulu, saat ini dan seterusnya. Aku tidak ingin kehilangan kalian lagi. Ku mohon maafkan aku." Rio terus menggedor-gedor pintu rumah Ify seperti orang kesetanan 



"Dengan cara seperti apa lagi aku menjelaskannya ?." Sambung Rio 


Ify masih terus menangis, ia tidak bisa menolak keinginanya untuk memeluk Rio saat itu juga. Tapi apa daya akal pikirnya benar-benar tidak bersahabat terus mencerca bahwa yang dikatakan Rio hanya omong kosong, hati kecilnya lagi-lagi berseru untuk percaya apa yang dikatakan Rio tadi benar tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan. 



"Aku juga sangat menyayangi mu Rio." Lirih Ify disela-sela tangisnya 




***************** 



Sejak kejadian 3 hari yg lalu sampai saat ini Rio sama sekali tak bertemu dengan Ify, dan Rio mengira bahwa Ify sekarang menjauhinya. Dan ternyata benar dia memang menjauhi dirinyatak memberika kesempatan sedikitpun untukRio berbicara atau sekedar melihat buah hati mereka yaitu Sadit. 


" Aku dengar, ada yang sering bertamu dirumah mu selama aku ke luar negeri. Benarkah ?." Suara dingin Alvin langsung menhambur begitu saja, membuat Perempuan dihadapannya ini menghentikan kesibukannya mengunyah makanan. "Dan ternyata Tamu itu adalah mantan kekasih mu, Mario ?." Lanjut Alvin 



"Ku rasa masih banyak bahasan lain selain ini." Ify menanggapi dengansantai seraya meminum minuman yang baru saja ia pesan. Alvin menatap tajam kearah Ify, lalu melepas kasar sendok dan garpu yang ia pegang. Ify seolah-olah tidak melihat atau bahkan mendengar itu padahal saat ini dia benar-benar cemas dan ketakutan. Karena ia tahu bahwa Alvin tak suka, ditambah lagi pengalaman masa lalu dahulu diantara mereka bertiga. 



"Ck. Aku tak akan melepaskan mu lagi, setelah apa yang dia lakukan pada mu dulu." Alvin menghela nafas berat. "Dan jangan kau pikir, aku akan melepaskan mu. Karena Kau... sudah milik ku!." Lanjut Alvin tegas, Ify hanya bisa meneguk air liurnya, tak bisa berucap sepatah kata pun. 



"2 minggu lagi waktu mu, persiapkan semuanya.aku tidak akan menunda-nundanya lagi," Alvin pun langsung beranjak, Ify membisu lalu mendongak melihat alvin yang ingin beranjak. Mengerti akan isyarat mata gadis itu,"Aku pamit untuk Ke toilet sebentar." Alvin lalu menggenggam tangan Ify lembut begitu pun tatapan matanya. " Aku hanya ingin yg terbaik untuk mu, cukup sudah ku melihat kau menderita. Tak ada penolakan lagi yang sekalipun ingin ku dengar dari mulut mu." Alvin pun langsung berlalu. 





********* 



Hari ini adalah hari dimana semua anak - anak yang duduk dibangku TK Al-Izhar akan diadakan salam perpisahan, salam perpisahan yang berarti semua anak-anak disana untuk terakhir kalinya bertemu dengan seluruh teman-temannya dan guru-guru yang selalu mereka panggil dengan bunda. Begitu pun dengan Sadit yang kini tengah menggunakan seragam polisi lengkap, ini dikarenakan seluruh anak-anak TK tersebut didaulatkan untuk menggunakan pakaian yang sesuai dengan cita-cita masing-masing. Ify begitu kewalahan menghadapi Sadit yang tidak mau diam sedikit pun saat Ify akan memakaikan beberapa pernak-pernik ala Polisi sebenarnya. Yah ! Sadit memang ingin bercita-cita sebagai Polisi maka dari itu ia menggunakan seragam tersebut. 



"Sadit, bisakah kau diam sebentar ? Akan lama kita datang kalau kau terus bergerak." Omel Ify, dan malahan Sadit tambah menggoyang-goyangkan pinggulnya, membuat Ify. Yang ingin kembali marah malahan tertawa geli melihat buah hatinya yang lucu itu. 


"Apa lagi yang kau lakukan ? Dasar anak nakal," Ify menyentil hidung Sadit dan dibalas sebuah kecupan oleh Sadit. Ify terdiam, ini (?) Untuk kesekian kalinya hal yang pernah ia alami. Saat itu Ify juga tengah kesal dan marah seketika Ify tersenyum geli melihat seseorang masa lalunyaitu berbuat konyol dan malahan dihadiahi sebuah kecupan. De Javu (?). Ify kembali ke alam sadarnya saat mendengar suara ketukan pintu. Ify mengikuti Sadit yang jalan duluan kearah pintu dan siap-siap untuk membukanya. Ify tahu itu. Alvin, karena Alvin memaksa ikut untuk menghadiri acara Sadit disekolah sebagai ayahnya. 



Tubuh Ify menegang seketika, senyum itu langsung melambung kearah Ify tanpa ampun. 
"Hay Fy, Hay Sadit." Ify masih menatapnya takjub, lelaki ini sama sekali tak lelah. "Kau bisa pulang sekarang, karena aku tak punya banyak waktu. Ayo Sadit." Cepat saja Ify menggenggam tangan Sadit yang saat itu hampir akan digendong Rio. 



"Aku tahu hari ini Sadit Salam perpisahan disekolah bukan ? Aku kesini ingin ikut acara itu karena aku ayahnya..,". Rio merutuki ucapannya saat melihat mata tajam Ify. "Oh maaf maksud ku, untuk datang sebagai ...," 



"Tidak perlu, karena yang akan datang." Suara berat lelaki bermata sipit dengan setelan jas yang menyelimuti tubuh atletisnya begitu mempesona. 



"Kau.... Alvin ?." Ucap Rio terkejut 



"Yah aku Alvin, kau kaget ? Syukurlah, ku peringatkan untuk mu yang pertama dan terakhir kali. Jangan pernah mengganggu Ify ataupun Sadit. Mengerti ?!." Tatapan tajam Alvin tepat masuk kedalam manik mata Rio yang membalasnya. Dengan bingung dan tak percaya. 


"Kau...," Alvin berjalan mendekat diantara Rio dan Ify, lalu menggendong Sadit yang saat itu hanya diam memperhatikan bahasan orang dewasa dihadapannya dengan tatapan tak mengerti. 



"Orang pertama yang akan ku kirimkan surat Undangan ku bersama Ify. Ayo Fy," Alvin langsung menggandeng tangan Ify. Mereka pun menuju langsung kearah mobil Alvin. Sedangkan Rio (?). Entahlah.. Hatinya benar-benar hancur sekarang, entah bagaimana lagi ia harus memperjuangkannya sekarang. Rasa ingin menghajar Alvin habis-habisan terlintas diotaknya, cepat atau lambat Ify dan Sadit akan dimilikinya. Tidak ! Semuanya tidak akan pernah terjadi, Ify dan Sadit tetap milik Rio. Tak ada satu pun yang bisa merebutnya, Rio mengacak rambutnya asal, Frustasi ! Kembali ia mengingat Alvin sesosok Alvin yang tak pernah main-main dengan kata-katanya dan hanya memberikan kesempatan 1 kali ! Tak akan ada banyak kesempatan, dan dahulu yang Rio lakukan sebuah kesempatan yang ia hambur - hamburkan begitu saja. Tak mengerti kah mereka bahwa yang Rio lakukan dulu benar-benar diluar kendali... 


"Sama seperti Alvin, aku tak akan melepaskan mu. Bagaimana pun taktik Alvin nantinya." 
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Frisca Ardayani Book's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger